Menebar Cinta di Waisak


Borobudur di Malam Waisak

cinta mestinya bagai sepasang sayap yang membawa kita terbang tinggi
cinta mestinya bagai udara yang membuat kita selalu memiliki harapan
tapi cinta juga mestinya bagai lukisan yang tak kunjung selesai
dengan begitu kita tak pernah meninggalkannya

kata-kata dalam salah satu buku Asmanadia terngiang-ngiang di pikiranku saat melihat lampion-lampion diterbangkan ke udara. Ada perasaan takjub, terpana, tercengang, damai, dan bahagia; seperti cinta. Padahal buku yang kubaca sebelum acara ke borobudur via e-book ini bercerita tentang intrik dalam berumah tangga (punya istri aja belum, sok-sokan ngomongin rumah tangga :P). Weits… back to the topic.

Acara pelepasan lampion sebenarnya adalah acara terakhir dalam perayaan Waisak di Borobudur. Perayaan Waisak sebenarnya panjang dan kompleks. Dimulai dari pengambilan air dari salah satu sumber mata air di Temanggung dan api abadi di Grobogan yang kemudian disimpan di Candi Mendut, kemudian doa-doa di Candi Mendut, dan dilanjutkan jalan ke Candi Borobudur. Berhubung saya dan teman saya, Dhani, baru datang setelah maghrib jadi cuma dapat acara yang di Candi Borobudur saja.

Malam itu, sudah cukup banyak wisatawan yang berada di parkiran candi. Pintu loket candi dibuka tanpa dipungut biaya (asik… ngirit :D). Kami pun segera ke arah naik ke arah candi Borobudur. Disana, kami berkenalan dengan traveller perempuan tua dari Belanda yang ikut serta dengan kami menonton prosesi Waisak. Hebatnya, meskipun sudah kepala lima tapi sudah travelling ke sebagian besar negara di Asia terutama yang ada jejak agama Budha-nya. Dia akan berada di Indonesia selama 3 bulan, 2 bulan untuk keliling magelang dan jogja, dan satu bulan berikutnya ke Jawa Timur yaitu ke Bromo, Ijen, dan perkebunan kaliklatak (i’m from Banyuwangi, and i don’t know that), kemudian balik lagi memperdalam agama Budha di India. Saat saya tanya pendapatnya tentang Indonesia, dia bilang kagum dengan sikap toleransi beragama disini, meskipun pada saat itu adalah perayaan hari suci agama Budha tapi yang merayakan tidak cuma penganut Budha. Dia mengatakan itu sambil menunjuk gerombolan perempuan berjilbab di salah satu sisi. Okay, our opinion is different about it.

Panggung utama untuk perayaan Waisak

Prosesi Pradaksina

Berhubung pada sore harinya hujan, karpet yang disediakan panitia basah sehingga kami harus duduk diatas bungkus makanan ringan yang disobek. Acara berlangsung khidmat dan lancar. Setelah acara pembacaan doa selesai, dilanjutkan dengan acara pradaksina. Pradaksina adalah prosesi mengitari candi Borobudur sebanyak 3 kali searah jarum jam dengan memegang lilin atau benda suci dengan tangan kanan karena jalan di sekeliling candi yang gelap sambil melantunkan doa-doa. Banyaknya lampu blitz dari kamera saat prosesi berlangsung menurut saya cukup mengganggu kesakralan prosesi ini. Setelah pradaksina selesai barulah acara yang ditunggu-tunggu, yaitu pelepasan lampion. Pelepasan dimulai di panggung utama oleh para biksu dan pengurus WALUBI. Kemudian para wisatawan bisa melakukan pelepasan lampion dengan membeli terlebih dahulu seharga Rp 100.000,-/buah di panitia. Berhubung saya dan Dhani sama-sama backpacker kere, maka kami hanya bisa menyaksikan puluhan bahkan mungkin ratusan lampion diterbangkan dan menghiasi langit di sekeliling Candi Borobudur. @.@

Menyalakan sumbu lampion

Lampion-lampion yang mulai beterbangan ke angkasa

Perayaan Waisak ditemani fenomena Supermoon

Tips: wajib bawa tripod buat menangkap momen-momen indah disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s