The Incredible Lake Toba

DSC_0266 copy

Saya mencubit lengan saya berharap ini bukan mimpi. Auchhh… memang ini bukan mimpi. Saya sedang tidak membuka Ensiklopedia Indonesia yang beberapa halamannya memuat keindahan danau ini. Saya juga tidak membuka laptop saya dengan wallpaper download-an target destinasi saya selanjutnya. Dan yang pasti, saya sedang tidak berfantasi.

Saya merasakan kenyataan ini dengan semua indera saya!

DSC_0020 copy
Dengan berdiri berhimpit-himpitan di atas dek kapal Ajibata-Tomok, saya masih bisa melihat keangkuhan Toba. Masih tersisa kesombongan dari letusan Supervulcano Gunung Toba yang diperkirakan terjadi 74.000 tahun lalu. Letusan mahadahsyat itu membentuk kaldera dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang menjadi cikal bakal Danau Toba.

DSC_1009 copy

Pulau Samosir dari atas kapal

DSC_0019 copy

yang ini juga @_@

Perjalanan dimulai dari Medan ke Parapat yang menempuh 6 jam perjalanan dengan mobil pribadi. Kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Ajibata untuk menyeberang ke Pulau Samosir. Menurut saya, pelabuhan ini tidak layak untuk menjadi gerbang pariwisata untuk perjalanan ke Pulau Samosir. Jalannya masih berlubang dan warung makannya terlihat kumuh.

Setelah perjalanan dengan ferry selama kurang lebih 1,5 jam, kita sampai di Tomok. Penginapan kebanyakan berpusat di Tuktuk Siadong, jadi kita kesana dan mencari penginapan yang memiliki pemandangan yang bagus dan tak lupa harus tidak menguras kantong 😀 . Kita akhirnya memilih menginap di Carolina Cottage.

DSC_0029 copy

Foto andalan, memfoto kaki :3

DSC_0021 copy

bukti sudah kesini 🙂

Sore hari di Pulau Samosir, kita habiskan dengan bermain air di Pantai Pasir Putih Parbaba yang letaknya di ujung pulau ini. Kalau wilayah seperti di sekitar penginapan terlihat dalamnya dasar Danau Toba yang berbatu, di pantai ini terlihat landai dengan dasar pasir putih. Enaknya main-main disini adalah airnya yang tawar jadi serasa berenang di kolam renang outdoor. Namun tetap waspada dengan anjing liar yang berkeliaran meskipun mereka tidak mengganggu. Toilet juga tidak tersedia. Saya saja ganti outfit di teras rumah yang sekelilingnya saya tutupi dengan meja. Haha…

 Saya benar-benar tidak sabar dengan aktivitas besok yang akan kita lakukan.

Singapore Trip III

sin 3 6

“excuse me, Sir. Where is the nearest MRT station?” tanya saya ke kakek tua di samping saya dengan bahasa inggris yang belepotan.

Masih hening. Kita deg-degan mendengar jawabannya. Semoga ada, semoga ada, semoga ada. Batin saya.

“oh… Jurong. MRT Jurong.”

“is it near?”

“yes!”

Kemudian senyap lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam waktu setempat. Beberapa menit kemudian kita sudah sampai di pemberhentian bus terakhir, plaza Jurong. Waduh, apa masih keburu nih ke Orchard? Serasa ikutan Amazing Race, kita berlari menuju MRT station. Saat di MRT aja, saya tidak tenang. Rute MRT kita adalah Jurong East-Outram Park-Dhoby Ghaut-Orchard.

Sudah hampir pukul setengah sepuluh saat tiba di Orchard Station. Oke, tujuan utama ke sini adalah Ngee Ann City. Orchard road malam ini masih ramai, seramai pasar malam. Tiap ada spot bagus foto gak lebih dari 1 menit. Beberapa tenant sudah mulai tutup. Ke Laduree bentar buat beli macaron. Karena mahal, gak jadi beli dan malah beli es krim potong yang rasanya biasa banget di depan mall. Saat mencari makan ke Lucky Plaza dan Paragon Mall beberapa tenant sudah tutup semua. Saya melirik jam tangan saya. Pukul setengah sebelas dan masih ada 2 destinasi di itinerary, Merlion dan Garden by The Bay. Karena waktu sudah mepet, kita sepakat mencoret Garden by The Bay dan segera menuju Merlion.

Tips: kalau Anda tidak terburu-buru, saat naik eskalator pilih di sisi kiri. Sisi kanan hanya untuk yang “in a hurry”

sin 3 1

Tree of Macaron

sin 3 2

Ice potong di Orchard

Dari Orchard ke Merlion kita lewat rute Orchard- City Hall. Rupanya dari City Hall Station menuju Merlion kejauhan. Sampai di Merlion sampe tidak mood foto-foto karena kecapekan. Dari Merlion balik jalan kaki lagi ke Raffless Place Station. Kita naik kereta terakhir sampai Dhoby Ghaut Station jam 1 malam. Dari Dhoby Ghaut, naik bus ke Chinatown. Kaki pengen dicopot saja. Jalan aja sampai gemetaran. What a day!

sin 3 4

Clarke Quay Nightlife

sin 3 5

mirip istana @_@

sin 3 3

Gedung Mahkamah Agungnya mirip piring terbang

Keesokan paginya, kita belanja sebentar sekalian membeli oleh-oleh di Chinatown point dengan tujuan supermarket local Fairprice. Air mineral botolan murah banget lho, hanya $0,65 sudah dapat 2 botol air 600ml. kita juga membeli kacang-kacangan (yang sebenernya mahal banget daripada beli di Indonesia). Dan yang menarik, Fairprice ini dimiliki oleh NTUC yang merupakan organisasi buruh di Singapura. Kesejahteraan buruh sepertinya terjamin karena mereka memiliki jaringan supermarket terbesar di Singapura.

TIBA DI CHANGI AIRPORT,  10.25 AM GMT+8

Dengan tergopoh-gopoh, kita menuju gate keberangkatan. bahkan kita tidak sempat menikmati fasilitas keren di bandara seperti bioskop mini dan main XBOX.

Mungkin suatu saat bisa kesini lagi. Bye bye Singapore…

 

Biaya Selama di Singapura:

Kartu Ezlink       SGD 12
Makan siang di Food Republic    SGD 7,2
Top Up Ezlink SGD 10
Hotel SGD 35
Ice cream potong   SGD 1
Mineral water dan roti SGD 2,8
Belanja di Fairprice   SGD 13,5

Total SGD 81,5

Singapore Trip II

DSC_0032

lompat lompat…

Gerbong MRT mulai penuh kembali di Changi Station. Beruntungnya di satu gerbong ada keluarga dari Surabaya yang tinggal di Singapura dan memberitahu pada saat di Tanah Merah Station harus pindah kereta ke jurusan Joo Koon. Menurut mereka, kalau kartu Ezlink tidak/lupa di-tap di tempat tujuan lebih dari 3 jam maka ada penaltinya. Di  Bugis Station kita berpisah dengan duo tante yang menginap di kawasan Bugis. Kita melanjutkan perjalanan menuju Vivocity dengan rute Changi-Outram Park-Harbourfront. Di Vivocity, kita sempat mengunjungi gerai H&M yang rupanya pengunjungnya pada saat itu kebanyakan orang Indonesia.

sin 2 1

Lake Of Dreams, Sentosa

Pilihan ke Sentosa Resort dari sini ada 3 yaitu jalan kaki (paling murah), naik bus, atau naik monorail. Karena sudah berpusing-pusing mencari monorail station, rugi dong kalo gak naik. Hanya beberapa menit di dalam monorail sudah sampai di Wterfront station. kata teman-teman saya yang sudah ke Singapura, jangan pernah mengaku pernah ke Singapura kalau belum pernah foto di depan Merlion Universal Studio’s globe. Yup, bola dunia itu sudah menggantikan kepopuleran patung Merlion sebagai ikon Singapura. Masuk ke Universal Studio? Of course not, karena kita sudah mengantongi tiket masuk ke SEA Aquarium yang konon menjadi akurium air laut terbesar di dunia (tapi saat ini sudah turun tahta ke nomor 2).

Euforia saat berada di negara tetangga membuat lupa bahwa kita belum makan dan minum sejak dari Indonesia. Kita masuk Malaysian Food yang letaknya di seberang Universal Studio. Huaaa harganya mahal. Tapi kelaparan mengalahkan segalanya. Kita malah makan di Food Republic di Vivo city yang sama mahalnya. Tau rasa dan harga yang tidak sebanding gini, lebih baik beli roti aja di Bre*adtalk.

sin 2 2

Aroma yang sedap, belum tentu makanannya enak :v

Agenda sore ini adalah mencari hotel dan malamnya dilanjutkan main-main di Orchard Road. Kita menginap di kawasan Chinatown yang cukup direkomendasikan di Lonely Planet karena terdapat banyak hostel murah. Kita datangi satu per satu hostel-hostel tersebut dan rupanya penuh semua. Kemudian kita ditunjukkan hostel yang baru direnov, Pillow n Toast, dengan tarif SGD 35/pax untuk kamar dorm 6 bed. Kita iyakan saja daripada mencari lagi. Kamar dan ruang tengahnya homy banget. Pengen banget leyeh-leyeh sambil baca buku di situ tapi itin padat. Setalah mandi dan ganti kostum lagi, segera kita menuju  ke tujuan selanjutnya yaitu Orchard Road.

sin 2 3

bus tingkat 😀

Chinatown MRT station dekat banget dengan hotel ini. Tinggal nyebrang jalan aja. Kali ini kita ke Orchard tidak naik MRT, ganti transport pakai bus. Saya sudah survei sebelumnya ke gothere.sg bus menuju Orchard Road dari Chinatown adalah dengan naik bus 143. Naik bus rupanya lebih menyenangkan daripada naik MRT karena bisa melihat pemandangan Singapura dengan gedung-gedung jangkungnya. Bus mengarah ke arah selatan melewati Vivocity. Para penumpang banyak yang turun disini. Bus kemudian menanjak ke arah perbukitan. Saya mulai merasa aneh. Kalau di peta, Orchard ada di utara Chinatown, tapi kenapa ini malah menuju ke barat daya. Para penumpang tinggal sedikit. Anggi tanya ke saya dimana kita akan turun. Saya menjawab dengan diplomatis, “kita akan turun kalau melihat ada mall”. Asumsi saya, kalau dekat mall pasti dekat dengan MRT.

Asumsi saya rupanya salah.

Satu jam lebih bus melaju di jalanan yang mulai lenggang. Lampu-lampu jalanan berpendar redup tertutup pepohonan. Bahkan kita tidak melihat satu pun kendaraan di arah yang berlawanan. Saya jadi teringat cerita misteri tentang bus pantura Pahala Kencana yang tersasar di tengah hutan jati Alas Bonggan Blora.

Jangan-jangan bus ini….

 

Bus terus melaju di kegelapan malam meninggalkan gemerlapnya Singapura. Saya mulai panik. Saya berdoa semoga tidak ada kejadian yang tidak diharapkan. Semoga saja..

Singapore Trip I

Si Merlion

Si Merlion

Apa yang terlintas di benak Anda kalau mendengar kata Singapura? Beberapa orang akan menyebut kota modern, MRT, bersih, disiplin, dan tentu saja belanja. Negara yang luasnya hanya segede Jakarta memang sudah lama jadi jujukan wisata belanja oleh orang Indonesia. Dulu waktu masih kecil, saya selalu membayangkan kalau orang yang sudah pernah ke Singapura itu pasti SANGAT KAYA, sawahnya banyak, dan punya tambak ikan bandeng. Tiket pesawatnya aja harus ditebus dengan satu kali masa panen. Tapi itu dulu sebelum adanya Low Cost Carrier.

~~~~~

Kursi di penerbangan Surabaya-Singapura pagi ini penuh. Saya mendapatkan tiket promo yang harganya setara tiket kereta Argo Anggrek. Saya curiga jangan-jangan semua yang ada disini mendapatkan tiket promo seperti saya. Jalan-jalan kali ini saya ditemani teman kos saya, Anggi, yang sangat ngebet pengen ke Singapura untuk foto-foto dan tentunya untuk update di path. Persiapan kita yang sama-sama baru pertama kali ke Singapura ini tidak main-main. Bayangkan, kita membawa lebih dari tiga potong baju dan setrika walaupun hanya 23 jam di Singapura. Rencananya sih tiap ganti tempat, ganti kostum juga. Hahaha…

apron Changi Airport

apron Changi Airport

TIBA DI CHANGI AIRPORT,  11.15 AM GMT+8

Sepertinya hanya kita penumpang yang terburu-buru di bandara ini. Dengan waktu yang sedikit dan itinerary yang padat, kita berjalan lebih cepat untuk segera naik MRT ke tujuan pertama kita. Saya bahkan tidak sempat melakukan ritual kalau pertama kali ke suatu negara yaitu memfoto sepatu saya yang akan menginjakkan kaki di negara tersebut. Wkwkwkwk.

Setelah melewati loket imigrasi, kita segera turun ke tempat penjualan kartu ezlink. Nah, kegalauan mulai muncul. Disini ada dua loket dengan antrian yang sama-sama panjang. Yang satunya berada di depan eskalator, sedangkan yang satunya rada menjorok di belakang eskalator. Kita bertanya ke salah seorang yang berada di antrian untuk loket  di belakang eskalator yang rupanya salah satu rombongan wisatawan dari Indonesia dan jawabannya sungguh nyesek, “gak tau, kita cuman ikutan ngantri aja. Entar tanya aja waktu di depan loket.” Gdubrak!!! Kita mulai menyusun strategi. Saya antri untuk loket yang di depan eskalator, sedangkan Anggi antri loket yang berada di belakang eskalator. Antrian saya rupanya lebih cepat karena orang yang bawa ransel atau koper sedikit. Dan rupanya itu loket top up dan juga bisa melayani pembelian kartu ezlink. Hore!  Saya segera menghampiri teman saya dan memberitahu rombongan wisatawan tadi.

Singapore Expo

Singapore Expo

Di gerbong MRT, kita berkenalan dengan dua orang tante-tante dari Nganjuk yang juga baru pertama kali ke Singapura. Saat berada di Tanah Merah Station, banyak orang mulai turun. Tapi kita berempat stay cool aja duduk manis. Tiba-tiba kereta berjalan mundur.

“loh, kok mundur?”

“tenang wae, keretanya hanya satu dari airport. Jadi bolak-balik dulu”, kata salah satu tante dari Nganjuk

“lalu… bolak-baliknya berapa kali?”

“hmmmm… embuh (gak tau)….”

>.<

Krik…krik…krik…

Pacitan: Hidden Emerald in Java (part 3)

HARI KE-2

Setelah pada hari pertama menyusuri objek wisata Pacitan bagian barat, maka untuk hari kedua kami akan menyusuri Pacitan bagian timur. Kami janjian dengan si driver berangkat dari hotel jam 5.30 pagi. Oh ya, kali ini kami bermalam di Hotel Minang 2 yang merupakan hotel baru. Rp 90 ribu sudah dapat bed master dan kamar mandi dalam. Berhubung hotel baru, resepsionisnya pun sepertinya juga masih malas-malasan buat kerja. Kami harus menggedor-gedor ruang resepsionis berkali-kali agar mereka bangun dan membuka pintu gerbang hotel.

1. Pantai Bawur

Tujuan pertama adalah yang paling timur dan berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek yakni Pantai Bawur. Kami diajak melewati Jalur Lintas Selatan Jawa yang masih baru dan pada beberapa bagian jalan masih dalam proses konstruksi. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pantai Bawur yang telah menjadi PLTU. Gagal melihat pantai, jadinya kami berfoto-foto saja diatas bukit dengan pemandangan cerobong PLTU Bawur.

DSC_0997 copy

Jalur Lintas Selatan Jawa

DSC_1047 copy

PLTU Bawur

DSC_1002 copy

Jembatan Soge di Jalur Lintas Selatan Jawa

2. Pantai Taman

Rada ke barat sedikit dari PLTU terdapat Pantai Taman. Pantai yang terletak di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo ini memiliki bibir pantai yang panjang dengan ombak pantai selatan yang besar. Saat kami kesana tidak ada pengunjung yang datang. Jadi serasa private beach nih. Disini banyak gubuk yang bisa digunakan buat berteduh. Kasihan sekali nasib pantai ini, insfrastruktur sudah dibangun tapi sepi pengunjung.

Tiket masuk+parkir mobil: free

DSC_1061 copy

Pantai Taman

DSC_1141 copy

Tebingnya mirip Koh Samui ya 😀

3. Pantai Wawaran

Karena perbaikan jalan besar-besaran di Kabupaten Pacitan, jalan masuk utama menuju pantai ini ditutup. Si driver pun mencari jalan lain menuju pantai ini. Setelah melewati perumahan penduduk, hutan, dan tebing akhirnya kita sampai di… tambak udang. Wew. Untuk menuju ke pantai harus melewati tambak udang dan rawa-rawa yang maha luas. Kami mah ogah jalan kaki siang-siang gini. Akhirnya kami leyeh-leyeh dengan melihat pemandangan tambak yang biasa saja.

DSC_1160 copy

Gagal lihat pantai, jadinya melihat turbin air saja

4. Pantai Pancer

Pantai ini masih bagian dari Teluk Pacitan yang juga membentuk Pantai Telengria. Logikanya sih kalau dari Pantai Telengria jalan kaki menyusuri laut ke arah timur pasti akan sampai di pantai ini. Yang unik dari pantai ini adalah sebagai muara sungai. Disini bisa melihat pertemuan arus laut dan arus sungai. Sayangnya airnya butek, jadi wow nya ga ada. Dalam perjalanan balik ke Pacitan, kami melihat etalase geopark yang sedang dibangun. Jadi makin lengkap pariwisata kabupaten ini. Alamnya ada, ilmunya juga dapat.

Tiket masuk+parkir mobil: free karena lewat jalur belakang. Hehehe 😀

DSC_1187 copy

Muara Sungai di Pantai Pancer

DSC_1188 copy

Pantai Pancer yang tertutup bunga

DSC_1206 copy

Etalase Geopark

5. Masjid Agung Pacitan

Kurang afdol kalau menuju ke suatu daerah tapi tidak melihat masjid rayanya. Masjidnya tepat di seberang alun-alun dengan desain ala timur tengah. Saya melihat desain interiornya seperti masjid di Blok B Tanah Abang. Hehehe. Setelah sholat dhuhur, foto-foto, kami langsung capcus mengantar Awang dan Rahmat pulang. Sedangkan saya,Bowo dan Cak Soir menginap satu malam lagi disini.

DSC_1235

Salah satu menara masjid

DSC_1229

Interior Geometris

6. Rumah Kediaman SBY

Kami bertiga benar-benar penasaran sama tempat ini karena di setiap peta wisata Pacitan selalu ada dengan huruf yang dicetak besar. Letaknya sangat dekat terminal Pacitan, tinggal jalan kaki saja. Awal mula melihat depannya kami sedikit ragu, apa boleh masuk. karena penasaran, ya sudah nyelonong masuk saja. Rupanya di belakang rumah ada pendopo yang merupakan rumah zaman dulu tempat Pak SBY masih kecil. Ada guide juga yang siap memandu. Di dalamnya terdapat alat-alat musik dan beberapa foto kegiatan Pak SBY sebagai presiden RI. Sayangnya foto-fotonya gak update. Tidak ada foto saat menjadi presiden untuk periode kedua. Kata guide, saat periode pertama menjabat sebagai presiden, Pak SBY masih sering pulang dan menginap di rumah Pacitan. Tapi saat periode kedua, sama sekali tidak pernah datang karena sudah pindah ke Cikeas.

DSC_1242

Papan nama yang terpampang nyata

DSC_1245

Galeri catatan sang presiden

DSC_1252

nampang dulu. hihihi

Malam terakhir, kami nongkrong di alun-alun Pacitan sambil wisata kuliner malamnya. Pas enak-enak nongkrong, tiba-tiba hujan deras. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh. Kami juga berteduh sambil makan lagi. Setelah kenyang, pulang ke hotel dengan naik becak. Keesokan paginya, kami beres-beres dan pulang ke daerah masing-masing.

 

1  2  3

Pacitan: Hidden Emerald in Java (part 2)

3. Goa Gong

DSC_0657 copy

Goa Gong

Destinasi ketiga ini adalah salah satu destinasi wajib saat berkunjung ke Pacitan. Rumornya ini adalah goa terindah di Asia Tenggara (namun saya tidak menemukan sumber otentik tentang hal ini). Goa ini terletak di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung. Setelah membayar tiket, kami langsung berjalan menuju goa. Tidak seperti Goa Tabuhan yang masih alami, disini sangat komersil. Pintu masuk goa saja sudah buatan dan saat masuk terlihat banyak sekali lampu. Meskipun blower dipasang di beberapa tempat, pengapnya tempat ini sangat terasa karena banyaknya pengunjung. Mau foto-foto stalaktit dan stalakmit-nya aja harus cepat-cepat soalnya jalannya hanya satu arah. Dari 4 goa yang pernah saya kunjungi (Goa Maharani, Goa Akbar, Goa Tabuhan dan Goa Gong), ini menurut saya yang paling indah. Mungkin kalo superman ke goa ini dikira Fortress of Solitude versi tanah. Hahaha. Namun sayang sekali goa secantik ini kealamiannya sudah berkurang. Mungkin perlu seperti Goa Tabuhan yang akan masuk perlu bawa senter karena banyak sumber di internet yang mengatakan bahwa stalaktit dan stalakmit-nya masih “hidup” dan akan terus bertambah setiap tahun.

DSC_0637 copy

Stalaktit dan Stalakmit

DSC_0641 copy

Antrian Panjang di Dalam Goa

Tiket Masuk Goa Gong : Rp 6000/orang

 

4. Pantai Klayar

DSC_0833 copy

Icon Pantai Klayar

Inilah tujuan utama saya mengunjungi Pacitan. Melihat gambar pantainya di blog atau forum jalan-jalan sudah ngiler duluan. Pantai yang terletak di Kecamatan Donorejo ini sebenarnya di itinerary yang saya buat akan dikunjungi pada sore hari. Tapi berhubung kunjungan ke dua goa sebelumnya singkat, jadinya terpaksa dimajukan. Jam 11 siang sampai di tempat ini, pengunjung masih cukup banyak.  Kami pertama menuju bukit di sebelah barat untuk melihat pantai ini dari atas. Pemandangannya bener-bener keren. Pengen banget salto dari tebing sambil bilang WOW (tapi ingat nyawa, dude). Sebenarnya kalo jalan sampai ke bukit paling barat ada karang bolongnya, tapi terik matahari yang bikin malas jalan. Akhirnya kami balik lagi dan bermain di bawah tebing yang banyak bebatuannya. Di bagian tengah pantai banyak orang yang bermain pasir (kami skip juga main pasirnya karena panas). Kami langsung menuju landmark pantai ini, yaitu deretan batu karang yang menjulang dan menjorok ke laut dan di baliknya terdapat seruling laut. Saya kira seruling laut itu batunya bisa mengeluarkan bunyi seperti seruling, rupanya air yang menyembur dari bawah kalau ada ombak. Mirip-mirip air mancur lah. Dengan fenomena seruling laut dan pemandangannya yang so amazing, saya sangat merekomendasikan pantai ini untuk siapapun yang berkunjung ke Pacitan.

DSC_0663 copy

Naik-naik ke Puncak Gunung

klayar

Samudra Hindia dan Vandalisme

DSC_0710 copy

Pantai Klayar dari atas Bukit

DSC_0715 copy

Tempat Favorit buat Memancing

DSC_0787

Seruling Laut

Tiket Masuk Pantai Klayar : Rp 3000/orang +mobil Rp 2000

Tiket Masuk Area Seruling Laut : sukarela, tapi kami bayar Rp 10000

DSC_0826 copy

Pantai Klayar Sisi Timur

5. Pantai Watu Karung

DSC_0862 copy

Pantai Watu Karung

Destinasi kelima kami adalah Pantai Watu Karung yang terletak di Desa Watu Karung, Kecamatan Pringkuku. Pantainya menurut saya sih standard pantai-pantai di selatan jawa dengan pulau-pulau kecil di lepas pantai. Ombaknya besar dan cocok untuk surfing, sayangnya siang itu ga ada yang surfing. Pengunjung yang kesini pun sangat sedikit. Kata si driver, tebing-tebing di sekitaran pantai ini kebanyakan sudah beralih kepemilikan ke warga Australia dan Belanda. Pantesan di pantai ini terlihat beberapa bule yang nyasar.

Tiket Masuk Pantai Watu Karung : Rp 3000/orang

 

6. Pantai Srau

DSC_0972 c

Sunset di Pantai Srau

Destinasi terakhir kami adalah Pantai Srau yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Pringkuku. Pantai ini cukup luas dan terdapat bumi perkemahan di dekat pantai. Dan sore itu, kami ikut menyaksikan para penduduk yang memancing ikan di tebing. Yang bikin takjub adalah mata kailnya ga sampai menyentuh air laut, jadi dibiarkan menggantung di tebing. Saat ombak datang, ikannya sudah kena sendiri. Mantapp. Di pantai ini juga, kami menikmati detik-detik tenggelamnya matahari yang sayangnya saat itu tertutup awan. Pantai ini juga layak dikunjungi selain Pantai Klayar.

DSC_907 c

Mancing-mania

DSC_0933 c

Karang Bolong di Pantai Srau

Tiket Masuk Pantai Srau : Rp 3000/orang+mobil Rp 2000

DSC_0931

i..i..ini pa..pantai

1 2 3

Pacitan: Hidden Emerald in Java (part 1)

Pacitan, sebuah kota kecil di ujung terbarat Provinsi Jawa Timur tiba-tiba menjadi fenomenal . Di tahun 2004, putra daerah kota kecil itu menjadi RI 1 pertama yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia. Saya yang waktu itu masih ingusan  gak tahu dimana letaknya. Saya malah mengira Pacitan dengan Pacet (sebuah desa wisata di Mojokerto) itu sama. Hahaha. Perencanaan backpacking kali ini termasuk yang paling lama. 6 bulan bo’! ini dikarenakan pada awalnya didesain buat solo backpacker, lalu ada teman yang minta join jadi diubah lagi. Kemudian pada akhirnya dibuat sekalian jadi ajang reuni. Objek wisata yang pada awalnya hanya beberapa saja ditambah lagi. Prinsipnya kan semakin banyak orang, shared cost yang dibayar setiap orang semakin kecil. Jadi rugilah kalau yang dikunjungi hanya sedikit. Hohoho

DSC_0500 copy

“Selamat Datang di Kota Kelahiran SBY”

Malam sebelum hari H, Bowo dari Pamekasan datang ke Jombang dan bermalam di kos saya. Esok paginya, kami menuju Terminal Madiun untuk bertemu Soir dari Palu. Bus patas menuju Pacitan berangkat jam 1 siang tapi penuh sesak, jadinya kami naik bus kecil menuju Ponorogo kemudian oper bus jurusan Pacitan yang cukup banyak pilihannya dari Terminal Ponorogo. Ponorogo-Pacitan ditempuh kurang lebih selama 3,5 jam karena ada episode ganti ban. Untungnya tempat ngetemnya bagus, jadi bisa nunggu sambil foto-foto. Saat sudah berada di Pacitan, kami memutuskan turun di Pasar Minulyo. Pasar Minulyo ini untuk ukuran suatu pasar tradisional cukup rapi dan fasilitasnya lengkap, musholanya aja ada di bagian depan dan ga kumuh. Kalau pagi pasar ini menjadi pasar biasa tapi kalau malam berganti jadi pusat kuliner. Tapi ya gitu, kebanyakan jualannya penyetan dan mie ayam. Kami memilih makan soto yang kami kira soto pacitan rupanya soto madura biasa.

DSC_0505 copy

Ganti sirkuit, ganti ban

DSC_0504 copy

Kealamian Pacitan

DSC_0513 copy

Denah Pasar Minulyo Pacitan

Setelah kenyang, kami berjalan kaki menuju pusat kota untuk mencari hotel. Hotel pertama yang kami tuju adalah Hotel Pacitan yang terletak di seberang alun-alun, namun sayangnya hanya tersisa satu kamar. Kami balik lagi menuju Jalan Ahmad Yani dan akhirnya terpaksa membooking di hotel Remaja. Saya menghubungi 2 teman saya yang lain yaitu Rahmat dari Bangkalan dan Awang dari Lumajang untuk bertemu di hotel ini. Karena rate kamarnya sangat murah, wajar kalau fasilitas hotelnya biasa saja. Kamarnya lembab dan tempat tidurnya apek. Saat tanya ke resepsionis untuk penyewaan kendaraan juga ga ada, hingga akhirnya kami menyewa mobil dari Hotel Srikandi yang jadi tetangga hotel ini.

 

HARI KE-1

Sesuai dengan itinerary yang saya susun, hari pertama ini akan menyusuri objek-objek wisata di bagian barat dari Kota Pacitan. Sedangkan hari kedua akan menyusuri bagian timur.

1. Pantai Telengria

DSC_0542 copy

Gundukan pasir di bibir pantai

Tujuan pertama kami adalah pantai yang paling dekat kota, yaitu Pantai Telengria. Pantai yang cukup luas ini adalah bagian tengah dari Teluk Pacitan. Pemandangannya hampir sama dengan pantai-pantai di selatan jawa dengan background pegunungan yang meruncing dan ombak yang besar. Disini kami hanya sebentar saja untuk berfoto-foto. Untuk sarapan, kita memutuskan menuju rumah makan Bu Gandos yang cukup terkenal. Jaraknya lumayan dekat dengan Pantai Telengria.

DSC_0548 copy

Pantai Telengria yang lapang

Tiket Masuk Pantai Telengria: Rp 5000/orang + Rp 3000/mobil

DSC_0553 copy

Monumen di Pantai Telengria

2. Goa Tabuhan

DSC_0571copy

Goa Tabuhan

Tujuan berikutnya adalah Goa Tabuhan yang terletak di  Desa Wareng, Kecamatan Punung yang jaraknya kira-kira 40 km dari Kota Pacitan. Nama awalnya adalah Goa Tapen, tapi karena stalaktit-nya saat ditabuh (dipukul) mengeluarkan bunyi seperti gamelan jawa makanya dinamakan Goa Tabuhan. Fakta yang saya temui rupanya ga semuanya bisa berbunyi, hanya beberapa saja di bagian depan goa. Dan saya kira show tentang “bunyi gamelan” ini gratis, rupanya harus bayar Rp 100.000. Untungnya rombongan di belakang kami ada yang bersedia bayar, jadi kami bisa menonton gratis. Hahaha. Semakin masuk ke dalam gua terdapat pertapaan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya namun semakin gelap dan lembab karena penerangan yang kurang. Sebenarnya dalam itinerary yang saya susun, setiap orang wajib bawa senter tapi nyatanya hanya saya saja yang bawa dan itupun kecil banget (senter dari powerbank :D). Saya tidak memperkirakan kalo gelapnya itu gelap banget sehingga akhirnya kami menyewa senter. Jalan menuju pertapaan juga naik turun serta licin dan pertapaannya kecil banget sehingga diluar logika aja orang bisa masuk kesitu. Tapi orang zaman dulu kan sakti-sakti jadi sepertinya semuanya jadi masuk akal. Hahaha

DSC_0611copy

Show di Goa Tabuhan, ada sindennya juga lho

DSC_0584copy

Pertapaan Pangeran Diponegoro

Tiket Masuk Goa Tabuhan : Rp 4000/orang + Rp 6000/orang untuk sewa senter

1 2 3