Backpacking to Vietnam: Da Lat (part 1)


“Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Da Lat, Vietnam mengatakan kepada Soekarno dan Moh. Hatta, selaku pimpinan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) serta Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia) bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari tergantung cara kerja PPKI” (sumber: wikipedia). Masih ingat dengan pelajaran sejarah tersebut? Da Lat yang terletak 300 km timur laut dari HCMC adalah kota yang akan saya kunjungi.

Galau di terminal bus

Setelah perjalanan 5 jam dari HCMC, akhirnya saya dan 2 orang teman saya sampai di terminal bus kota ini. Berhubung masih sepi dan dinginnya kota jam 5 pagi waktu setempat, akhirnya kita masuk bangunan terminal yang rupanya bagus banget, bersih lagi. Kita menuju ke lantai 2 untuk menumpang sholat shubuh di aula karena ga ada musholla disini. Setelah itu turun lagi ke lantai 1 buat mencari transport ke kotanya dan masalah pun dimulai. Selain loket masih banyak yang tutup karena kepagian, juga orang sini banyak yang ga bisa bahasa inggris. Sepertinya hampir semua orang di terminal itu kita tanyain namun ga ada yang ngerti. setelah sekilan lama tanya sana sini, akhirnya kita bertanya pada seseorang yang rupanya sopir minivan. Kita menunjukkan tiket bus HCMC-Da Lat dan minta diantar ke Villa Pink Hotel. Dengan gerakan tangan, kita disuruh masuk ke minivan. Pikiran udah mulai negative thinking duluan, jangan-jangan mereka sindikat penjualan organ manusia, toh juga ga ada KBRI di kota ini (lebay, tapi kita nurut aja disuruh masuk).

Pemandangan di sepanjang perjalanan sangatlah indah. Trotoarnya lebar, jalanan juga sepi, dan bunga-bunganya bermekaran semua. Setelah perjalanan setengah jam, kita sampai di Villa Pink Hotel. Setelah tanya ke mas-mas dari hotel yang SKSD, rupanya sudah full booking semua dan kita disarankan menginap di hotel pamannya, Mini hotel Mua Xuan Spring yang terletak tepat di seberang Villa Pink Hotel. Setelah membersihkan diri, kita menyewa motor selama satu hari di Villa Pink Hotel.

chateau dengan background Little Eiffle

Spot pertama yang akan kita kunjungi adalah gas station soalnya bensin di motor tinggal dikit. Gas station di Da Lat rupanya hanya terdiri dari 2 tangki dengan bangunan yang kecil dan jelek. But dont judge a book by the cover. Meskipun tangki dan selangnya ala SPBU pertamina tahun ‘90an, tapi yang dijual disini semuanya bensin RON 92, setara pertamax di Indonesia. Saya juga harus beradaptasi dengan jalanan di kota ini, secara disini mengemudi menggunakan ruas kanan dan tidak ada traffic light di seluruh persimpangan. Setelah tangki motor sudah full, kita menuju spot kedua yaitu ke Church Chicken. Church Chicken dinamakan demikian karena ada simbol ayam diatas menaranya, bukanlah tempat wisata, jadi waktu kita kesana dan ramai itu karena menunggu misa. Di seberang church terdapat tower yang katanya mirip menara Eiffel dan dinamakan Little Eiffel (saya bener-bener ga mengerti miripnya ada dimana). Setelah puas berfoto-foto dengan background gereja dan Little Eiffel, kita menuju Crazy House. Kita berputar-putar cukup lama untuk mencarinya sesuai dengan alamat di Lonely Planet dan bertanya kepada penduduk sekitar yang rupanya juga ga familiar dengan Crazy House. Target dibatalkan dan kita menuju Pongour Waterfall yang terletak 40 km dari kota Da Lat.

Jalan keluar dari Dalat

Dengan mengandalkan feeling, kita keluar kota Da Lat menuju arah utara. Touring menjadi nyaman karena jalan yang teraspal baik, lebar, dan lumayan sepi. Di sini masih banyak penduduk yang memakai motor lama semacam honda astrea dan hanya dengan kecepatan 60 km/jam, saya menjadi raja jalanan karena ga ada kendaraan yang bisa mendahului. Wkwkwk. Pongour Waterfall seperti Iguazu Waterfall tapi versi kecil dan kering, mungkin karena musim kemarau juga. Pongour Waterfall mempunyai 7 tingkat dengan ketinggian keseluruhan mencapai 40 meter dan lebar 100 meter. Air terjunnya benar-benar amazing. Meskipun terlihat spektakuler, rupanya waktu ke sana pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan yang kesana hanya untuk piknik. Setelah puas berfoto-foto, kita balik lagi ke Da Lat. Ketika hampir mencapai Da Lat, kita melihat ada baliho besar Prenn Falls dan kita tergoda untuk mengunjunginya. Dengan harga tiket 2 kali dari tiket Pongour, air terjun ini benar-benar ga worth untuk dikunjungi. Kita sempat mencoba cable car yang dapat diisi 4 orang, of course we pay again, untuk melihat air terjun dari dekat. Air terjunnya ga tinggi-tinggi amat dengan air warna coklat. Disini banyak wahana permainan seperti naik gajah atau kuda dan lebih banyak dikunjungi wisatawan lokal. Saat akan kembali ke hotel, hujan turun dengan deras. Kita pun berteduh sambil makan mi instan dengan label halal di bungkusnya.  Seumur-umur makan mi instan, baru kali ini ada mie instan yang rasanya bikin eneg. Baunya pun aneh. (to be continued)

tatap mata saya, Pongour Waterfall

Kadang iklan bisa benar-benar menipu – Prenn Waterfall

1  2  3

6 thoughts on “Backpacking to Vietnam: Da Lat (part 1)

  1. Seru ya ternyata muter-muter naik motor di Vietnam. Eh, Da Lat rame gak sih jalanannya? Kalau serame Hanoi takut juga nih naik motor. Suka asal2an soalnya orang sana kalau naik motor.

    • jalannya sepi karena orang sini lebih suka jalan kaki. tapi ya tetep hati-hati, sepertinya orang DaLat ga ada yg tau fungsi lampu sein dan di dalam kota ga ada lampu lalu lintas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s