Masjid Tiban Turen, masjid dengan pesona mistis


Huah….. setelah sebulan lebih terkurung di rumah akhirnya bisa keluar juga. Aku dan keluargaku berencana mengunjungi Masjid Tiban di daerah Malang. Pertama dengar namanya aneh banget, ga cool, dan berbagai statement negatif lain yang muncul. Dengan agak terpaksa akhirnya aku ikut juga daripada nonton sinetron di rumah.

Kami berangkat naik mobil sekitar jam 7 pagi dari Pasuruan dengan ditemani panas mentari yang menyengat sampai AC mobil belum mampu mengusir hawa panas ini. Perjalanan Pasuruan-Purwodadi seperti biasa cukup lancar sampai pada daerah Lawang yang  jalannya menanjak. Truk-truk berat mulai merayap perlahan yang menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.huh…benar-benar perjalanan yang membosankan. Sudah panas, macet lagi. Menurutku memang sudah seharusnya pemerintah pusat membangun jalan tol Pasuruan-Malang agar kemacetan gara-gara “truk tambun” dapat dicegah (ngarepnya….) jangan hanya mengurusi lumpur lapindo yang tidak akan selesai sampai 32 tahun lagi….

Setelah sampai di Singosari akhirnya lancar juga. Perjalanan yang mulus Singosari-Turen ditambah hawa dingin perbukitan mulai mengurangi bad mood-ku. Turen adalah sebuah ibukota kecamatan di kawasan Kabupaten Malang di bagian selatan. kota kecil ini terkenal dengan adanya pabrik pembuatan senjata Made in Indonesia, PT Pindad. Kompleks industri PT Pindad yang megah dan kokoh sangat mencolok bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan khas desa yang berada di sekelilingnya yang biasa-biasa saja. Sekitar 1,5 jam lebih perjalanan menuju desa Sananrejo, tempat keberadaan masjid misterius itu (perjalanan mobil ditambah nanya orang-orang ditambah kesasar).

Orang-orang di sekitar desa Sananrejo menamakan masjid tersebut dengan nama Masjid Tiban yang artinya masjid yang muncul dengan sendirinya. Banyak cerita-cerita ganjil yang menyertainya selain cerita tiban-nya seperti masjid yang dibangun oleh jin untuk dijadikan istana, orang-orang yang tidak akan menemukan masjid ini bila orang tersebut mempunyai niat untuk memperoleh pesugihan, sampai cerita ada orang yang meninggal di dalamnya karena karena tidak tahu jalan untuk keluar. Cerita-cerita tersebut mulai membuatku penasaran seperti apa rupa “Masjid Tiban” tersebut. Tempat masjid ini harus ditempuh lagi beberapa menit melewati jalan desa yang cukup mulus. Ketika mendekati lokasi masjid, mulai tampak jajaran bus yang sedang parkir di samping jalan serta puluhan jamaah yang akan  dan telah mengunjungi masjid tersebut. Kata ibuku, rombongan jamaah yang melakukan perjalanan ke Wali Limo biasanya mengunjungi masjid ini sebagai salah satu agenda perjalanan. Parkir mobil berada di dalam kompleks masjid dengan rute yang cukup membingungkan.

Finally, sampai juga di Masjid Tiban. Pertama melihatnya memang benar-benar aneh. Bangunannya lebih mirip istana dengan campuran arsitektur Arab, Cina, dan Jawa (Awesome….). Untuk masuk kesini diharuskan melepaskan sandal atau sepatu dulu. Aura mistis mulai terlihat saat memasukinya. Baru beberapa langkah dari pintu masuk sudah benar-benar gelap dengan lampu warna-warni yang temaram. Di lantai 1 terdapat beberapa koleksi ikan di dalam akuarium yang menjadi dinding masjid ini (ini masjid apa kebun binatang ya??), kamar-kamar, aula dengan ornament yang aneh, dan gazebo. Pintunya cukup banyak sehingga membingungkanku. Sambil pura-pura melihat ornament-ornamen di dinding, aku mendengarkan cerita guide yang memimpin sebuah rombongan. Rupanya tempat yang dikunjungi ini adalah pondokan untuk santri Ponpes Salafiyyah. Makanya aku heran kenapa tidak ada yang sholat disini. Jadi banyak orang yang salah menafsirkannya sebagai masjid, termasuk aku (mulai batasan ini Masjid Tiban diganti dengan Pondokan Ponpes Salafiyyah. Hhe…). Pondokan ini dinamakan Bi Ba’a Fadlrah yang merupakan singkatan dari Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahma, yang artinya Lautnya  laut, madunya Fadhaal Rahmat. Pondokan ini dibangun oleh Romo Kyai Ahmad pada tahun 1980-an. Pondokan ini memang awalnya dibangun untuk musholla tapi kemudian diganti untuk pondokan para santri. Dengan mengikuti rombongan di depan akhirnya bisa ke lantai-lantai diatasnya meski dengan beberapa kali berputar ke tempat yang sama. Jumlah lantai pada bangunan ini mencapai 10 lantai dengan fasilitas 1 lift. Tangga-tangga menuju ke lantai atas cukup sulit ditemukan kecuali setelah lantai 8. Ruangan-ruangan secara keseluruhan mempunyai tinggi antara 1,5-3,5 m dan pada beberapa lantai terdapat atrium. Yang hebat dari pondokan ini adalah tidak ada ruangan dengan bentuk dan ornament yang sama pada tiap lantainya. Pada beberapa tempat temanya adalah istana seperti yang biasa aku lihat di sinetron-sinetron siluman di Indosiar, ada tema hutan dengan tiang-tiang yang dibentuk seperti kayu lengkap dengan daun-daun plastic, ada tema istana Nabi Sulaiman dengan tapak-tapak batu di atas air seperti salah satu tantangan di Benteng Takeshi lengkap dengan ornament batu-batu besar buatan, dan tema-tema lainnya yang cukup unik. Sayang pondokan pada beberapa tempat masih dalam tahap pembangunan dan aku tidak bisa membayangkan kemegahannya bila telah selesai nanti.

Setelah puas berkeliling  dan foto-foto, kami sekeluarga langsung menuju parkiran mobil. Ketika akan keluar menuju gerbang, mobil kami diberhentikan oleh petugas gerbang yang menanyakan surat keluar kompleks ponpes.  Rupanya untuk kendaraan yang masuk diharuskan mengambil surat keluar yang berada pada salah satu pintu masuk pondok. Karena ingin cepat-cepat pulang, maka kami memberikan sejumlah uang agar bisa langsung keluar a.k.a menyogok. Petugas gerbang tidak mau menerima uang yang kami sodorkan dan mengatakan takut pada Allah dan prosedur Pondok Pesantren Salafiyah memang harus begitu. Dalam hati aku kagum pada petugas gerbang itu. Kalau saja semua orang Indonesia seperti itu, pasti negara tercinta ini bisa jadi sebuah negara maju. Akhirnya mobil kami balik lagi ke tempat pengambilan surat keluar yang tidak mengharuskan memberikan sumbangan. Setelah mendapatkan surat keluar, mobil kami bisa melenggang bebas dari kompleks bangunan mistis tersebut untuk kembali ke rumah tercinta.

Tips:

- bawa kantong plastik/ tas kresek untuk menyimpan sandal/sepatu yang Anda pakai

- bawa persediaan air minum. kalau tidak membawa terdapat kios makanan pada lantai 8

- jika takut tersesat, ikuti rombongan yang dipimpin oleh guide ponpes. selain tidak tersesat, juga mendapatkan informasi seputar Pondok Pesantren Salafiyyah ini. hhe

- jika suka dunia fotografi, wajib membawa kamera dengan tambahan lampu flash

- jika merasa capek, Anda bisa naik lift yang telah disediakan

10 thoughts on “Masjid Tiban Turen, masjid dengan pesona mistis

  1. whaa, kalo dirumahku adanya rumah tiban…tapi cerita yang kutau asal usulnya, rumah itu tiba2 jatoh aja dari atas..bloqnya diupdate lagi boy :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s