Backpacking to Vietnam: Mui Ne


Pagi-pagi saya harus bangun untuk meninggalkan Da Lat. Huaaaa😦. Sehari sebelumnya, saya dan dua teman saya sudah memesan tiket Da Lat-Mui Ne ke pihak Pink Hotel. Dengan lantai gontai, kami check out dari hotel dan rupanya ada tambahan buat air minum, kita kira gratis lho itu. Hahaha

Bus sudah menunggu dan oleh kondektur dengan bahasa vietnam menyuruh kita duduk di belakang. Grrr… lalu datang rombongan beberapa bule, dan mereka beradu mulut dengan kondektur karena juga disuruh duduk di belakang tapi si bule ga mau. Lucu juga liat mereka berantem. Kita sebenarnya juga bisa kayak gitu, tapi kita harus menunjukkan keeleganan orang Indonesia. Wkwkwk. Perjalanan menuju Mui Ne rupanya lama dan bodohnya kita belum sarapan, dan lebih bodohnya lagi malam terakhir di Da Lat kita kalap belanja gombalan dan lupa beli camilan. Fortunately, saya masih punya coco crunch 15 mg yang kita makan bertiga. Ini sarapan dengan jumlah porsi dan kalori terkecil dalam hidup saya. Setelah beberapa jam dirundung kelaparan di dalam bus, bus mampir ke SPBU lokal. Kita langsung menyerbu toko makanan disana dan memborong snack dan minuman. Setelah kira-kira setengah jam berjalan, bus berhenti lagi di tengah kebun eucalyptus rupanya buat mengakomodasi orang yang lagi BAK. Oh God… kenapa pas di SPBU tadi berhenti cuma bentar -,-

camilan di bus😀

Pas tengah hari, kita diturunkan (lebih tepatnya dipaksa turun) di suatu tempat, antah berantah, di Mui Ne. Untungnya di seberang tempat turun kita ada sebuah hotel. Kita sebenarnya membooking kamar hanya buat sholat aja, tapi ngeliat badan yang lengket-lengket karena panas, ya sekalian buat mandi. Setelah tanya-tanya dengan penjaga hotel, rupanya mereka menjual tiket tour keliling Mui Ne dan tiket bus ke HCMC, ya sudahlah, kita pesan saja meskipun mahal. Sambil menunggu jemputan tur, saya menghabiskan waktu dengan menonton TV. Kalau di hotel di Da Lat, saya selalu menyempatkan nonton Natgeo atau CNN tapi di hotel sini channelnya lebih sedikit. Ada yang aneh saat nonton channel lokal yang menyiarkan kartun Nickelodeon, Catdog. Dubbing-annya kok suaranya sama, saya konfirmasi sama teman saya juga gitu. Jadi di kartun ini suara Cat dan suara Dog yang bicara ya satu orang saja, dan tololnya lagi suara The Greaser Dogs, sekumpulan anjing yang jadi musuh catdog juga masih pake suara orang yang sama. Saya menonton kartun ini sampe perut mules gara-gara kebanyakan tertawa bukan karena adegannya yang lucu tapi semua dubbing di-handle sama satu orang saja, suaranya juga tanpa ekspresi lagi. Wkwkwk.

Akhirnya kita dijemput dengan jeep untuk tur kali ini. Saya sudah males ngajak ngobrol driver-nya. Entar saya bicara panjangxlebarxtinggi, dia-nya ga ngerti. saya hanya duduk manis dengan memperhatikan jalan di Mui Ne yang super lebar tapi sepi. Tujuan pertama kita adalah The Fairy Stream ( Suoi Tien). Kita diturunkan di seberang ruko-ruko. Lah, mana bukit dan sungainya coba? Si driver menunjuk dengan tangan ke sebuah gang kecil, eh rupanya beberapa bule juga lewat sana. Kita mengikuti bule-bule itu hingga sampai di tepi sungai. Nitipin sandal bayar rupanya, ya udah bawa sendiri aja. Kita menusuri sungai tersebut yang airnya hanya setinggi 3-10 cm. Halo??? Bayar mahal-mahal buat ke kali gini aja, di Indonesia juga banyak lah. Setelah berjalan beberapa menit barulah terlihat indahnya sungai ini, airnya masih tetep kecil tapi view di kanan kiri sungai seperti gunung yang baru longsor. Itulah kenapa orang-orang menyebutnya little Grand Canyon. Setelah setengah jam berjalan, banyak orang yang balik. Mungkin ga menarik, tapi malah bikin penasaran. Kita bertanya ke salah satu bule, katanya tinggal 200-an meter lagi. Finally, sampai juga di The Fairy Stream. Saya kira air terjunnya cetar membahana, ealah rupanya cuma air merembes aja setinggi 2 meteran.

Little Grand Canyon yang malah lebih kelihatan seperti deforesasi

setelah perjuangan yang panjang, this is is, The Fairy Stream

Tujuan kedua kita adalah Mui Ne Fishing Harbour (Lang Chai Mui Ne). Pelabuhannya kayak kota-kota di Pantura Jawa. Airnya coklat dengan beberapa perahu yang tertambat. Ga perlu lama-lama disini dan lanjut ke tujuan utama kita, The Sand Dunes. Disini ada 2 sand dunes yaitu yang berpasir putih dan berpasir merah. Kita menuju yang paling jauh dulu, The White Sand Dunes. Disini kita mencoba mengendarai ATV meskipun cuma 15 menit. Sensasinya seru banget rupanya kalo off road di padang pasir kayak gini. Selain ATV, juga terdapat permainan desert sky. Meskipun tempatnya kering dan katanya merupakan tempat terkering di Asia Tenggara (curah hujannya 50 mm/tahun), disini juga terdapat 3 danau besar di sekelilingnya yaitu Bau Ong, Bau Ba dan Bau Xoai. Di tepian Bau Ong, terdapat wilayah yang ditutupi teratai sehingga danau ini sering disebut Lotus Lake. Perjalanan berikutnya menuju destinasi terakhir yaitu The Red Sand Dunes. Dan sesampainya disana rupanya ada badai sehingga terpaksa ga jadi liat pemandangan seperti di wallpaper windows XP. Total area untuk keseluruhan The Sand Dunes adalah 50 hektar makanya sepanjang jalan liatnya cuma pasir aja.

Menggalau di tepi South China Sea

Long road to The Sand Dunes

Lotus Lake dengan background The White Sand Dune

Mui Ne terkenal dengan masakan seafoodnya. Kita pun mencoba makan di kedai pinggir pantainya. Rupanya rata-rata kedai disini selain menyajikan menu seafood juga terdapat makanan dari ular, kodok, dan hewan-hewan aneh lainnya. Kita mencoba udang bakar, cumi tumis bawang putih,cumi tumis vietnam,  tumis kangkung, dan tentunya nasi karena belum makan nasi seharian ini. Untuk minumnya, saya mencoba susu hangat. Rasa udangnya hambar, jadi harus dicelupin ke minyak yang rasanya asam sedangkan untuk tumisnya juara. Setelah dinner, kita lanjutkan nongkrong, nyari sinyal wifi tepatnya di minimarket. Setelah itu balik ke hotel untuk packing.

4 sehat 5 sempurna

Tumis Cumi. slurrp…

Jam setengah satu pagi, kamar kita digedor-gedor. Saya kira ada razia, saat dibuka rupanya  pemilik hotel dan kondektur bus yang meminta kita buat berangkat. Lah… katanya dijanjikan jam setengah dua, baru jam segini sudah diusir. Dengan tergesa-gesa, kita memberesi backpack. Kita angkat kaki dari hotel tersebut dengan omelan pemilik hotel dengan bahasa Vietnam selama setengah jam. Whatever lah… :v

Rincian biaya hari ketiga:

Bus Da Lat-Mui Ne : VND 126.000

Snack : VND 90.000

Mui Ne Tour dan Hotel: USD 20

Minum : VND 15.000

ATV : VND 200.000

Dinner : VND 257.000 untuk 3 orang

Camilan : VND 10.000

1  2  3  4  5

2 thoughts on “Backpacking to Vietnam: Mui Ne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s