Warung Daun: Resto Baru Suksesor Jauh Republik Telo


Saya sangat suka mengunjungi tempat-tempat baru. Saat saya diajak nyokap buat survei lokasi pertemuan kantor, saya pun antusias mengiyakan. Dengan mempertimbangkan privacy, maka dipilihlah resto baru bernama Warung Daun yang rupanya masih berafiliasi dengan Republik Telo di Lawang. Warung Daun terletak di Jalan Raya Purwosari-Malang, kurang lebih 500 meter sebelum Republik Telo Lawang dari arah Pasuruan. Terdapat plang tulisan menuju ke resto dengan ukuran kecil yang tentu terlewat bagi pengendara. Dari plang tulisan tersebut, masih harus masuk beberapa ratus meter lagi dengan kondisi jalan yang begitulah… rusak total, sampai ke ujung jalan. Rupanya Warung Daun ini menyatu dengan pabrik dari Republik Telo, makanya sepanjang jalan masuk tadi hancur lebur karena dilindas truk-truk besar.

Landscape dari kolam teratai

Jalan yang masih dalam tahap beta

Begitu masuk ke dalam komplek resto, terlihatlah kolam ikan besar dengan beberapa gubuk tempat makan di tepi. Masuk lebih dalam lagi, terlihatlah bangunan utama dengan ornamen-ornamen indah dari kayu dan sebuah aula berbentuk pendopo jawa beserta lapangan rumput yang luas. Dari kejauhan, tampak akan dibangun satu pendopo lagi. Di seberang parkiran, terdapat perkebunan mangga dan buah-buahan lain dengan view pegunungan Tengger. Makanya resto ini menjadi resto favorit bagi para pejabat. Waktu kesini pun, semua pengunjung menggunakan mobil dengan plat N (ga ada yang pake motor, mungkin malas juga dengan kondisi jalan masuknya. Hahaha ). Sepertinya masih sedikit yang mengetahui resto ini.

Lorong Markisa

Jambu air yang rimbun *ngiler

Tibalah saat memesan makanan. Yang terkenal dari tempat ini adalah Mie Goreng Jawa tapi saya memesan Cumi Bakar dengan Jus Melon sedangkan adik saya memesan makanan kesukaannya, Gurami Bakar, dan bonyok sama-sama memesan mie goreng. Setelah menunggu sekian lama sampe perut mules gara-gara kebanyakan makan jambu air yang saya ambil dari kebun buah (ups… jangan ditiru ya. Hehehe), makanan pun terhidang di meja. Cumi bakarnya cuma seuprit dengan bumbu kayak pepes bandeng pasar, yang bedain cuma dikasih daun kemangi sebagai pengharum. Icip-icip guraminya, yaelah bumbunya sama persis dengan cumi bakar. Daging guraminya pun kering karena guraminya kurang gizi a.k.a. kurus. Minta sesendok mie gorengnya, biasa aja kayak beli di pinggir jalan. Jus melonnya ga kerasa buahnya, yang kerasa malah sirup Marjan pas diaduk. Harga sih standar resto, tapi rasanya dibawah standar warung. Cukup sekalilah kesini (tapi kalau dibayarin, mau-mau aja sih. Wkwkwk)

Penilaian (6.0/10)

Rasa           : 2/10

Tampilan     : 6/10

Harga          : 7/10

Pelayanan   : 6/10

Atmosphere : 9/10

10 thoughts on “Warung Daun: Resto Baru Suksesor Jauh Republik Telo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s