Jogja Expedition

Yogyakarta memang penuh kenangan. Kota yang mendapat sebutan sebagai kota pelajar ini masih  memegang teguh adat istiadat dan budaya lokal dalam setiap aspek kehidupan di tengah gempuran modernisasi dan westernisasi. Seingat saya, waktu SD masih sering ke kota ini, dan yang paling terakhir waktu zaman SMA untuk tugas sejarah.  Dan yang paling masih saya ingat adalah waktu perpisahan SD ke kota ini, dimana saya, teman-teman dan guru saya terpaksa menginap di Masjid Agung Yogyakarta karena biaya rekreasi yang kurang (duh, bakat menggembel saya rupanya sudah terbentuk sejak kecil). Karena itu, perpisahan tingkat dua zaman kuliah memilih Yogyakarta adalah sebuah pilihan yang tepat (sebenarnya karena ada teman yang siap menjadikan rumahnya sebagai basecamp untuk tidur. Hahaha ).

Saya dan beberapa teman kuliah berangkat dari Stasiun Tanah Abang Jakarta dengan kereta ekonomi Bengawan. Kereta sampai di stasiun Lempuyangan Yogyakarta tepat pukul 6.30 WIB. Saya dan beberapa teman dari grup DUREN yaitu Firman si kepala suku dari Magelang, Angga dari Banjarmasin, Sandy dari Jember, Soir dari Sidoarjo, Ari dari Jombang, Friza dari Rantauprapat, Ummi dari Binjai, dan Hepy yang menjadi host dalam acara jalan-jalan ini (lumayan mewakili Bhinneka Tunggal Ika lah nih grup J), segera menyewa mobil menuju rumah Hepy. Setelah perjalanan selama sekitar satu jam, kita sampai di rumah Hepy di kaki gunung Merapi. Karena homie-nya suasana disini, kita hanya leyeh-leyeh saja seharian dan baru sorenya keliling sekitar rumah dan melihat-lihat sawah. Malam harinya, Fery dari Klaten datang dan kita menikmati makan mie rebus bersama.

masa kecil (kurang) bahagia

Keesokan harinya, kita menuju ke Kota Yogyakarta tapi berangkatnya rada siangan karena harus meminjam kamera digital dulu ke Ucup. Untuk menuju ke kota, kita harus menerabas jalan di pekarangan orang , lalu naik bus mini dan terakhir naik Trans Jogja dan ini pertama kalinya saya naik Trans Jogja (noraknya :D). Ukuran halte Trans Jogja termasuk imut dan armada yang imut juga. Dan waktu sudah sampai di kota, kita semua kebingungan mau kemana dan akhirnya diputuskan menuju Taman Sari dengan berjalan kaki dari halte Malioboro. Pintu masuknya harus lewat pasar terlebih dahulu tanpa adanya papan petunjuk. Taman Sari yang sekarang adalah puing dari masterpiece bangunan yang dibangun pada zaman Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758 dan dahulu luasnya mencapai 10 hektar. Dahulu, Taman Sari digunakan sebagai pemandian raja dan keluarganya serta tempat bermeditasi. Mitosnya, ada sebuah lorong yang terhubung dengan Pantai Parangkusumo tapi saya waktu itu belum melihatnya (jangan sampailah nyasar sejauh itu. Hehehe ). Setelah puas berfoto-foto, kita kembali ke Malioboro untuk mengunjungi Benteng Vredeburg yang untungnya gratis karena adanya Pasar Seni di dalamnya. Malam hari, kita gunakan buat berbelanja oleh-oleh di sepanjang Jalan Malioboro.

ga perlu ikutan Dunia Lain buat ngliat penampakan 😀

view kota jogja dari Taman Sari

Hari berikutnya, kita menyewa mobil avanza untuk berwisata ke pantai BKK (Baron, Kukup, Krakal) yang berada di kabupaten Gunung Kidul. Bayangkan 11 orang (karena ketambahan Agus dari Purworejo plus sopir) harus berjejalan di mobil itu dengan perjalanan yang lumayan lama menuju Gunung Kidul, tapi kita semua tetap senang (and Thanks God, saya waktu itu masih langsing. Wkwkwk). Pantai pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Baron. Pantai yang terletak 40 km dari Yogyakarta ini berpasir cokelat. Di pantai ini terdapat TPI (Tempat Pelelangan Ikan), makanya banyak perahu yang tertambat disini. Untuk melihat keindahannya harus naik ke bukit dan akan terlihat teluk yang menciptakan Pantai Baron dan dari kejauhan terlihat Pantai Kukup.Pantai berikutnya adalah Pantai Kukup yang hanya berjarak 1 km dari Pantai Baron. Sebenarnya dari Pantai Baron bisa ke Pantai Kukup dengan menyisir bukit di pesisir pantainya, tapi apa gunanya dong nyewa mobil kalo ga digunakan? Hahaha. Pantai Kukup memiliki pasir dengan warna yang lebih bright daripada yang di Baron. Pantainya lebih sempit namun terdapat banyak karang yang menambah keeksotisan pantai ini. Ciri khas dari pantai ini adalah terdapat sebuah pondok di atas karang. Hmmm, hampir mirip pantai Balekambang di Malang. Di pantai ini, kita menggelar tikar untuk bersantap siang dengan makanan homemade dari Hepy. Yummy… Pantai berikutnya adalah  Pantai Krakal yang berjarak 6 km dari Pantai Kukup. Pantainya memanjang dan luas. Karena telah sore, pantai menjadi surut dan terlihat karang-karang di dasarnya. Disini kita hanya mencari biota laut di sekitar karangnya dan tentunya melihat sunset.

Pantai Baron

pantai Kukup

lomba lari di Pantai Krakal

Full Team di Pantai Krakal

Hari ke-4 semua orang telah tepar karena jalan-jalan di pantai kemarin. Jadinya sepanjang hari hanya molor saja di rumah. Malam harinya, kita bermain kartu sampai larut malam. Yang kalah dicoret mukanya pake bedak dan makan satu buah getuk yang pada beberapa jam sebelumnya kita bikin bersama. Alhasil, tidur kekenyangan karena mabuk getuk. Hari ke-5 berlanjut mengunjungi candi Prambanan dengan motor. Kita lewat shortcut sehingga perjalanan lebih cepat dan disinilah perjalanan saya berakhir. Saya harus pulang kampung ke Pasuruan dan teman-teman yang lain masih melanjutkan perjalanan ke Magelang sampai liburan semester berakhir.

kelas memasak: bikin gethuk

Pose dulu di Candi Prambanan

Special thanks for Hepy dan keluarga yang bersedia menampung kita selama di Jogja dan tentunya teman-teman DUREN yang ikut jalan-jalan ini; without you, this journey is impossible. FYI, file foto untuk jalan-jalan ini masih memegang rekor untuk foto terbanyak, 1.571 files bo’. Ckckck

Advertisements

Backpacking to Vietnam : Da Lat (part 2)

Saat hujan berubah menjadi gerimis, kita segera capcus menuju Da Lat untuk menuju Flower Park. Kita sempat nyasar dan tidak direkomendasikan oleh bapak-bapak yang kita tanyai soalnya terlalu jauh (8 km katanya its too far >,<). Kita tanya lagi jalan ke rombongan ABG jalan menuju ke Flower Park dan mereka menerangkan dengan jelas melalui maps di iPhone mereka (saya terlalu meng-underestimate penduduk lokal, sorry…). Da Lat Flower Park terletak di utara danau Xuan Huong yang menjadi pusat kota Da Lat dengan luas 7000 m2. Konsepnya hampir sama dengan Taman Bunga Nusantara dengan sekumpulan tanaman yang dibentuk menjadi patung ataupun membentuk suatu bidang geometri yang artistik. Sebelum balik ke hotel, kita nyoba makanan khas di sana yang ga tau namanya di parkiran. Bentuknya kayak wedang ronde tapi ada kembang tahunya. Enak rupanya…

teko dan bendera vietnam

bunga ungu unyu :3

kereta kencana rupanya juga ada disana. hahaha

pagar berbentuk naga

Balik ke hotel, langsung sholat jamak dhuhur-ashar, mandi, dan leha-leha nunggu waktu maghrib. Untuk waktu sholat, kita menyesuaikan dengan waktu jakarta karena kita mengasumsikan Da Lat dan Jakarta terletak pada bujur yang berdekatan. Hahaha… oh ya, masalah hotel tempat kita menginap ini cukup nyaman dengan selimut yang super tebal, cocok buat hawa dingin di kota ini. Kamar mandinya pun sudah ada bath up dan amenities yang dikasih pihak hotel lengkap.

Setelah berpakaian rapi, saatnya mencari… ups membeli makan malam. Mumpung di Da Lat yang terkenal dengan french resort-nya, maka kita memilih makan di restaurant  yang kelihatan high end class. Nama resto-nya Thanh Thuy Blue Water Restaurant, letaknya strategis karena berada di tepi danau Xuan Huong. Bangunannya dicat serba ungu dan dari outdoor place-nya bisa melihat view kota Da Lat dengan background Little Eiffel (sayang, lampu Little Eiffle-nya ga nyala L ). Saya kira yang dijual disini makanan perancis, rupanya kebanyakan makanan chinese dan vietnamese. Saya memesan seafood steam rice with vegetables dan kedua teman saya memesan fried rice, maklum selama di Vietnam masih belum mengisi perut pake nasi. Untuk minumnya, saya memesan teh dengan sari buah lokal. Kejadian lucunya adalah saat kita memesan ke waitress, salah seorang teman saya bertanya tentang menu yang akan dipilihnya, si waitress memanggil temannya. Setelah dijelaskan dengan english yang terbata-bata, saya gantian tanya, lalu dipanggilkan seorang lagi. Kemudian saya bertanya tentang buah yang ada di teh yang dihidangkan, dipanggilkan waitress lagi. Jadi total ada 4 orang waitresses yang melayani kita bertiga. Benar-benar pelayanan prima. Overall, makanan yang dihidangkan enak bagi kita yang kelaparan, kedinginan, dan jauh dari kampung halaman.

menikmati dinner mahal. wkwkwk

teh poci

Setelah kenyang, kita membelokkan motor ke suatu tempat yang ramai yang rupanya pasar Da Lat/Cho Da Lat. Disini berjejer stand penjualan garmen, yang khas disini tentunya pakaian untuk tempat dingin seperti sweater, cardigan, dan syal, juga terdapat stand makanan di ujung pasar. Disinilah bargaining skill dikeluarkan. Serasa nonton National Geographic Channel edisi barter manusia purba dengan aktor diri sendiri; mereka ga ngerti bahasa inggris, kita ga ngerti bahasa vietnam. Jadi kita tawar menawar pake tangan. Hahaha. Tapi awas ketipu, soalnya teman saya menawar pasmina dikira VND 70.000 dapat 2 rupanya dapat satu aja dan terlanjur deal. Setelah kejadian itu, kita menawarnya dengan cara mengetikkan angka d henpon dan diperlihatkan ke penjual. Setelah puas belanja, kita kembali ke hotel buat beristirahat.

Rincian biaya hari kedua:

Transport bus terminal-hotel : free

Hotel : USD 15 untuk 3 orang

Motor : VND 252.000 untuk 2 motor matic

Bensin : VND 90.000 untuk 2 motor matic

Tiket Pongour Waterfall : VND 10.000

Tiket Prenn Falls : VND 20.000

Minum Sari Tebu : VND 15.000 untuk 3 orang

Cable Car di Prenn Falls : VND 45.000 untuk 1 gerbong

Lunch mie dan jas hujan : VND 75.000 untuk 3 orang

Tiket Flower Garden : VND 20.000

Parkir : VND 4.000 untuk 2 motor

Camilan Tofu : VND 15.000 untuk 3 orang

Dinner : VND 140.000

1  2  3

Menebar Cinta di Waisak

Borobudur di Malam Waisak

cinta mestinya bagai sepasang sayap yang membawa kita terbang tinggi
cinta mestinya bagai udara yang membuat kita selalu memiliki harapan
tapi cinta juga mestinya bagai lukisan yang tak kunjung selesai
dengan begitu kita tak pernah meninggalkannya

kata-kata dalam salah satu buku Asmanadia terngiang-ngiang di pikiranku saat melihat lampion-lampion diterbangkan ke udara. Ada perasaan takjub, terpana, tercengang, damai, dan bahagia; seperti cinta. Padahal buku yang kubaca sebelum acara ke borobudur via e-book ini bercerita tentang intrik dalam berumah tangga (punya istri aja belum, sok-sokan ngomongin rumah tangga :P). Weits… back to the topic.

Acara pelepasan lampion sebenarnya adalah acara terakhir dalam perayaan Waisak di Borobudur. Perayaan Waisak sebenarnya panjang dan kompleks. Dimulai dari pengambilan air dari salah satu sumber mata air di Temanggung dan api abadi di Grobogan yang kemudian disimpan di Candi Mendut, kemudian doa-doa di Candi Mendut, dan dilanjutkan jalan ke Candi Borobudur. Berhubung saya dan teman saya, Dhani, baru datang setelah maghrib jadi cuma dapat acara yang di Candi Borobudur saja.

Malam itu, sudah cukup banyak wisatawan yang berada di parkiran candi. Pintu loket candi dibuka tanpa dipungut biaya (asik… ngirit :D). Kami pun segera ke arah naik ke arah candi Borobudur. Disana, kami berkenalan dengan traveller perempuan tua dari Belanda yang ikut serta dengan kami menonton prosesi Waisak. Hebatnya, meskipun sudah kepala lima tapi sudah travelling ke sebagian besar negara di Asia terutama yang ada jejak agama Budha-nya. Dia akan berada di Indonesia selama 3 bulan, 2 bulan untuk keliling magelang dan jogja, dan satu bulan berikutnya ke Jawa Timur yaitu ke Bromo, Ijen, dan perkebunan kaliklatak (i’m from Banyuwangi, and i don’t know that), kemudian balik lagi memperdalam agama Budha di India. Saat saya tanya pendapatnya tentang Indonesia, dia bilang kagum dengan sikap toleransi beragama disini, meskipun pada saat itu adalah perayaan hari suci agama Budha tapi yang merayakan tidak cuma penganut Budha. Dia mengatakan itu sambil menunjuk gerombolan perempuan berjilbab di salah satu sisi. Okay, our opinion is different about it.

Panggung utama untuk perayaan Waisak

Prosesi Pradaksina

Berhubung pada sore harinya hujan, karpet yang disediakan panitia basah sehingga kami harus duduk diatas bungkus makanan ringan yang disobek. Acara berlangsung khidmat dan lancar. Setelah acara pembacaan doa selesai, dilanjutkan dengan acara pradaksina. Pradaksina adalah prosesi mengitari candi Borobudur sebanyak 3 kali searah jarum jam dengan memegang lilin atau benda suci dengan tangan kanan karena jalan di sekeliling candi yang gelap sambil melantunkan doa-doa. Banyaknya lampu blitz dari kamera saat prosesi berlangsung menurut saya cukup mengganggu kesakralan prosesi ini. Setelah pradaksina selesai barulah acara yang ditunggu-tunggu, yaitu pelepasan lampion. Pelepasan dimulai di panggung utama oleh para biksu dan pengurus WALUBI. Kemudian para wisatawan bisa melakukan pelepasan lampion dengan membeli terlebih dahulu seharga Rp 100.000,-/buah di panitia. Berhubung saya dan Dhani sama-sama backpacker kere, maka kami hanya bisa menyaksikan puluhan bahkan mungkin ratusan lampion diterbangkan dan menghiasi langit di sekeliling Candi Borobudur. @.@

Menyalakan sumbu lampion

Lampion-lampion yang mulai beterbangan ke angkasa

Perayaan Waisak ditemani fenomena Supermoon

Tips: wajib bawa tripod buat menangkap momen-momen indah disini

1 Suro di Solo

Gara-gara ada mata kuliah Budaya Nusantara waktu kuliah, saya jadi sedikit mengerti tentang keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia. Salah satu yang menarik adalah peringatan 1 Suro dan saya pun berkesempatan melihatnya langsung di Solo. Peringatan 1 Suro di beberapa tempat berbeda, ada yang diisi nglarung di Pantai Ngliyep dan ada juga mandi berjamaah di air terjun Sedudo Nganjuk.

Peringatan 1 Suro di Solo dirayakan dengan kirab benda pusaka dari keraton. Kirab ini pertama kali dilakukan sekitar abad ke-17 pada zaman Raja Mataram Sultan Agung. Prosesi diawali dengan laku bisu (berjalan tanpa bicara) para keluarga keraton dan abdi dalam dalam pakaian adat jawa. Rute yang dilalui adalah Keraton Kasunanan-Gladak-Loji Wetan-Pasar Kliwon-Gajahan-Nonongan-Gladak kemudian kembali ke Keraton lagi. Barisan paling depan adalah polisi dan tentara untuk mensterilkan jalan, lalu diikuti dengan barisan pembawa benda pusaka dan keluarga keraton beserta para abdinya, dan terakhir adalah masyarakat. Prosesi laku bisu berjalan lancar bahkan beberapa cafe dan warung di sepanjang jalan buat prosesi yang sebelumnya “have fun” banget mendadak sunyi. Semua orang merayakannya dengan khidmat.IMG_0150

Keributan terjadi saat sampai di keraton dan petugas menutup pintu gerbang sehingga tidak semua masyarakat bisa masuk ke kawasan keraton. Saya pun berusaha meringsek masuk diantara orang-orang yang dorong-dorongan dengan para petugas dan saya berhasil masuk setelah mengaku sebagai wartawan kampus (benar-benar merusak citra wartawan dengan penampilan gembel saya wkwkwk). Acara berikutnya adalah salah satu keluarga keraton memberi ceramah dan diakhiri dengan rebutan bunga yang dilempar. Setelah itu keluarga keraton makan malam dan saya kira ada pembagian makanan gratis, eh rupanya ga ada. Ekspektasi yang terlalu tinggi. Hehehe. Saya sempat berkenalan dengan beberapa orang disana. Kebanyakan masyarakat yang hadir disini berasal dari Wonogiri, Boyolali, dan kota-kota sekitar Solo untuk memperoleh berkah. Yang bikin saya takjub adalah beberapa dari mereka,terutama yang kurang mampu, berjalan kaki dari kampung halamannya di sekitaran Waduk Gajahmungkur ke Solo. Kemudian semua keluarga keraton masuk ke dalam keraton dan pintunya ditutup. Semua orang duduk bersila di depan pintu dan saya juga ikut-ikutan. Setelah cukup lama duduk manis dan kaki mulai kesemutan, saya pun menyerah dan keliling keraton dan memfoto beberapa ornamennya.

Pukul 12 malam, kebo bule yang ditunggu-tunggu akhirnya dikeluarkan. Saya kira kebo bule yang akan diarak cukup banyak, rupanya Cuma beberapa ekor aja. Semua orang berebutan melihat dan lumayan banyak juga yang mengambil kotorannya. Katanya bisa mendatangkan berkah. Yieksss…

Toilet di Vietnam

Dengan terpaksa saya menuliskan post tersendiri untuk hal ini. Mungkin karena ini negara di luar negeri pertama saya, jadi kelihatan banget shock culture-nya. Sebenarnya saya sudah pernah membaca di beberapa blog ataupun forum travelling mengenai masalah toilet di vietnam kebanyakan tentang tidak tersedianya air.

Pertama kali menggunakan toilet di vietnam adalah di sebuah toko penjualan tiket bus HCMC-Dalat di Jalan Pham Ngu Lao. Saat menggunakannya,  air keluar dari kran mengalir dengan lancar, bahkan jernih dan tidak berbau kaporit seperti kebanyakan air di kota-kota besar di Indonesia.  Kesempatan kedua saat menggunakannya di gedung terminal bus Dalat. Karena sudah kebiasaan “ritual” di pagi hari, saya bergegas menuju toilet cowok. Toiletnya bersih dan lantainya kering. Saya mengecek wastafelnya dan airnya mengalir lancar jaya dan saya pun segera menggunakan toilet duduknya. Setelah saya selesai menggelar ritual, saya baru sadar kalau toiletnya ga ada flushnya, penyiram buat air dan tissue pun juga ga ada. Dengan susah payah, saya mengambil air mineral botolan pemberian dari pihak bus di saku ransel saya yang untungnya saya letakkan di lantai,  untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Kemudian baru bolak-balik merefill botol dari wastafel untuk membersihkan “hasil ritual”. Karena peristiwa itu, saya sebisa mungkin tidak menggunakan toilet kecuali saat berada di hotel. Namun saat saya mencoba menggunakan toilet di Blue Water Restaurant (Nhà Hàng Thanh Thủy), salah satu resto terkemuka di Dalat, toiletnya cukup unik karena unisex dan tempat sabun ditaruh di botol wine dengan wangi seperti aromaterapik, serta tak lupa airnya lancar tapi sedingin es. Brrr….

Kejadian konyol berikutnya terjadi saat perjalanan menggunakan bus dari Dalat ke Muine. Bus yang saya naiki tiba-tiba berhenti di kawasan hutan eucaliptus (pohon kayu putih). Beberapa penumpang turun dan menghilang di balik semak belukar. Karena lumayan lama menunggu, saya jadi ikutan turun. Saya baru tahu rupanya mereka mencari tempat yang pewe buat buang air kecil. Padahal kebanyakan yang turun adalah warga lokal dengan menggunakan gaun berlapis ala perempuan di telenovela lengkap dengan topi lebarnya. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, kapan lagi bisa pipis di hutan eucaliptus di vietnam. Hahaha

Penggunaan toilet berikutnya saat berada di Vincom Center, salah satu mal di HCMC. Kalau kebanyakan mal di Indonesia menempatkan toilet di pojok dan tiap lantai, berbeda dengan disini yang menempatkan toilet di pinggir tengah dan tak semua lantai ada toiletnya. Untungnya setiap di ujung eskalator, pihak mal menyediakan leaflet denah mall yang dapat diambil gratis.

Permasalahan toilet yang tidak ada air malah tidak saya temui di Vietnam. Namun teman saya katanya menemukan tidak ada air di toilet cewek di terminal bus Dalat dan bandara internasional Tan Son Nhat. sekarang pilih mana, toilet becek tapi ada airnya di Indonesia atau toilet kering tapi ga ada air di vietnam? 😀

Backpacking to Vietnam : Newbie

Umumnya, orang Indonesia  JALAN-JALAN ke luar negeri selalu memilih Singapura atau Malaysia sebagai destinasi pertama mereka. Karena saya adalah tipe orang yang ga umum, jadi memilih vietnam sebagai destinasi pertama. Huohoho 😎 . Waktu meminta izin ke ortu pun juga repot, “yang dilihat di vietnam itu apa?”. Saya pun juga ga bisa menjawab, masak harus dijawab survei lokasi perang Rambo. Wkwkwk

Saya memesan tiket Jakarta-Ho Chi Minh City (HCMC) dengan maskapai low cost carrier, Airasia, padahal saat itu belum punya paspor. Untung identitas pembeli bisa di update sebelum keberangkatan. Dengan berbekal buku “2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 Hari karya Sihmanto” dan buku Lonely Planet edisi Vietnam, saya pun siap menjelajah Vietnam.

Keberangkatan pesawat Surabaya-Jakarta pada pagi hari membuat saya harus sudah berada di bandara pada malamnya. Dulu di lantai 2 bandara Internasional Juanda ada aula berkarpet yang biasa digunakan untuk tidur bagi penumpang pagi, namun sekarang sudah berganti hotel. Akhirnya saya tidur dengan menguasai bangku di depan tenant A&W. Flight ke Jakarta tanpa delay dan sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta Terminal 1. Dari sana, saya berangkat ke Terminal 3 dengan shuttle bus. Terminal 3 sangat berbeda dengan Terminal 1 dan 2 yang terlalu obselete. Terminal 3 cukup modern dengan ruang tunggu yang nyaman dan stop kontak listrik yang tersebar di dinding sebelah kanan dari pintu depan. Setelah menunggu kurang lebih 4 jam, 2 orang teman saya akhirnya datang dan kita segera melakukan self check-in di Airasia check-in machine.

Flight ke HCMC rupanya delay sampe 1 jam dan saat di pemeriksaan dokumen, petugas imigrasinya menanyai saya tentang pekerjaan saya. Kepo banget dah –“ . penerbangan Jakarta-HCMC ditempuh dalam jangka waktu 3 jam. Di pesawat, kita memakan martabak sisa kemarin dan coklat yang dibawa temanku. Okelah buat mengganjal perut. Sesampainya di Tan Son Nhat International Airport rupanya pos imigrasi sudah sepi. Mungkin flight yang kita tumpangi adalah flight termalam sampai di sini. Di pos imigrasi cuma ditanya berapa hari di vietnam, dan taraaaaa… cap luar negeri pertama saya pun bersarang di paspor ^^. Kita segera turun ke lantai 1 dan menukarkan dolar ke dong vietnam. Kita mencari money changer dengan harga tertinggi 1 USD= 20.700 VND. Saya menukarkan 100 USD dan mendapatkan 2 jutaan dan dipotong jasa pelayanan. Tujuan berikutnya adalah mencari taxi menuju kawasan backpacker Pham Ngu Lao Street dan minta diturunkan ke operator bus yang menuju Dalat. Cukup repot juga menjelaskannya namun akhirnya mereka mengerti.

Sesampainya di operator bus, kita memesan  bus paling malam dengan harapan dapat sampai di Dalat jam 6-an pagi.  Sambil menunggu, kita jalan-jalan untuk mencari makan malam dan akhirnya kita memilih kedai pizza vegetarian dengan menu pizza Ortolana untuk ukuran medium 6 slices. Pizzanya lebih mirip kue leker saking tipisnya dengan topping mushroom,zuchinni, broccoli dan carrot. Saus sambalnya pun ga enak. Rasanya pedas merica tapi ada asam-asamnya. Namun pizzanya habis juga. Hahaha

pizza veggie, yummy. hahaha 😀

Bus menuju Dalat yang kita naiki lumayan bagus dengan bantalan leher di tiap kursi dan tiap penumpang mendapatkan air mineral juga. Kursinya empuk, wangi dan bersih serta petugasnya berseragam rapi dengan baju kemeja dimasukkan ke celana dan kancing paling atas juga dikenakan. Sebelumnya saya numpang ke toilet di operator bus (yang untungnya ada air) untuk wudhu, jadi pas di atas bus bisa sholat dengan tenang. Prinsip saya, travelling kemana saja it’s okay, yang penting ibadah tetap dijaga 🙂 (to be continue)

bus yang nyaman menuju Dalat

Rincian Biaya:

Bus ke Terminal Purabaya            : Rp 8.000

Ojek ke Bandara                     : Rp 30.000

Boarding pass domestik              : Rp 40.000

Lunch di Bandara                    : Rp 26.000

Boarding Pass internasional         : Rp 150.000

Sewa taxi bandara                   : 10 USD/3 orang

Bus HCMC-Dalat                      : 190.000 VND

Dinner Pizza                        : 135.000 VND/3 orang

2  3

Gadget: Mempermudah Hidup atau Malah Menyulitkan Hidup

Saya akui bahwa saya emang gadget mania terutama tentang ponsel. Saya selalu mengikuti perkembangannya. ImagePonsel pertama saya adalah Nokia 8210 yang ukurannya mini namun udah punya fitur Infrared, lumayan buat ngirim-ngirim kontak. Selang beberapa bulan, ganti dengan Nokia 6610 warna perak. Pada zamannya lumayan stylish, berwarna, bisa internetan pake WAP, namun masih belum ada kameranya. Naik kelas, ponsel pun ganti lagi dan saya menjatuhkan hati saya (ecieee…) pada Nokia 6610i. ImageFiturnya sama saja dengan Nokia 6610 namun dengan tambahan kamera. Dulu, semua objek saya foto, mulai dari semut sampe materi pelajaran buat contekan. Wkwkwk.

Zaman symbian mulai booming, akhirnya saya berganti lagi dengan Nokia 6670. ImageFitur sama dengan Nokia 7610 namun lebih murah dan body ga nyeleneh. Sejak saat itu hidup saya benar-benar tergantung dari ponsel. Semua aplikasi mulai dari games, aplikasi  penunjuk waktu sholat sampe musik terinstall di ponsel itu. Namun seiring berjalannya waktu dan keterbatasan waktu buat otak-atik ponsel, akhirnya balik lagi ke ponsel java dan saya memilih Sony Ericsson W550i. Ponsel ini bener-bener powerfull, speakernya aja ada tiga jadi kalo muter musik selalu jadi yang paling kenceng, game-gamenya udah 3D dan unyu-unyu, serta modelnya yang ga biasa yaitu pake model swivel atau memutar. Sebelum memakai soner W550i, saya mencoba beberapa ponsel macam Nokia N-Gage QD,Samsung V200i yang punya model flip dan kamera yg bisa diputar 180 derajat, dan LG KU380 dengan bodi geser, namun sepertinya kurang sreg aja. Wkwkwk.

Zaman kuliah sudah mulai menyukai jalan-jalan jadi harus punya gadget dengan fitur fotografi yang sip, jadi saya memilih Sony Ericsson W800i. Namun baru beberapa bulan dipake udah kena copet pas naik Kereta Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan. Dengan mempertimbangkan lebih sering jalan-jalan, jadi memilih gadget yang tipis dan jatuh pada Sony Ericsson W302. Waktu pertama kali backpacking ke bogor dan ke Sumatra pun masih memakai ponsel ini untuk foto-foto dan hasilnya lumayan lah.

Berhubung acara jalan-jalan semakin intens, jadi saya memerlukan gadget tersendiri buat minat saya pada fotografi yang semakin besar dan akhirnya saya memilih kamera digital Olympus Mju 1010 yang cukup tough walau terkena cipratan air. Jadi saat backpacking saat itu, saya membawa 2 gadget itu dan masih cukuplah ditaruh di saku depan tas ransel.

ImageSaat jalan-jalan, saya sering sekali kesasar jadi saya memerlukan gadget yang mempunyai fitur navigation dan gadget itu jatuh pada Samsung B7320 yang beroperasi di Windows Mobile 6.1 dan Garmin Maps bisa terinstall di dalamnya. Map-nya mempunyai detil yang cukup kaya dan sangat membantu saat city tour atau touring antarkota. Kamera digital tidak mempunyai fitur selengkap DSLR, jadi saya membeli Nikon D3100 dan Tripod Excell yang ga begitu berat jadi bisa dibawa treking ke gunung atau ke pantai.

Perkembangan social media semakin menggeliat. Untuk terus terhubung dengan teman-teman (sebenernya malas aja kalo ada teman yang selalu minta PIN), akhirnya membeli Blackberry 9300 dan untuk hiburannya dengan memakai Apple Ipod 4th. Biar ngeksisnya ga habis-habis, jadi perlu charger mobile dengan memakai Watson Powerbank. Hahaha

Jadi saat ini, kalo lagi backpacking ke suatu tempat harus membawa ponsel BB dan samsung dengan chargernya (untung sama-sama microUSB), powerbank dengan colokan ke port microUSB dan pin30, DSLR Nikon dengan tempat chargernya, iPod dan headset, dan Tripod. Tas ransel yang harusnya bisa buat tempat camilan jadi penuh dengan gadget dan perlengkapan pendukungnya. Ya…. kadang gadget ga selamanya mempermudah hidup.