Family Trip Susur Selatan Jawa I: Lumajang


Melanjutkan perjalanan pulang sebelumnya dari pantai Tanjung Papuma, kita pulang menuju Pasuruan dengan rute yang berbeda yaitu via Balung-Gumukmas-Kencong-Yosowilangun-Lumajang yang katanya lebih sepi. Rupanya berita jalan sepi hanya hoax belaka, mobil pribadi emang jarang tapi truk-truk besar lalu lalang lewat sehingga kadang-kadang harus melipir di bahu jalan.

Masjid Agung Anas Mahfudz

Tengah hari sampailah di Lumajang. Lumajang punya sebutan sebagai kota pisang sampe dibuatin patung pisang yang super gede lho di dekat terminal. Yang terkenal disini adalah pisang agung yang panjang dan pisang mas kirana yang manis. Kotanya asri dengan banyak pohon dan ladang hijau di tengah kota. Papan petunjuk arahnya di persimpangan jalan kurang memadai sehingga diputuskan ke alun-alun kota dengan berpusing-pusing dulu mencari jalan kesitu. karena belum sholat, kita sholat di dalam Masjid Agung Anas Mahfudz, masjid terbesar di Lumajang dengan kubah birunya yang terletak di seberang alun-alun. Kalau di kota lain banyak pedagang makanan yang berjualan di sekitar alun-alun, di alun-alun Lumajang benar-benar bersih tanpa seorang pedagang pun bahkan kayaknya kita sekeluarga aja yang mengunjunginya. Berhubung belum makan, kita susuri lagi jalan-jalan di Lumajang tapi tidak melihat rumah makan atau restoran yang buka, kebanyakan yang buka yang jualan bakso atau mie ayam. Males kan, jauh-jauh kesini makannya bakso -,-. Berhubung desperate, kita akhirnya menuju ke Graha Mulia, yang menurut pencarian di foursquare sebagai departemen store terbesar di kota ini. Tokonya sepi dengan hanya beberapa biji pengunjung saja. Disini beli beberapa baju dan camilan buat jaga-jaga kalau beneran ga menemukan tempat makan. Kita meninggalkan Lumajang yang super sepi menuju Piket Nol.

beringin di tengah alun-alun

leyeh-leyeh dulu

Jalan menuju Piket Nol teraspal mulus dengan pemandangan yang menakjubkan. Beberapa tikungan dibuat miring, jadi serasa mengendarai mobil di sirkuit. Pas di jalan yang bergunung-gunung, hujan mulai turun. Saya menyetir mobil dengan lebih hati-hati hingga sampai di Piket Nol. Sebenarnya ikon Piket Nol ini adalah jembatan yang melintas di atas Kali Kobo’an, yang merupakan jalur lahar Gunung Semeru. Oleh karena itu, jembatan ini dinamakan Jembatan Besuk Kobo’an. Namun orang sini lebih mengenalnya dengan jembatan gladak perak, soalnya jembatan dibangun dengan tumbal gelang perak dari seorang penari. Jembatan ini berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dan dibangun tahun 2001. Saat cuaca cerah bisa liat Samudra Hindia beserta Pulau Nusa Barung. Sayangnya sampai disana waktu hujan, deras lagi. Ada kejadian horor disitu. Saat memarkir mobil di samping warung di kanan jalan, mobil tiba-tiba mundur. Perasaan saya sudah pasang handgrip deh. Saat mundur, adik saya langsung menjerit. Jelaslah di seberang jalan langsung jurang tanpa pagar pembatas. Saya langsung menginjak rem dan bokap saya memaksimalkan handgrip. Beruntungnya, pas kejadian mobil mundur, tidak ada kendaraan yang lewat. Namun positive thinking lah, mungkin saat itu saya pasang handgrip kurang maksimal dan juga kondisi jalan yang licin karena masih hujan deras. Gara-gara kejadian itu, saya urungkan buat melihat Kali Kobo’an dari atas jembatan dan melanjutkan perjalanan dengan badan masih gemeteran. Di desa sebelum Dampit, saya meminta gantian nyetir dengan bokap. Bayangin aja, Piket Nol sampe Dampit saya tempuh lebih dari dua jam karena efek shock jadi hanya berani jalan maksimal 30 km/jam. Hujan rupanya cukup merata sampai Malang. Sampai di Purwosari sudah tidak hujan. Alhamdulillah, kita sampai di rumah pukul 8-an malam dan langsung tepar. Touring kali ini, kita menempuh jarak kurang lebih 400 km, udah serasa Pasuruan-Pekalongan aja. hahaha

1  2

14 thoughts on “Family Trip Susur Selatan Jawa I: Lumajang

  1. jalur selatan jawa emang rada ngeri sih, apalagi lumajang tuh, gak berani kalo naik mobil. kalau naik motor si oke aja😀. tapi pemandangannya memang cakep sih😀

    • besar kecilnya ukuran kota ga penting. yang penting adalah adanya sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat utk melakukan pengelolaan sumber daya yang ada dengan baik dan maksimal dengan tetap menjaga ekosistem alam di sekitarnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s