Tangerang: Malu Tanya, Benar-Benar Sesat di Jalan


Seperti biasa, klo habis ada quiz, saya melakukan ritual jalan-jalan ke mall. Berhubung mall yang dekat udah pernah semua, saya akhirnya memilih menuju ke kota tua yang sering dipakai buat syuting FTV atau video klip. SMS ke beberapa teman, rupanya semua udah punya acara. Ya udah jalan-jalan sendiriūüė¶

Dari Bintaro menuju ke Blok M dulu habis itu dilanjutkan dengan bus Trans Jakarta Koridor 1. Dari terminal Kota jalan kaki menuju Kota Tua. Setelah sampai di Kota Tua rupanya biasa aja. Mau foto-foto, kamera ponsel juga jelek akhirnya duduk-duduk manis aja sambil menikmati keramaian Kota Tua. Rupanya kegiatan ‚Äúart of doing nothing‚ÄĚ sangat membosankan walau baru beberapa menit. Tiba-tiba saya teringat dengan deadline tugas, akhirnya saya berniat balik ke kos untuk mengerjakan tugas itu. Pas melihat stasiun Kota, jadi kepikiran kenapa gak naik KRL aja. Saya dengan Pede-nya memesan tiket KRL Tangerang Ekonomi menuju Tangerang, harganya murah banget. ¬†Saya memilih tempat duduk paling pojok dan mengautis memainkan jemari di ponsel (sok sibuk sih, padahal cuma main game Worms:Stronghold, wkwkwk).

Kereta pun mulai berangkat dari stasiun Kota dan saya masih mengautis dengan ponsel saya. Setelah melewati beberapa stasiun, saya pun bertanya dengan seorang ibu-ibu yang sepertinya memborong barang dari Mangga Dua, yang berada di samping saya. Saya menanyakan kurang berapa stasiun lagi menuju Stasiun Pondok Aren. Ibu tersebut bilang salah naik kereta, kalau mau ke Pondok Aren memakai kereta menuju jurusan Serpong yang berada di Tangerang Selatan. Seperti minum slurppy dalam sekali sedot, kepala saya jadi pusing. Baru beberapa bulan di negeri orang, kesasar, plus doku menipis lagi. Berhubung saya tipe orang yang ga mau rugi, akhirnya melanjutkan perjalanan sampai Stasiun Tangerang sambil browsing mau kemana hari ini (pulsaku :().

Menurut informasi di internet, tempat paling recommended di Kota Tangerang adalah Klenteng Boen San Bio. Saya pun mulai menyusuri Jalan Daan Mogot ke arah utara dan setelah melewati jembatan menuju arah barat ke daerah Pasar Baru. Klentengnya bener-bener cantik dengan patung naga di atapnya. Klenteng ini juga berbatasan dengan tempat ibadah umat Hindu, Pura Kertajaya di sampingnya dan masjid At-Tasyri di belakangnya. Inilah contoh kerukunan umat beragama di Kota tangerang. Jalan lurus ke utara lagi sebenarnya ada tempat bersejarah lain, namanya Bendungan Pintu Air Sepuluh. Namun karena panas, saya ga menyempatkan diri kesana. Setelah puas mengabadikan arsitektur indah klenteng dengan nama lain Vihara Nimmala, saya pun balik lagi ke stasiun dengan jalan kaki lagi. Fyuuh… Untuk balik ke kosan dan gak mau salah lagi, akhirnya saya naik bis. Dan tugas pun dikerjakan dengan metode the power of kepepet. Hehehe…

PS: berhubung ponsel Soner W550i saya patah dan belum pernah di backup jadi semua foto di ponsel itu hilangūüė¶

Rincian Biaya:

Jurangmangu-Blok M (oper dari angkot ke kopaja): Rp 4500

Blok M-halte Kota                                                   : Rp 3500

Stasiun Kota-Stasiun Tangerang                            : Rp 1000

Stasiun Tangerang-Stasiun Kota                            : Rp 1000

Halte Kota-Blok M                                                   : Rp 3500

Blok M-Jurangmangu                                              : Rp 4500

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s