Traveling Dadakan ke Karimunjawa (Chapter III)

Jarang sekali saya bisa tidur selelap ini. Bangun pun tidak terusik dengan mesin kendaraan ataupun musik dangdut. Jadwal hari ini adalah snorkling di dua tempat yaitu pulau tengah dan pulau kecil. Sebelum berangkat tentunya tak lupa sarapan nasi goreng lauk ikan goreng dari homestay.

karimun6

Turquoise Everywhere

Karena arus laut dari timur lumayan kuat, snorkling di pulau tengah dan kecil dibatalkan. Sebagai gantinya akan snorkling di Pulau Cemara Kecil. Kurang lebih 20 menit dari pelabuhan sudah sampai di spot pertama. Karang-karang sudah kelihatan dari atas kapal. Ga sabar pengen cepat-cepat nyebur. Karena rombongan kami adalah yang pertama sampai di spot itu, visibility-nya benar-benar mantap sebanding dengan pulau gapang. Ikannya banyak meskipun kecil-kecil. Snorkling satu setengah jam pun terasa singkat. Tujuan kedua adalah ke penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Di pulau seluas 56 hektar ini terdapat 2 kolam yang berisi ikan hiu dan beberapa kolam untuk penyu dan hewan-hewan laut lainnya. Jangan dibayangkan di setiap kolam itu hiunya ada segelintir saja. Satu kolam isinya lebih dari selusin hiu. Bagi yang berani, monggo dicoba. Karena ada luka terkena karang waktu snorkling, saya tidak ikutan masuk kolam hiu 😛

karimun2

Bikini Bottom

karimun5

Hiunya banyak

karimun4

Mrs. Puff and Patrick Star

karimun3

Manta Ray-nya sakit 😦

Makan siang kami adalah makan ikan bakar di Ujung Gelam. Padahal hanya ikan tongkol biasa yang dibakar tanpa bumbu dengan sambal kecap saja, tapi semuanya terasa nikmat. Saya saja sampai habis 2 ikan bakar. Hahaha. Landmark dari pantai ujung gelam ini adalah barisan pondok kayu dengan background barisan pohon kelapa yang menjulang. Bagi yang mau eksis, tenang saja. Disini sinyal beberapa operator besar lumayan banyak lho. Oh iya, spot foto-foto yang lain adalah karang-karangnya yang menyembul. karimun1

Spot snorkling kedua hari ini adalah Gosong Cemara. Disini airnya rada keruh meskipun ikannya masih tetap banyak. Saya hanya snorkling tidak sampai seperempat jam karena merasakan perih di sekitar bahu dan leher. Teriknya sinar matahari rupanya tidak dapat ditangkis sunblock yang saya gunakan. Saya pun diceramahi para cewek yang tidak snorkling tentang penggunaan sunblock yang benar.hiyaaa…

Tips: penggunaan sunblock atau tabir surya yang benar adalah diaplikasikan setiap 2-3 jam sekali untuk aktivitas luar ruangan biasa. Untuk aktivitas di air, bisa digunakan setiap setengah jam atau 1 jam sekali. Baca petunjuk penggunaannya di bagian belakang botol sunblock.

karimun7

Padang Pasir di Laut

Pada sore hari, kami bergegas ke sebuah gosong yang makin lama makin mengecil tergenang air. Disini hanya foto-foto dan tentu saja melihat detik-detik terbenamnya matahari. Disini saya hanya bisa berdecak kagum melihat pemandangan indah ini. Terima kasih Ya Allah, telah menganugerahkan alam yang indah kepada Indonesia.

karimun0

Traveling Dadakan ke Karimunjawa (Chapter II)

Jam setengah lima pagi, bus sampai di Terminal Jepara. Para tukang becak langsung menyerbu bus. Beberapa penumpang bus ada yang menyewa angkot untuk menuju pelabuhan, tapi kebanyakan sih naik becak. Alhasil jalanan penuh becak kayak konvoi. Setelah sholat shubuh, saya jalan-jalan sebentar ke Pantai Kartini. Pantainya sebenarnya biasa saja tapi fasilitasnya lengkap dan bersih. Jam tujuh bertemu dengan tour leader dan rombongan tour yang saya ikuti yang hanya berjumlah tujuh orang termasuk saya. Wkwkwk

Jepara-20131012-00614

passengers are everywhere

DSC_0475i

Peta Kepulauan Karimunjawa

Kalau saya menganggap perjalanan Merak-Bakauheni adalah perjalanan dengan transportasi laut terlama, saya harus mengoreksi hal itu.Rupanya perjalanan ke Karimunjawa naik KMP Muria ini menghabiskan 6 jam! Karena long weekend, penumpang kapalnya meluber sampe di tangga kapal. Mau gerak aja sulit apalagi untuk menuju toilet yang jaraknya sekitar 10 meter dari kursi saja butuh perjuangan ekstra. Jalan melewati beberapa manusia yang tertidur di lantai butuh waktu sekitar 5 menitan, antrinya hampir setengah jam, dan di dalam kamar mandi ga sampe 2 menit. Hiburan diatas kapal ga ada. TV mati dan iri dengan ruangan sebelah yang menonton serial FTV sedangkan penumpang di ruangan yang sama dengan saya hanya disuguhi suaranya aja.

Setelah 6 jam perjalanan, kapal bersandar di pelabuhan Karimunjawa yang membuat mata belo. Warna airnya gradasi mulai turquoise sampe biru gelap. Di gerbang dermaga, sudah ada mobil yang siap mengantar ke penginapan. Jadi kepikiran kalau ala backpacker masih harus nego harga dulu buat transportnya, belum lagi nyari penginapan yang cocok (kacang lupa kulitnya nih. haha). Acara bebas untuk sore hari ini, saya manfaatkan dengan cuci mata di pulau utama Karimunjawa ini dengan peserta tour. Tujuan utamanya adalah landmark Pulau Karimunjawa yaitu alun-alun Karimunjawa. Di sore hari, banyak anak-anak yang bermain bola di sini. Di pinggiran alun-alun banyak penjaja gorengan dan cenderamata. Gorengannya enak, terutama yang pisang goreng. Untuk bakwan, butiran jagungnya bisa dihitung pake jari. Maklum semuanya disini serba impor dari Pulau Jawa.

DSC_0473i

Alun-alun Karimunjawa

Tips: Listrik di Pulau Karimun Jawa menyala antara pukul 6 sore sampai dengan 6 pagi. Sebenarnya jam setengah enam sore listrik sudah menyala dan jam 6 pagi tepat langsung padam. Kalau gadget banyak n semuanya boros, mending bawa semua charger-nya dan bawa stop kontak multiplug sendiri.

DSC_0474i

nyam nyam nyam

Spot paling bagus dan gampang diakses untuk melihat sunset adalah di dermaga. Sebenarnya ada spot yang lebih keren lagi menurut penuturan anggota TNI yang kami temui sebelumnya di alun-alun yaitu di bukit Joko Tuo. Sayangnya untuk aksesnya jauh, jalannya masih tanah, dan katanya banyak ular berseliweran. Hiii… Pada saat kesini, dermaganya masih dalam tahap konstruksi dan penuh dengan wisatawan dengan kamera dan tripod masing-masing. Untungnya saya berhasil menembus kerumunan orang-orang untuk mendapatkan tempat yang paling ujung.

DSC_0482i

nobar sunset >,<

DSC_0487i

^_^

Malam harinya, kami habiskan dengan nongkrong di tempat paling cozy dan mungkin satu-satunya cafe di Pulau Karimunjawa yaitu Amore Cafe. Makanan yang disajikan adalah western food dan makanan tradisional Indonesia. Harganya ya lebih mahal tapi masih bisa dijangkau. Pulangnya mampir di salah satu homestay yang sedang mengadakan nobar pertandingan U-19 yang mengukir sejarah dengan menang atas Korea Selatan. Pertandingan berakhir, kami nonton dangdutan sebentar. Kalau jam 7an malam yang diatas panggung masih anak-anak kecil, sekarang berganti pedangdut yang didatangkan langsung dari salah satu kota di Jawa Tengah. Lampunya sudah berganti dengan lampu disko. Semua orang berjoget menikmati irama dangdut. Saya kira dengan letak yang terpencil, semua penduduk lokal tidak membutuhkan hiburan. Rupanya saya salah. Hahaha

DSC_0472i

ini buah apa ya? kayak durian mini

Rumah Makan Lumintu

Tiap pulang ke Pasuruan, selalu heran dengan dengan rumah makan di daerah Watukosek-Mojokerto yang selalu ramai dengan parkiran yang sesak dengan mobil berbagai plat. Pengen nyoba tapi ga jadi-jadi dengan alasan yang biasa yaitu takut mahal. Wkwkwk. Pengalaman sudah membuktikan kalau tempat makan yang berada di jalan penghubung antarkota biasanya mahal karena hanya dijadikan tempat transit.

Karena rasa penasaran yang lebih besar, akhirnya saya mencoba juga dan kali ini hanya ada tiga mobil yang terparkir. Lumayan sepi daripada yang biasa saya lihat. Begitu masuk saya melihat beberapa orang yang memakai seragam polisi. Jadi ramainya tempat ini rupanya dijadikan tempat langganan tempat makan para anggota polisi. Watukosek sendiri memang sudah terkenal dengan pusat pendidikan dan markas komando brimob.

Pemesanan makanan disini persis dengan warung tegal. Tinggal nunjuk makanan yang diinginkan dan membawa sendiri makanan tersebut ke meja yang akan diduduki. Kali ini saya memilih sup dengan sambal goreng udang pete, orek tempe dan tak ketinggalan sambal tomat. Saya sebenarnya meminta porsi sambal tomatnya ditambah, eh rupanya hanya ditambah seperempat sendok makan saja. Oke, inilah efek dari kenaikan harga cabe di pasaran. Hiks L. Untuk minumnya, saya memesan jus jambu merah. Supnya lebih banyak mentimun. Potongan buncis dan wortelnya hanya 2 biji! Untung sambal goreng udang dan orek tempenya sudah pedas dan pas jadi selera makan jadi meningkat. Keringat sudah ngocor semua tapi minumannya masih belum datang. Bahkan sampai makanan sudah habis, minumannya masih ga ada. Sampai akhirnya saya konfirmasi lagi tentang pesanan saya dengan waitress-nya, baru beberapa menit kemudian minumannya datang. Emosi yang kedua adalah tentang pembayarannya yang gak teratur. Mentang-mentang saya yang paling muda dan paling cute (*ditampar wajan), saya selalu diterakhirkan. Sudah sabar ngantri dan pas giliran saya langsung diserobot yang di belakang saya, sampe tiga kali lagi. Langsung saja saya menghampiri kasir lewat samping. Nunjuk bon meja saya dan bayar. Beres…

lumintu copy

*nomnom

Info

Alamat : Jalan Raya Gempol-Mojosari (depan Pusdik Brimob Watukosek)

Penilaian (5.2/10)

Rasa                  : 7/10

Tampilan              : 5/10

Harga                 : 6/10

Pelayanan            : 2/10

Atmosphere      : 6/10

Fenomena Sambal Bu Rudy Surabaya

Semua orang membicarakan Sambal Bu Rudy Surabaya. Tiap saya mengetikkan “sambal surabaya” di mesin pencari Google, kebanyakan jawabannya mengarah kepada Sambal Bu Rudy. Apalagi sambalnya digaung-gaungkan sebagai sambal terenak se-Surabaya dan banyak dijual di forum Kaskus.Bikin penasaran banget kan?

Mumpung sedang di Surabaya, saya mencari keberadaan lokasinya. Lokasi induknya di Jalan Dharma Husada. Berhubung saya ga ngerti nama jalan di Surabaya, saya melakukan pencarian di Google Maps. Kalau dilihat di peta, jalannya panjang banget mulai dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sampai ke ujung timur. Nyetirnya harus pelan-pelan nih karena ga ada patokan lokasi persisnya. Untungnya ada blog yang memberikan ancer-ancer lokasi Sambal Bu Rudy yang terletak di seberang SMKN 5 Surabaya. Saya memulai pencarian baru di Google Maps untuk SMKN 5. Voila, di seberang SMKN 5 sedikit ke timur ada CIMB Niaga dan Sambal Bu Rudy. Sekarang masalahnya tinggal satu, harus mencari rute ke SMKN 5 Surabaya dengan posisi mobil sudah nyasar di Kapasan Surabaya. Saya dan Mas Kholik mulai membuat rute ke SMKN 5 Surabaya di handheld masing-masing dan konyolnya rute yang ditawarkan beda (bedanya sedikit sih) padahal sama-sama memakai Google Maps. Kalau di ponsel saya, rutenya Jalan Kusuma Bangsa-belok kiri sebelum SPBU di dekat Stasiun Gubeng-Gubeng Glingsingan-tembus ke Jalan Dharmawangsa-belok kanan sampai di Jaan Dharma Husada. Kalau di tablet Mas Kholik, bedanya setelah belok kiri sebelum SPBU di dekat Stasiun Gubeng-belok kanan ke Jalan Nias-Jalan Kertajaya-Jalan Dharmawangsa-Jalan Dharma Husada. Muternya lumayan jauh. Sekedar informasi, saya memakai OS Android Jelly Bean dan Maps terbaru sedangkan Mas Kholik memakai OS Android Gingerbread. Karena OS dan Maps saya terbaru, saya pede dong dengan rute yang ditawarkan. Saat mobil masuk Gubeng Glingsingan, jalan gang lumayan lebar untuk mobil. Pas di tengah-tengah jadi sempit karena banyaknya kendaraan yang parkir di sisi gang, akhirnya puter balik dan memakai rute Maps dari Mas Kholik.

Gubeng-20130926-00610

antriannya panjaaaaaang…

Sampai di Sambal Bu Rudy saat jam makan siang. Parkiran penuh dengan mobil sampai meluber ke bahu jalan, untung masih ada yang kosong. Rumah makannya lebih mirip pabrik. Bagian depan untuk dapur, di tengah toko oleh-oleh dan tempat makannya ada di paling belakang. Kami memesan menu andalan di sini, Nasi udang empal, ditambah dengan urap-urap. Untuk minumnya saya memesan es blewah dan mas Kholik memesan Beras Kencur. Ga sampai 5 menit, semua makanan dan minuman sudah tersaji. Ekspektasi saya terlalu berlebihan untuk makanannya. Kalau di gambar, udangnya melimpah sedangkan makanan di hadapan saya lebih banyak tepungnya dan di lidah saya terlalu asin. Empal dagingnya kecil. Urap-urapnya juga sedikit sekali padahal selisih dengan yang tanpa urap-urap adalah Rp 3000,- (tanggal tua harus perhitungan. Hohoho). Yang saya suka hanya sambalnya yang pedas dan nasi putihnya yang enak. Mau memfoto makanannya ga enak dilihatin terus sama waitress yang nongkrongnya di samping meja saya. Kami mempercepat makan siang di sini, karena kasihan melihat pengunjung lain yang antri untuk mendapatkan tempat duduk.

IMG-20130926-00609

plat nama

Info

Alamat : Jalan Dharmahusada 140, Surabaya

Telepon : 031-5920996

Penilaian (5.2/10)

Rasa                       : 6/10

Tampilan              : 5/10

Harga                    : 3/10

Pelayanan           : 8/10

Atmosphere      : 4/10

Traveling Dadakan ke Karimunjawa (chapter I)

karimun

Koral di Karimunjawa

Yang namanya mendadak itu kebanyakan gak bagus. Apalagi urusan jalan-jalan, pasti ada aja sesuatu yang ketinggalan untuk dibawa. Contohnya waktu jalan bareng keluarga ke Banyuwangi. Karena mendadak malas di rumah, akhirnya terbesit menengok saudara jauh di Banyuwangi sekalian jalan-jalan. Malam sebelum berangkat, baju-baju di-pack seadanya ke koper. Saya tak lupa membawa kamera,tripod dan charger-nya. Sesampainya di Banyuwangi, kamera gak bisa dihidupkan. Rupanya baterai kamera ketinggalan di rumah. Alhasil foto-foto memakai kamera handphone. Hahaha

Saat senggang di kantor, saya mempunyai hobi melihat kalendar dan merencanakan liburan untuk 3 bulan sampai 1 tahun kedepan. Hobi yang aneh kan? Banget -.-“. Kenapa minimal 3 bulan harus sudah direncanakan liburannya? Alasannya agar bisa hunting tiket promo. Hukum ekonomi selalu saya terapkan dalam backpacking: meminimalkan biaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Wkwkwk. Namun untuk liburan Idul Adha tahun ini membuat saya galau. Idul Adha jatuh hari Selasa tapi sama sekali gak dapat info tentang cuti bersama di hari Senin. Saya sebenarnya sudah pesimis masalah cuti bersama karena trauma dengan beberapa liburan tahun kemarin yang banyak gagalnya karena surat dadakan dari pusat agar kantor tetap buka meskipun yang lain libur (duh, kok malah curcol sih. Hehe).

Seiring berjalannya waktu, hari sudah masuk bulan Oktober dan saya baru mendapatkan kepastian cuti bersama seminggu sebelum long weekend Idul Adha. Arrgh… saya mencari tiket untuk penerbangan ke Tanjung Redeb atau Lombok tapi harganya sudah sangat mahal dan juga belum sempat membuat itinerary. Karena kerjaan masih menggunung (intinya malas ribet) dan waktu sudah mepet, saya akhirnya memilih liburan dengan agen travel dan dengan pasrah menerima apapun yang mereka tawarkan (asal sesuai dengan kantong saya juga lho). Setelah semalaman berkonsultasi via WA dengan agen travel, saya memilih paket liburan ke Karimunjawa untuk 4 hari 3 malam. Keesokan paginya, saya mentransfer DP tanda jadi ke agen travel dan voila… satu masalah liburan telah selesai.

===Jumat Malam===

Pulang kantor langsung mencari bus jurusan Surabaya. Jombang-Surabaya ditempuh dalam waktu 2 jam, lumayan cepat untuk jumat malam. Sesampainya di Terminal Purabaya, saya segera melangkahkan kaki menuju tempat tunggu bus patas Jurusan Semarang. Satu setengah jam menunggu, bus jurusan Jepara selalu sudah penuh. Tiba-tiba di depan saya ada 2 cewek bule dengan guide-nya mengobrol sambil berjalan. Saya sih menangkap beberapa patah kata tentang kapal dari mereka. Feeling saya mengatakan pasti mereka sama seperti saya, berencana ke Karimunjawa. Ya sudah saya ikuti saja mereka yang berjalan menuju terminal bagian timur kemudian mereka masuk bus PO Indonesia jurusan Jepara. Tuh kan, feeling saya benar. Hahaha.

Tips: kalau Long Weekend, lebih baik naik bus dari Terminal Purabaya bagian barat yang biasanya digunakan para sopir untuk istirahat. Saat turun dari bus di Terminal Purabaya, jangan langsung menuju ruang tunggu penumpang tapi berjalanlah ke utara mengikuti jalan aspal (patokan utara kalo saya adalah Apartemen CITO).

Bus yang saya naiki rupanya sudah sebagian penuh penumpang padahal mesin bus belum dinyalakan dan parahnya sopir serta kondekturnya aja belum ada. Saya menanyakan ke salah satu penumpang, apakah benar bus ini menuju Jepara dan diiyakan oleh mereka. Setelah sauna selama setengah jam, AC bus akhirnya hidup juga. Tepat pukul 21.00 WIB, bus pun berangkat dari Terminal Purabaya. Untungnya yang duduk di samping saya cewek yang asik diajak ngobrol dan enaknya lagi dia membawa banyak camilan. Tuh kan, kata siapa solo traveling itu membosankan?? 😀

Nyam-nyam di Kepiting Cak Gundul

Saya selalu tidak bisa mengelak kalau diajak berburu kuliner, apalagi kalau menu utamanya kepiting. I love seafood ❤ . Kali ini yang saya kunjungi adalah Kepiting Cak Gundul. Tempat makan ini lumayan tersohor dan sudah mendirikan cabang di Jakarta, Surabaya, Semarang dan Jogja. Padahal dulunya saat berdiri tahun 1992, Kepiting Cak Gundul hanya berbentuk tenda kecil di pinggiran jalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kepiting Asam Manis

Menu yang saya pesan adalah kepiting asam manis. Setelah menunggu sekitar 20 menitan sajian pun datang. Wuah, rupanya porsinya banyak banget. Warna saus asam manisnya sangat mencolok. Bagi saya, rasa asamnya sudah pas tapi rasa manisnya terlalu menonjol. Yang paling menyenangkan dari makan kepiting adalah acara membuka cangkangnya. Apalagi daging yang paling saya sukai adalah di bagian capit. Jangan ngaku crab lover deh kalau belum kesini 😛

Info

Alamat: Jalan Raya Surabaya-Malang KM 48 (dekat Masjid Cheng Ho Pandaan)

Telepon : 0343-639989

Penilaian (5.8/10)

Rasa : 8/10

Tampilan : 5/10

Harga : 6/10

Pelayanan : 6/10

Atmosphere : 4/10

Pacitan: Hidden Emerald in Java (part 3)

HARI KE-2

Setelah pada hari pertama menyusuri objek wisata Pacitan bagian barat, maka untuk hari kedua kami akan menyusuri Pacitan bagian timur. Kami janjian dengan si driver berangkat dari hotel jam 5.30 pagi. Oh ya, kali ini kami bermalam di Hotel Minang 2 yang merupakan hotel baru. Rp 90 ribu sudah dapat bed master dan kamar mandi dalam. Berhubung hotel baru, resepsionisnya pun sepertinya juga masih malas-malasan buat kerja. Kami harus menggedor-gedor ruang resepsionis berkali-kali agar mereka bangun dan membuka pintu gerbang hotel.

1. Pantai Bawur

Tujuan pertama adalah yang paling timur dan berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek yakni Pantai Bawur. Kami diajak melewati Jalur Lintas Selatan Jawa yang masih baru dan pada beberapa bagian jalan masih dalam proses konstruksi. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pantai Bawur yang telah menjadi PLTU. Gagal melihat pantai, jadinya kami berfoto-foto saja diatas bukit dengan pemandangan cerobong PLTU Bawur.

DSC_0997 copy

Jalur Lintas Selatan Jawa

DSC_1047 copy

PLTU Bawur

DSC_1002 copy

Jembatan Soge di Jalur Lintas Selatan Jawa

2. Pantai Taman

Rada ke barat sedikit dari PLTU terdapat Pantai Taman. Pantai yang terletak di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo ini memiliki bibir pantai yang panjang dengan ombak pantai selatan yang besar. Saat kami kesana tidak ada pengunjung yang datang. Jadi serasa private beach nih. Disini banyak gubuk yang bisa digunakan buat berteduh. Kasihan sekali nasib pantai ini, insfrastruktur sudah dibangun tapi sepi pengunjung.

Tiket masuk+parkir mobil: free

DSC_1061 copy

Pantai Taman

DSC_1141 copy

Tebingnya mirip Koh Samui ya 😀

3. Pantai Wawaran

Karena perbaikan jalan besar-besaran di Kabupaten Pacitan, jalan masuk utama menuju pantai ini ditutup. Si driver pun mencari jalan lain menuju pantai ini. Setelah melewati perumahan penduduk, hutan, dan tebing akhirnya kita sampai di… tambak udang. Wew. Untuk menuju ke pantai harus melewati tambak udang dan rawa-rawa yang maha luas. Kami mah ogah jalan kaki siang-siang gini. Akhirnya kami leyeh-leyeh dengan melihat pemandangan tambak yang biasa saja.

DSC_1160 copy

Gagal lihat pantai, jadinya melihat turbin air saja

4. Pantai Pancer

Pantai ini masih bagian dari Teluk Pacitan yang juga membentuk Pantai Telengria. Logikanya sih kalau dari Pantai Telengria jalan kaki menyusuri laut ke arah timur pasti akan sampai di pantai ini. Yang unik dari pantai ini adalah sebagai muara sungai. Disini bisa melihat pertemuan arus laut dan arus sungai. Sayangnya airnya butek, jadi wow nya ga ada. Dalam perjalanan balik ke Pacitan, kami melihat etalase geopark yang sedang dibangun. Jadi makin lengkap pariwisata kabupaten ini. Alamnya ada, ilmunya juga dapat.

Tiket masuk+parkir mobil: free karena lewat jalur belakang. Hehehe 😀

DSC_1187 copy

Muara Sungai di Pantai Pancer

DSC_1188 copy

Pantai Pancer yang tertutup bunga

DSC_1206 copy

Etalase Geopark

5. Masjid Agung Pacitan

Kurang afdol kalau menuju ke suatu daerah tapi tidak melihat masjid rayanya. Masjidnya tepat di seberang alun-alun dengan desain ala timur tengah. Saya melihat desain interiornya seperti masjid di Blok B Tanah Abang. Hehehe. Setelah sholat dhuhur, foto-foto, kami langsung capcus mengantar Awang dan Rahmat pulang. Sedangkan saya,Bowo dan Cak Soir menginap satu malam lagi disini.

DSC_1235

Salah satu menara masjid

DSC_1229

Interior Geometris

6. Rumah Kediaman SBY

Kami bertiga benar-benar penasaran sama tempat ini karena di setiap peta wisata Pacitan selalu ada dengan huruf yang dicetak besar. Letaknya sangat dekat terminal Pacitan, tinggal jalan kaki saja. Awal mula melihat depannya kami sedikit ragu, apa boleh masuk. karena penasaran, ya sudah nyelonong masuk saja. Rupanya di belakang rumah ada pendopo yang merupakan rumah zaman dulu tempat Pak SBY masih kecil. Ada guide juga yang siap memandu. Di dalamnya terdapat alat-alat musik dan beberapa foto kegiatan Pak SBY sebagai presiden RI. Sayangnya foto-fotonya gak update. Tidak ada foto saat menjadi presiden untuk periode kedua. Kata guide, saat periode pertama menjabat sebagai presiden, Pak SBY masih sering pulang dan menginap di rumah Pacitan. Tapi saat periode kedua, sama sekali tidak pernah datang karena sudah pindah ke Cikeas.

DSC_1242

Papan nama yang terpampang nyata

DSC_1245

Galeri catatan sang presiden

DSC_1252

nampang dulu. hihihi

Malam terakhir, kami nongkrong di alun-alun Pacitan sambil wisata kuliner malamnya. Pas enak-enak nongkrong, tiba-tiba hujan deras. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh. Kami juga berteduh sambil makan lagi. Setelah kenyang, pulang ke hotel dengan naik becak. Keesokan paginya, kami beres-beres dan pulang ke daerah masing-masing.

 

1  2  3