Jogja Expedition

Yogyakarta memang penuh kenangan. Kota yang mendapat sebutan sebagai kota pelajar ini masih  memegang teguh adat istiadat dan budaya lokal dalam setiap aspek kehidupan di tengah gempuran modernisasi dan westernisasi. Seingat saya, waktu SD masih sering ke kota ini, dan yang paling terakhir waktu zaman SMA untuk tugas sejarah.  Dan yang paling masih saya ingat adalah waktu perpisahan SD ke kota ini, dimana saya, teman-teman dan guru saya terpaksa menginap di Masjid Agung Yogyakarta karena biaya rekreasi yang kurang (duh, bakat menggembel saya rupanya sudah terbentuk sejak kecil). Karena itu, perpisahan tingkat dua zaman kuliah memilih Yogyakarta adalah sebuah pilihan yang tepat (sebenarnya karena ada teman yang siap menjadikan rumahnya sebagai basecamp untuk tidur. Hahaha ).

Saya dan beberapa teman kuliah berangkat dari Stasiun Tanah Abang Jakarta dengan kereta ekonomi Bengawan. Kereta sampai di stasiun Lempuyangan Yogyakarta tepat pukul 6.30 WIB. Saya dan beberapa teman dari grup DUREN yaitu Firman si kepala suku dari Magelang, Angga dari Banjarmasin, Sandy dari Jember, Soir dari Sidoarjo, Ari dari Jombang, Friza dari Rantauprapat, Ummi dari Binjai, dan Hepy yang menjadi host dalam acara jalan-jalan ini (lumayan mewakili Bhinneka Tunggal Ika lah nih grup J), segera menyewa mobil menuju rumah Hepy. Setelah perjalanan selama sekitar satu jam, kita sampai di rumah Hepy di kaki gunung Merapi. Karena homie-nya suasana disini, kita hanya leyeh-leyeh saja seharian dan baru sorenya keliling sekitar rumah dan melihat-lihat sawah. Malam harinya, Fery dari Klaten datang dan kita menikmati makan mie rebus bersama.

masa kecil (kurang) bahagia

Keesokan harinya, kita menuju ke Kota Yogyakarta tapi berangkatnya rada siangan karena harus meminjam kamera digital dulu ke Ucup. Untuk menuju ke kota, kita harus menerabas jalan di pekarangan orang , lalu naik bus mini dan terakhir naik Trans Jogja dan ini pertama kalinya saya naik Trans Jogja (noraknya :D). Ukuran halte Trans Jogja termasuk imut dan armada yang imut juga. Dan waktu sudah sampai di kota, kita semua kebingungan mau kemana dan akhirnya diputuskan menuju Taman Sari dengan berjalan kaki dari halte Malioboro. Pintu masuknya harus lewat pasar terlebih dahulu tanpa adanya papan petunjuk. Taman Sari yang sekarang adalah puing dari masterpiece bangunan yang dibangun pada zaman Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758 dan dahulu luasnya mencapai 10 hektar. Dahulu, Taman Sari digunakan sebagai pemandian raja dan keluarganya serta tempat bermeditasi. Mitosnya, ada sebuah lorong yang terhubung dengan Pantai Parangkusumo tapi saya waktu itu belum melihatnya (jangan sampailah nyasar sejauh itu. Hehehe ). Setelah puas berfoto-foto, kita kembali ke Malioboro untuk mengunjungi Benteng Vredeburg yang untungnya gratis karena adanya Pasar Seni di dalamnya. Malam hari, kita gunakan buat berbelanja oleh-oleh di sepanjang Jalan Malioboro.

ga perlu ikutan Dunia Lain buat ngliat penampakan 😀

view kota jogja dari Taman Sari

Hari berikutnya, kita menyewa mobil avanza untuk berwisata ke pantai BKK (Baron, Kukup, Krakal) yang berada di kabupaten Gunung Kidul. Bayangkan 11 orang (karena ketambahan Agus dari Purworejo plus sopir) harus berjejalan di mobil itu dengan perjalanan yang lumayan lama menuju Gunung Kidul, tapi kita semua tetap senang (and Thanks God, saya waktu itu masih langsing. Wkwkwk). Pantai pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Baron. Pantai yang terletak 40 km dari Yogyakarta ini berpasir cokelat. Di pantai ini terdapat TPI (Tempat Pelelangan Ikan), makanya banyak perahu yang tertambat disini. Untuk melihat keindahannya harus naik ke bukit dan akan terlihat teluk yang menciptakan Pantai Baron dan dari kejauhan terlihat Pantai Kukup.Pantai berikutnya adalah Pantai Kukup yang hanya berjarak 1 km dari Pantai Baron. Sebenarnya dari Pantai Baron bisa ke Pantai Kukup dengan menyisir bukit di pesisir pantainya, tapi apa gunanya dong nyewa mobil kalo ga digunakan? Hahaha. Pantai Kukup memiliki pasir dengan warna yang lebih bright daripada yang di Baron. Pantainya lebih sempit namun terdapat banyak karang yang menambah keeksotisan pantai ini. Ciri khas dari pantai ini adalah terdapat sebuah pondok di atas karang. Hmmm, hampir mirip pantai Balekambang di Malang. Di pantai ini, kita menggelar tikar untuk bersantap siang dengan makanan homemade dari Hepy. Yummy… Pantai berikutnya adalah  Pantai Krakal yang berjarak 6 km dari Pantai Kukup. Pantainya memanjang dan luas. Karena telah sore, pantai menjadi surut dan terlihat karang-karang di dasarnya. Disini kita hanya mencari biota laut di sekitar karangnya dan tentunya melihat sunset.

Pantai Baron

pantai Kukup

lomba lari di Pantai Krakal

Full Team di Pantai Krakal

Hari ke-4 semua orang telah tepar karena jalan-jalan di pantai kemarin. Jadinya sepanjang hari hanya molor saja di rumah. Malam harinya, kita bermain kartu sampai larut malam. Yang kalah dicoret mukanya pake bedak dan makan satu buah getuk yang pada beberapa jam sebelumnya kita bikin bersama. Alhasil, tidur kekenyangan karena mabuk getuk. Hari ke-5 berlanjut mengunjungi candi Prambanan dengan motor. Kita lewat shortcut sehingga perjalanan lebih cepat dan disinilah perjalanan saya berakhir. Saya harus pulang kampung ke Pasuruan dan teman-teman yang lain masih melanjutkan perjalanan ke Magelang sampai liburan semester berakhir.

kelas memasak: bikin gethuk

Pose dulu di Candi Prambanan

Special thanks for Hepy dan keluarga yang bersedia menampung kita selama di Jogja dan tentunya teman-teman DUREN yang ikut jalan-jalan ini; without you, this journey is impossible. FYI, file foto untuk jalan-jalan ini masih memegang rekor untuk foto terbanyak, 1.571 files bo’. Ckckck

Backpacking to Vietnam : Da Lat (part 2)

Saat hujan berubah menjadi gerimis, kita segera capcus menuju Da Lat untuk menuju Flower Park. Kita sempat nyasar dan tidak direkomendasikan oleh bapak-bapak yang kita tanyai soalnya terlalu jauh (8 km katanya its too far >,<). Kita tanya lagi jalan ke rombongan ABG jalan menuju ke Flower Park dan mereka menerangkan dengan jelas melalui maps di iPhone mereka (saya terlalu meng-underestimate penduduk lokal, sorry…). Da Lat Flower Park terletak di utara danau Xuan Huong yang menjadi pusat kota Da Lat dengan luas 7000 m2. Konsepnya hampir sama dengan Taman Bunga Nusantara dengan sekumpulan tanaman yang dibentuk menjadi patung ataupun membentuk suatu bidang geometri yang artistik. Sebelum balik ke hotel, kita nyoba makanan khas di sana yang ga tau namanya di parkiran. Bentuknya kayak wedang ronde tapi ada kembang tahunya. Enak rupanya…

teko dan bendera vietnam

bunga ungu unyu :3

kereta kencana rupanya juga ada disana. hahaha

pagar berbentuk naga

Balik ke hotel, langsung sholat jamak dhuhur-ashar, mandi, dan leha-leha nunggu waktu maghrib. Untuk waktu sholat, kita menyesuaikan dengan waktu jakarta karena kita mengasumsikan Da Lat dan Jakarta terletak pada bujur yang berdekatan. Hahaha… oh ya, masalah hotel tempat kita menginap ini cukup nyaman dengan selimut yang super tebal, cocok buat hawa dingin di kota ini. Kamar mandinya pun sudah ada bath up dan amenities yang dikasih pihak hotel lengkap.

Setelah berpakaian rapi, saatnya mencari… ups membeli makan malam. Mumpung di Da Lat yang terkenal dengan french resort-nya, maka kita memilih makan di restaurant  yang kelihatan high end class. Nama resto-nya Thanh Thuy Blue Water Restaurant, letaknya strategis karena berada di tepi danau Xuan Huong. Bangunannya dicat serba ungu dan dari outdoor place-nya bisa melihat view kota Da Lat dengan background Little Eiffel (sayang, lampu Little Eiffle-nya ga nyala L ). Saya kira yang dijual disini makanan perancis, rupanya kebanyakan makanan chinese dan vietnamese. Saya memesan seafood steam rice with vegetables dan kedua teman saya memesan fried rice, maklum selama di Vietnam masih belum mengisi perut pake nasi. Untuk minumnya, saya memesan teh dengan sari buah lokal. Kejadian lucunya adalah saat kita memesan ke waitress, salah seorang teman saya bertanya tentang menu yang akan dipilihnya, si waitress memanggil temannya. Setelah dijelaskan dengan english yang terbata-bata, saya gantian tanya, lalu dipanggilkan seorang lagi. Kemudian saya bertanya tentang buah yang ada di teh yang dihidangkan, dipanggilkan waitress lagi. Jadi total ada 4 orang waitresses yang melayani kita bertiga. Benar-benar pelayanan prima. Overall, makanan yang dihidangkan enak bagi kita yang kelaparan, kedinginan, dan jauh dari kampung halaman.

menikmati dinner mahal. wkwkwk

teh poci

Setelah kenyang, kita membelokkan motor ke suatu tempat yang ramai yang rupanya pasar Da Lat/Cho Da Lat. Disini berjejer stand penjualan garmen, yang khas disini tentunya pakaian untuk tempat dingin seperti sweater, cardigan, dan syal, juga terdapat stand makanan di ujung pasar. Disinilah bargaining skill dikeluarkan. Serasa nonton National Geographic Channel edisi barter manusia purba dengan aktor diri sendiri; mereka ga ngerti bahasa inggris, kita ga ngerti bahasa vietnam. Jadi kita tawar menawar pake tangan. Hahaha. Tapi awas ketipu, soalnya teman saya menawar pasmina dikira VND 70.000 dapat 2 rupanya dapat satu aja dan terlanjur deal. Setelah kejadian itu, kita menawarnya dengan cara mengetikkan angka d henpon dan diperlihatkan ke penjual. Setelah puas belanja, kita kembali ke hotel buat beristirahat.

Rincian biaya hari kedua:

Transport bus terminal-hotel : free

Hotel : USD 15 untuk 3 orang

Motor : VND 252.000 untuk 2 motor matic

Bensin : VND 90.000 untuk 2 motor matic

Tiket Pongour Waterfall : VND 10.000

Tiket Prenn Falls : VND 20.000

Minum Sari Tebu : VND 15.000 untuk 3 orang

Cable Car di Prenn Falls : VND 45.000 untuk 1 gerbong

Lunch mie dan jas hujan : VND 75.000 untuk 3 orang

Tiket Flower Garden : VND 20.000

Parkir : VND 4.000 untuk 2 motor

Camilan Tofu : VND 15.000 untuk 3 orang

Dinner : VND 140.000

1  2  3

Menebar Cinta di Waisak

Borobudur di Malam Waisak

cinta mestinya bagai sepasang sayap yang membawa kita terbang tinggi
cinta mestinya bagai udara yang membuat kita selalu memiliki harapan
tapi cinta juga mestinya bagai lukisan yang tak kunjung selesai
dengan begitu kita tak pernah meninggalkannya

kata-kata dalam salah satu buku Asmanadia terngiang-ngiang di pikiranku saat melihat lampion-lampion diterbangkan ke udara. Ada perasaan takjub, terpana, tercengang, damai, dan bahagia; seperti cinta. Padahal buku yang kubaca sebelum acara ke borobudur via e-book ini bercerita tentang intrik dalam berumah tangga (punya istri aja belum, sok-sokan ngomongin rumah tangga :P). Weits… back to the topic.

Acara pelepasan lampion sebenarnya adalah acara terakhir dalam perayaan Waisak di Borobudur. Perayaan Waisak sebenarnya panjang dan kompleks. Dimulai dari pengambilan air dari salah satu sumber mata air di Temanggung dan api abadi di Grobogan yang kemudian disimpan di Candi Mendut, kemudian doa-doa di Candi Mendut, dan dilanjutkan jalan ke Candi Borobudur. Berhubung saya dan teman saya, Dhani, baru datang setelah maghrib jadi cuma dapat acara yang di Candi Borobudur saja.

Malam itu, sudah cukup banyak wisatawan yang berada di parkiran candi. Pintu loket candi dibuka tanpa dipungut biaya (asik… ngirit :D). Kami pun segera ke arah naik ke arah candi Borobudur. Disana, kami berkenalan dengan traveller perempuan tua dari Belanda yang ikut serta dengan kami menonton prosesi Waisak. Hebatnya, meskipun sudah kepala lima tapi sudah travelling ke sebagian besar negara di Asia terutama yang ada jejak agama Budha-nya. Dia akan berada di Indonesia selama 3 bulan, 2 bulan untuk keliling magelang dan jogja, dan satu bulan berikutnya ke Jawa Timur yaitu ke Bromo, Ijen, dan perkebunan kaliklatak (i’m from Banyuwangi, and i don’t know that), kemudian balik lagi memperdalam agama Budha di India. Saat saya tanya pendapatnya tentang Indonesia, dia bilang kagum dengan sikap toleransi beragama disini, meskipun pada saat itu adalah perayaan hari suci agama Budha tapi yang merayakan tidak cuma penganut Budha. Dia mengatakan itu sambil menunjuk gerombolan perempuan berjilbab di salah satu sisi. Okay, our opinion is different about it.

Panggung utama untuk perayaan Waisak

Prosesi Pradaksina

Berhubung pada sore harinya hujan, karpet yang disediakan panitia basah sehingga kami harus duduk diatas bungkus makanan ringan yang disobek. Acara berlangsung khidmat dan lancar. Setelah acara pembacaan doa selesai, dilanjutkan dengan acara pradaksina. Pradaksina adalah prosesi mengitari candi Borobudur sebanyak 3 kali searah jarum jam dengan memegang lilin atau benda suci dengan tangan kanan karena jalan di sekeliling candi yang gelap sambil melantunkan doa-doa. Banyaknya lampu blitz dari kamera saat prosesi berlangsung menurut saya cukup mengganggu kesakralan prosesi ini. Setelah pradaksina selesai barulah acara yang ditunggu-tunggu, yaitu pelepasan lampion. Pelepasan dimulai di panggung utama oleh para biksu dan pengurus WALUBI. Kemudian para wisatawan bisa melakukan pelepasan lampion dengan membeli terlebih dahulu seharga Rp 100.000,-/buah di panitia. Berhubung saya dan Dhani sama-sama backpacker kere, maka kami hanya bisa menyaksikan puluhan bahkan mungkin ratusan lampion diterbangkan dan menghiasi langit di sekeliling Candi Borobudur. @.@

Menyalakan sumbu lampion

Lampion-lampion yang mulai beterbangan ke angkasa

Perayaan Waisak ditemani fenomena Supermoon

Tips: wajib bawa tripod buat menangkap momen-momen indah disini