Lost In Bandung


Bulan November memang sangat menyenangkan. Meskipun jadwal kuliah mulai padet-padetnya n tugas yang menumpuk tapi masih bisa jalan-jalan. Dengan rencana yang cukup matang dan telah diramu di bulan September, akhirnya menetapkan tanggal 8 november untuk wisata ke waduk Jatiluhur. Hari H telah tiba. Tapi perasaanku mulai ga enak mulai bangun pagi. Dan benar saja semua rencana yang telah disusun menjadi berantakan. Dimulai dari jam berangkat yang molor. Sebelumnya direncanakan harus sampai di terminal Blok M jam 7.00 akhirnya molor sampe jam 7.30 padahal direncanakan naik Kereta Parahyangan jam 8.30 di Stasiun Gambir ;-(. Kesialan ini ditambah lagi lamanya perjalanan busway koridor blok M-Kota gara-gara demo mendukung KPK di bundaran HI dan demo memprotes penyerbuan Masjid Al Aqsa di persimpangan Bank Indonesia. Dengan asumsi lamanya perjalanan bila harus transit di halte Harmony yang kemudian dilanjutkan ke halte Gambir, maka kami turun di halte Bank Indonesia dan jalan kaki menuju Stasiun Gambir. Dengan semangat juang 45 akhirnya kami sampai di Stasiun Gambir jam 8.25 dan langsung menuju Aula Pembelian Tiket Langsung. Rupanya kesialan ini bertambah lagi. Loket Kereta Api Parahyangan jam 8.30 sudah ditutup dan loket hanya menerima pembelian Kereta Api Parahyangan jam 10.30 yang parahnya lagi kereta tersebut tidak berhenti di Stasiun Purwakarta (gedubrak!!!). kami berunding untuk memutuskan apakah masih tetap pengen menuju Purwakarta, jalan-jalan di sekitar Jakarta, atau pulang dengan tangan hampa tanpa pengalaman. Dengan aklamasi (padahal yg ikut cuma 3 orang termasuk aku) akhirnya diputuskan tetap menuju Purwakarta dengan Parahyangan jm 10.30, dengan plan B menuju Bandung. Untuk mengisi waktu yang kosong, kami jalan-jalan dulu menuju Monas….

Jam 10.30 kami langsung menuju kereta api Parahyangan di jalur 2. Menurut informasi yang didapat (kayak intel aja LOL) kereta ini berhenti di stasiun Jatinegara, Bekasi, Cikampek, dan terakhir di Stasiun Hall Bandung. Dengan optimisme yang sangat tinggi, kami yakin kereta api ini juga berhenti di Stasiun Purwakarta. Waktu terus berjalan dan kereta api melaju dengan cepat melewati Cibungur, Bungurasih, Wanasari, dan… Purwakarta… Akhirnya rencana wisata ke Waduk Jatiluhur gagal total dan terpaksa harus menjalankan plan B.

Jam 13.50 kami sampai di Stasiun Hall Bandung. Tujuan pertama adalah Dago, yang menurut berbagai sumber hasil googling merupakan pusat wisata kuliner di bumi priangan ini. Kami ke sana dengan naik angkot hijau rute St. Hall-Dago dan berhenti di Simpang Dago. Setelah mempilah-pilih warung dan rekomendasi teman di Bandung akhirnya kami memilih menu Nasi Bakar Spesial di salah satu warung dengan harga yang terbilang murah menurut kantong mahasiswa. Santapan ini sangat cocok dengan suasana bandung yang dingin. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Gedung Sate dan Monumen Perjuangan dengan angkot putih rute Dago-Riung Bandung. Setelah puas berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Bandung dengan angkot hijau untuk menunaikan shalat dan beristirahat sejenak. Jam 6.40 melanjutkan jalan-jalan malam ke Jalan Braga. Ga terasa malam udah semakin larut dan kami makin kalut karena ga tahu pulang ke Jakarta naik apa. Dengan bertanya pada hampir tiap orang di jalan, kami mendapat informasi bahwa ada bus Damri menuju Terminal Leuwipanjang. Seperti orang hilang, kami menunggu di dekat Kantor Pusat KAI dan hampir saja naik bis yang salah (mulai error). Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bus Damri AC datang dan membawa kami ke terminal. Sesampainya di terminal, kami naik bus dengan tujuan akhir Lebak Bulus. Perjalanan ini begitu mengesankan…

Biaya:

Terminal Blok M-Gambir: Busway Koridor I= Rp 3500

Stasiun Gambir-Stasiun Hall: Kereta Api Parahyangan Kelas Bisnis= Rp 30.000

Stasiun Hall-Simpang Dago: Angkot Hijau= Rp 2500

Simpang Dago-Gedung Sate: Angkot Putih= Rp 2000

Gedung Sate-Masjid Raya Bandung: Angkot Hijau=Rp 2500

Jln Perintis Kemerdekaan-Terminal Leuwipanjang: Bus DAMRI AC= Rp 3000

Terminal Leuwipanjang-Lebak Bulus: Bus Primajasa AC Eksekutif= Rp 50000

9 thoughts on “Lost In Bandung

  1. lo jalan2 ke jember,mampir ya…….nanti tak kasih ma’em,,,,,,biar hemat biaya,,,,

  2. nasib ngluyurmu lebih baik… tanpa harus kedinginan tidur di pelataran masjid agung Bandung seperti kami…

    • ini yang season 2 n cuman jalan2 1 hari
      yang parah ya yg maret lalu sampe ngejar2 kereta segala

      tp q jg pernah kedinginan waktu tidur d luar masjid attawun puncak kok

    • setau ane juga pake bus damri. ngetemnya ga lama kok daripada ngetemnya metromini. hehehe
      klo dari stasiun bandung/hall, bisa pake angkot biru-ijo🙂

  3. lagi gooling rute mau ke alun” bandung, ketemu blog ini..
    mau tanya gan, kalow dari bekasi ke alun” bandung naik bis apa & rute’nya gimana yahh…??
    mau berburu uang kuno…

    • saya sebenernya bkn org bandung, tp saya coba jawab seingatnya. klo naik kereta n turun di stasiun bandung, tinggal jalan kaki aja lumayan deket. klo naik bus n turun di leuwipanjang bisa naik bus damri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s