Mengejar Bandung


Actually, i’m not in the mood for travelling. Tapi ajakan menuju Bandung begitu menggairahkan. Tapi saya lagi malas. Tapi itu BANDUNG (duh… ga habis-habis entar kalau membahas ini aja. Lebayyy). Bandung adalah salah satu kota idaman bagi saya. Hawanya dingin… orang-orangnya lumayan stylist… ceweknya geulis… makanannya enak. Apa lagi coba yang kurang? Minimal setahun sekali, saya jalan-jalan ke kota kembang ini. Tujuannya sih tetap aja. Kalau ga ngubek-ubek gombalan di Pasar Baru dan Cihampelas, ya cuma mampir beli nasi bakar ato batagor di seputaran Dago. Sesekali juga cuci mata dan ngliatin orang lalu lalang di Bandung Supermall atau Paris Van Java (bener-bener aktivitas yang ga mutu). Dengan pasrah, saya mengiyakan ajakan teman saya tersebut. Saya memang selalu lemah terhadap ajakan jalan-jalan.

Perjalanan pun dimulai. Dari Stasiun Gambir, saya dan empat teman saya, Soir, Firman, Deddy dan Bowo memesan kereta api Argo Parahyangan kelas Bisnis. Karena berangkat jam 12.30, kita jalan-jalan dulu melihat Monas. Mereka rupanya belum ada yang pernah ke puncak Monas, jadinya kita naik ke puncak dengan lift yang sudah usang. Setelah puas berfoto-foto, kita turun dan sholat di musholla Stasiun Gambir. Waktu rupanya cepat berlalu. Saat bertanya ke petugas stasiun, katanya kereta ke Bandung sudah berangkat barusan. Mampus dah. Kita pun segera lari dari lantai dasar ke lantai 2 tempat peron keberangkatan. Dengan membawa tas yang penuh berisi laptop dan baju, saya terengah-engah di belakang, apalagi waktu itu jempol saya kena canteng. Teman-teman saya sudah masuk dan meloncat ke gerbong terakhir kereta yang sudah jalan. Saya sih sebenarnya sudah malas mengejar. Pikiran saya waktu itu, saya akan beli tiket lagi yang jam 3.30. But wait!!! Saya baru ingat kalau saya yang membawa tiket kereta mereka. Dari dalam kereta, mereka sudah menyoraki. Dan terlihat juga beberapa penumpang yang melihat saya dari jendela kereta. Saya pun berlari sekuat tenaga dan sebelum kereta ada di ujung peron, saya meloncat ke pintu kereta di gerbong terakhir dengan teman-teman saya yang memberi uluran tangan. Hap… saya jatuh di lantai kereta. Alhamdulillah saya selamat. Saya berjalan ke kursi dituntun teman-teman saya dengan kaki masih gemetaran. Ibu-ibu yang duduk di depan kita berkata kalau ngeri ngeliat kita yang mengejar kereta terutama orang yang terakhir alias saya. Orang yang ngliat aja dah ngeri, apalagi saya sebagai aktornya. Dari dalam kereta, kita sudah melupakan adegan mengejar kereta dengan berfoto-foto di dalam kereta.

Kereta Argo Prahyangan

Gerbong kereta di dalam Terowongan Sasaksaat #spooky

View Jembatan Cikubang

Tiga jam kemudian, kita telah sampai di Stasiun Hall Bandung. Stasiun ini diresmikan pada abad ke-18 untuk mempercepat proses pengiriman hasil perkebunan ke Batavia. Jalur yang digunakan adalah melalui Bandung-Cianjur-Bogor-Batavia yang sekarang tidak aktif lagi. Karena belum makan siang, saya ajak mereka ke salah satu warung favorit saya di simpang Dago. Setelah kenyang, kita jalan-jalan ke ITB. Thanks God, Deddy punya kakak di Bandung jadi kita nginep deh di kos kakak Deddy. Padahal rencana awalnya nggembel di teras Masjid Raya Bandung. Wkwkwk

Keesokan paginya, kita melanjutkan perjalanan. Kos kakak Deddy rupanya berdekatan dengan Monumen Gerakan Non Blok di Jalan Pajajaran tapi sayangnya monumennya rusak. Dari depan monumen, kita mencari angkot menuju Lembang karena tujuan kita adalah ke Bosscha. Saya ketiduran selama di angkot dan tahu-tahu hampir mendekati pasar Lembang. Kita pun terpaksa turun dan mencari sarapan di pasar Lembang. Sarapan kita kali ini adalah nasi kuning dan kita melahapnya dengan cepat. Setelah makan, kita naik angkot balik ke Bandung dan tak lupa bilang ke sopirnya turun di Bosscha. Dari jalan raya menuju Bosscha rupanya jauh juga, dengan jalan yang menanjak plus  ada adegan pas kita berjalan di belakang kuda, dengan seenaknya kuda tersebut membuang tokai di depan kita (muntah….). Setelah berjalan kurang lebih 40 menitan, kita sampai di Bosscha. Kyaaa… impian di masa kecil saya menjadi kenyataan. Gara-gara film Petualangan Sherina, saya selalu memendam hasrat untuk kesini. Observatorium Bosscha adalah observatorium bintang tertua di Indonesia. Dibangun pada tahun 1920-an oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (atau kalau di-Indonesia-kan: Perhimpunan Bintang Hindia Belanda). Nama Bosscha diberikan sebagai penghargaan karena Karel Albert Rudolf Bosscha sebagai penyandang dana utama untuk pembangunan observatorium bintang ini. Arsitek untuk gedung kubah observatorium adalah K.C.P. Wolf Schoemacher. Namun sayangnya waktu itu hari Jumat, dan jadwal kunjungan sesi I jam 9.00-11.00 WIB dan sesi II jam 13.00-15.00 WIB, sedangkan kita sampai jam 10-an. Ga apa-apa lah, yang penting foto-foto dulu aja sebagai bukti. Wkwkwk. Setelah puas, balik lagi ke Bandung untuk melaksanakan sholat Jumat di Masjid Raya Bandung.

berfoto di monumen GNB yang ironis

ikon Observatorium Bosscha

Berfoto dengan Bung Karno

Destinasi berikutnya adalah Museum Konferensi Asia Afrika di Jalan Asia Afrika nomor 65. Dekat banget dengan Masjid Raya dan yang bikin lebih hepi adalah gratis. Sebenarnya disediakan guide untuk menjelaskan tentang apa saja disini namun kita menolak. Selain karena kita pengen bebas mengeksplore museum ini, kita juga mencari stop kontak listrik karena kamera pocket saya, satu-satunya alat pembuktian dan eksistensi diri, baterenya telah habis. Saya akhirnya menemukannya di ruang sidang di Gedung Merdeka. Lumayan lama kita disini menunggu baterai terisi meski sedikit, dengan pura-pura melihat koleksi (hohoho. Don’t do this!!!). Museum Konferensi Asia Afrika diresmikan pada 24 April 1980 untuk memperingati 25 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Museum ini berhubungan langsung dengan gedung Merdeka yang bergaya Art Deco. Gedung ini sendiri dibangun tahun 1895 dengan rancangan arsitek Van Gallen Last dan  K.C.P. Wolf Schoemacher. Didalamnya terdapat banyak diorama dan foto-foto tentang KAA.

Selanjutnya, saya ajak teman-teman saya menuju Jalan Braga yang dimulai dari Museum KAA. Inilah salah satu jalan paling elit di Bandung pada masa Hindia Belanda. Mungkin pamornya dulu setara dengan Avenue Montaigne di Paris atau Bond Street di London yang menjadi kiblat fashion. Hujan tiba-tiba turun, sehingga kita melipir ke Braga City Walk. Disini kita sempat termakan dengan promosi salah satu franchise makanan. Setelah masuk ke dalam dan melihat daftar menu, ternyata diskonnya tetap aja jatuhnya mahal sehingga kita cuma beli teh botol aja. Hahaha. Setelah hujan reda, dengan bonengnya kita menuju Gedung Sate dengan berjalan kaki dari Jalan Braga. How lucky we are. Beberapa kali saya datang kesini selalu tertutup dan saat kita kunjungi, pintu gerbang dibuka karena ada komunitas fotografi yang melakukan sesi pemotretan disana. Akhirnya kita nyelonong masuk aja ke dalam kompleks Gedung Sate yang rupanya dijadikan kantor gubernur Jawa Barat (baru tahu. Hehehe).

Stasiun yang rame…

Saatnya menuju homebase!!! Kita berangkat menuju Stasiun Kiaracondong untuk berangkat ke Kutoarjo dengan menggunakan KA ekonomi Kutojaya Selatan. Setelah mendapatkan tiket, rupanya dapat yang bercap BEBAS. Maksudnya bukan bebas dari penjara seperti halnya dalam permainan monopoli, tapi duduknya bebas dimana saja. Tiga jam pertama, hanya berdiri di dekat pintu masuk gerbong. Sedangkan jam-jam berikutnya bisa duduk dan tidur di lorong (hua… gembel banget nih). Jam 6 pagi kita sampai di Stasiun Kutoarjo dan Firman pulang menuju Magelang. Dari sini, kita menuju Yogyakarta dengan menggunakan Prameks ala bonek alias ga bayar tiket. Saat kereta datang, kita langsung duduk dan pura-pura tidur. Saya bener-bener deg-degan, terutama kalau ada petugas lewat dan minta diliatin tiket. Kata Soir, sang ahli bonek, kalau ada petugas, pura-pura tidur aja atau kabur menuju kamar mandi dan toh kalau ketahuan hanya didenda 2 kali harga tiket aja. Tapi tetap saja saya masih nervous dan ini kan ilegal. Dan yang dinantikan datang juga, petugas kereta datang ke gerbong kita namun sama sekali tidak membangunkan orang-orang yang tidur. Syukurlah. Pufft…. konyolnya, orang yang duduk di depan dan samping kita juga sama-sama free rider setelah diajak ngobrol-ngobrol. Wkwkwk. Di Stasiun Lempuyangan, kita terpisah lagi dan hanya saya dan Soir yang melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur. Kali ini jujur dan bayar, kita menggunakan kereta Logawa menuju Jawa Timur. Dari sekian banyak kereta ekonomi yang pernah saya tumpangi (sebelum reformasi kereta api lho), KA Logawa adalah yang paling bersih, toiletnya pun ga buntu dan ada airnya. Soir turun di Stasiun Wonokromo dan saya turun di Stasiun Pasuruan jam 18.00 WIB. Perjalanan kali ini bener-bener absurd tapi menyenangkan. Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s