Welcome to Lampung, Bumi Ruwai Jurai


Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak mampu menjadi mampu. Tidak terbayang aku telah menapakkan kakiku di pulau Sumatera tepatnya di provinsi Lampung. Gerbang selatan Sumatera yang terkenal dengan ladanya.

Sebenarnya sudah mulai dulu ingin ke Sumatera. Namun keinginan semakin kuat setelah salah satu teman telah kesana ditambah bosan dengan objek-objek wisata di sekitaran Jakarta.  Setelah berdiskusi tentang tempat yang akan dikunjungi dengan kedua teman backpaking-ku, maka ditentukanlah waktu menuju kesana dan barang-barang yang akan dibawa.

Kami berkumpul terlebih dahulu di warung dekat kampus untuk membeli makan malam yang direncanakan akan dimakan di pelabuhan merak. Dengan menggunakan angkot sebanyak dua kali dan bus, kami menuju pelabuhan merak. Di pelabuhan merak, kita makan nasi bungkus dengan pemandangan malam pelabuhan yang menakjubkan. Setelah selesai makan dan sholat isya, kami membeli e-tiket ferry. Kami naik ferry yang berangkat pukul 1 dini hari dan naik di kelas eksekutif agar bisa tidur malam dengan nyaman J. Petugas akan meminta charge tambahan bila memilih d kelas eksekutif. Ruangan di kelas ini seperti lobby hotel dengan sofa sebagai tempat duduknya (tempat tidur bagiku. Hhe) dan fasilitas-fasilitas tambahan lainnya. Selain itu banyak petugas yang bertugas disini sehingga lumayan aman meskipun masih harus waspada. Tiga jam perjalanan ditempuh dari merak ke bakauheni.

Di pelabuhan bakauheni sudah banyak sopir untuk menawarkan jasanya dengan sedikit memaksa (malah beberapa ada yang memaksa dengan menarik-narik tangan. Grrrr….). untuk perjalanan ke terminal Rajabasa, kami memilih naik bus AC dengan pertimbangan melanjutkan tidur yang tertunda. Hehehe. Sebenarnya keinginan tidur sangat kuat, namun melihat pegunungan dengan latar belakang laut yang sangat mempesona ditambah terpaan sinar matahari pagi membuat aku terjaga dari tidurku. Subhanallah…. walaupun akhirnya aku menyerah juga. Perjalanan yang kami tempuh sampai di terminal Rajabasa adalah tiga jam. Setelah mandi dan sarapan nasi padang, kami mencari angkot yang mau membawa kami ke pantai mutun. Berhubung  ga ada yang pintar menawar, maka kami mendapat harga yang lumayan mahal (hiks… T.T) tapi tidak apa-apalah yang penting bisa ke tujuan utama kami di Bumi Ruwai Jurai. Jalan menuju pantai mutun cukup jelek. Tidak ada papan petunjuk menuju pantai ditambah lagi jalan yang sempit.

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil

Untuk masuk ke sini tidak dikenakan tiket masuk, hanya tiket perkir kendaraan saja. Pantainya ga bagus-bagus amat, kotor, kalau mau pakai balai-balai harus sewa, plus sampai disana jam 11, fyuh… panasnya minta ampun.  Di pantai ini juga terdapat waterboomnya (tapi ga sempat kesana karena diburu waktu). Kemudian kami menuju pulau Tangkil yang terlihat dari pantai dengan menyewa perahu. Perjalanan dari pantai mutun ke pulau tangkil kira-kira 10 menitan. Sesampainya di sini, kami disambut dengan baliho besar bertulis Tangkil Resort Alami (nama yang bener-bener aneh O.o). pantainya beda dengan pantai mutun. Air lautnya sangat bening sampai bisa ngliat dasar laut. Selain itu, disini juga lumayan teduh karena banyak pohon. Fasilitas yang dimiliki pulau ini ada penginapan, kamar bilas, banana boat, kano, dan ATV. Pulaunya kumuh, banyak sampah dan batu berserakan, dan yang paling ngeri banyak anjing yang berkeliaran. Kami aja ngemil siang sambil nangkring di atas pohon meskipun anjing-anjingnya kelihatan jinak. Setelah puas main-main air dan foto-foto, kami bergegas kembali ke pantai mutun dan segera menuju kota untuk kembali ke Jakarta.

Kota Bandarlampung

Setelah 1 jam perjalanan dari pantai mutun, kami turun di stasiun TanjungKarang untuk melihat kereta api namun rupanya stasiun sudah tutup, jadi kami hunting oleh-oleh. Kami menemukan toko yang menjual makanan khas lampung yang cukup ramai di dekat stasiun (lupa nama tokonya). Aku membeli kerupuk emplang beberapa bungkus yang harganya bervariasi mulai Rp 1500 sampai Rp 8000 per bungkus dan sambal goreng lampung yang harganya Rp 25000 per bungkus. Kemudian kami mengunjungi bundaran gajah dengan berjalan kaki dan dilanjutkan naik bus kota yang sangat nyaman (mengingatkanku pada bus transjakarta koridor 1 tapi dengan kain penutup berwarna biru tua) menuju terminal Rajabasa. Di terminal Rajabasa, kami naik bus menuju Pelabuhan Bakauheni. Jam 8 malam kami sampai di bakauheni dan baru sadar bahwa ikon provinsi lampung belum kami kunjungi. Setelah sholat dan makan nasi padang (lagi), kami menunggu esok pagi dengan cerita-cerita geje (sampe berbusa mulut).   

Menara Siger

Sebenarnya jam 5.30 Menara Siger belum buka. Namun setelah berbicara baik-baik dengan satpam Menara Siger, akhirnya kami diperbolehkan masuk. untuk sampai di menara yang berada di atas bukit ini dapat menggunakan ojek, tapi berhubung uang sudah menipis jadinya kami jalan kaki. Fyuh… menara 6 lantai ini memiliki bentuk seperti topi adat mempelai wanita Lampung dengan dominasi warna kuning dan merah.  Dari pelataran menara yang memiliki tinggi total 32 meter ini, kami bisa menyaksikan sunrise dengan pemandangan aktivitas pelabuhan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. benar-benar speechless… di pelataran juga terdapat tugu krakatau. Menara Siger dipenuhi ornamen-ornamen khas Lampung seperti yang terlihat di tiang. Setelah puas menikmati keindahan di sekeliling menara dan berfoto-foto, kami balik menuju pelabuhan Bakauheni untuk kembali ke pulau Jawa.

2 thoughts on “Welcome to Lampung, Bumi Ruwai Jurai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s