1 Suro di Solo


Gara-gara ada mata kuliah Budaya Nusantara waktu kuliah, saya jadi sedikit mengerti tentang keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia. Salah satu yang menarik adalah peringatan 1 Suro dan saya pun berkesempatan melihatnya langsung di Solo. Peringatan 1 Suro di beberapa tempat berbeda, ada yang diisi nglarung di Pantai Ngliyep dan ada juga mandi berjamaah di air terjun Sedudo Nganjuk.

Peringatan 1 Suro di Solo dirayakan dengan kirab benda pusaka dari keraton. Kirab ini pertama kali dilakukan sekitar abad ke-17 pada zaman Raja Mataram Sultan Agung. Prosesi diawali dengan laku bisu (berjalan tanpa bicara) para keluarga keraton dan abdi dalam dalam pakaian adat jawa. Rute yang dilalui adalah Keraton Kasunanan-Gladak-Loji Wetan-Pasar Kliwon-Gajahan-Nonongan-Gladak kemudian kembali ke Keraton lagi. Barisan paling depan adalah polisi dan tentara untuk mensterilkan jalan, lalu diikuti dengan barisan pembawa benda pusaka dan keluarga keraton beserta para abdinya, dan terakhir adalah masyarakat. Prosesi laku bisu berjalan lancar bahkan beberapa cafe dan warung di sepanjang jalan buat prosesi yang sebelumnya “have fun” banget mendadak sunyi. Semua orang merayakannya dengan khidmat.IMG_0150

Keributan terjadi saat sampai di keraton dan petugas menutup pintu gerbang sehingga tidak semua masyarakat bisa masuk ke kawasan keraton. Saya pun berusaha meringsek masuk diantara orang-orang yang dorong-dorongan dengan para petugas dan saya berhasil masuk setelah mengaku sebagai wartawan kampus (benar-benar merusak citra wartawan dengan penampilan gembel saya wkwkwk). Acara berikutnya adalah salah satu keluarga keraton memberi ceramah dan diakhiri dengan rebutan bunga yang dilempar. Setelah itu keluarga keraton makan malam dan saya kira ada pembagian makanan gratis, eh rupanya ga ada. Ekspektasi yang terlalu tinggi. Hehehe. Saya sempat berkenalan dengan beberapa orang disana. Kebanyakan masyarakat yang hadir disini berasal dari Wonogiri, Boyolali, dan kota-kota sekitar Solo untuk memperoleh berkah. Yang bikin saya takjub adalah beberapa dari mereka,terutama yang kurang mampu, berjalan kaki dari kampung halamannya di sekitaran Waduk Gajahmungkur ke Solo. Kemudian semua keluarga keraton masuk ke dalam keraton dan pintunya ditutup. Semua orang duduk bersila di depan pintu dan saya juga ikut-ikutan. Setelah cukup lama duduk manis dan kaki mulai kesemutan, saya pun menyerah dan keliling keraton dan memfoto beberapa ornamennya.

Pukul 12 malam, kebo bule yang ditunggu-tunggu akhirnya dikeluarkan. Saya kira kebo bule yang akan diarak cukup banyak, rupanya Cuma beberapa ekor aja. Semua orang berebutan melihat dan lumayan banyak juga yang mengambil kotorannya. Katanya bisa mendatangkan berkah. Yieksss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s