Pacitan: Hidden Emerald in Java (part 3)

HARI KE-2

Setelah pada hari pertama menyusuri objek wisata Pacitan bagian barat, maka untuk hari kedua kami akan menyusuri Pacitan bagian timur. Kami janjian dengan si driver berangkat dari hotel jam 5.30 pagi. Oh ya, kali ini kami bermalam di Hotel Minang 2 yang merupakan hotel baru. Rp 90 ribu sudah dapat bed master dan kamar mandi dalam. Berhubung hotel baru, resepsionisnya pun sepertinya juga masih malas-malasan buat kerja. Kami harus menggedor-gedor ruang resepsionis berkali-kali agar mereka bangun dan membuka pintu gerbang hotel.

1. Pantai Bawur

Tujuan pertama adalah yang paling timur dan berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek yakni Pantai Bawur. Kami diajak melewati Jalur Lintas Selatan Jawa yang masih baru dan pada beberapa bagian jalan masih dalam proses konstruksi. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pantai Bawur yang telah menjadi PLTU. Gagal melihat pantai, jadinya kami berfoto-foto saja diatas bukit dengan pemandangan cerobong PLTU Bawur.

DSC_0997 copy

Jalur Lintas Selatan Jawa

DSC_1047 copy

PLTU Bawur

DSC_1002 copy

Jembatan Soge di Jalur Lintas Selatan Jawa

2. Pantai Taman

Rada ke barat sedikit dari PLTU terdapat Pantai Taman. Pantai yang terletak di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo ini memiliki bibir pantai yang panjang dengan ombak pantai selatan yang besar. Saat kami kesana tidak ada pengunjung yang datang. Jadi serasa private beach nih. Disini banyak gubuk yang bisa digunakan buat berteduh. Kasihan sekali nasib pantai ini, insfrastruktur sudah dibangun tapi sepi pengunjung.

Tiket masuk+parkir mobil: free

DSC_1061 copy

Pantai Taman

DSC_1141 copy

Tebingnya mirip Koh Samui ya 😀

3. Pantai Wawaran

Karena perbaikan jalan besar-besaran di Kabupaten Pacitan, jalan masuk utama menuju pantai ini ditutup. Si driver pun mencari jalan lain menuju pantai ini. Setelah melewati perumahan penduduk, hutan, dan tebing akhirnya kita sampai di… tambak udang. Wew. Untuk menuju ke pantai harus melewati tambak udang dan rawa-rawa yang maha luas. Kami mah ogah jalan kaki siang-siang gini. Akhirnya kami leyeh-leyeh dengan melihat pemandangan tambak yang biasa saja.

DSC_1160 copy

Gagal lihat pantai, jadinya melihat turbin air saja

4. Pantai Pancer

Pantai ini masih bagian dari Teluk Pacitan yang juga membentuk Pantai Telengria. Logikanya sih kalau dari Pantai Telengria jalan kaki menyusuri laut ke arah timur pasti akan sampai di pantai ini. Yang unik dari pantai ini adalah sebagai muara sungai. Disini bisa melihat pertemuan arus laut dan arus sungai. Sayangnya airnya butek, jadi wow nya ga ada. Dalam perjalanan balik ke Pacitan, kami melihat etalase geopark yang sedang dibangun. Jadi makin lengkap pariwisata kabupaten ini. Alamnya ada, ilmunya juga dapat.

Tiket masuk+parkir mobil: free karena lewat jalur belakang. Hehehe 😀

DSC_1187 copy

Muara Sungai di Pantai Pancer

DSC_1188 copy

Pantai Pancer yang tertutup bunga

DSC_1206 copy

Etalase Geopark

5. Masjid Agung Pacitan

Kurang afdol kalau menuju ke suatu daerah tapi tidak melihat masjid rayanya. Masjidnya tepat di seberang alun-alun dengan desain ala timur tengah. Saya melihat desain interiornya seperti masjid di Blok B Tanah Abang. Hehehe. Setelah sholat dhuhur, foto-foto, kami langsung capcus mengantar Awang dan Rahmat pulang. Sedangkan saya,Bowo dan Cak Soir menginap satu malam lagi disini.

DSC_1235

Salah satu menara masjid

DSC_1229

Interior Geometris

6. Rumah Kediaman SBY

Kami bertiga benar-benar penasaran sama tempat ini karena di setiap peta wisata Pacitan selalu ada dengan huruf yang dicetak besar. Letaknya sangat dekat terminal Pacitan, tinggal jalan kaki saja. Awal mula melihat depannya kami sedikit ragu, apa boleh masuk. karena penasaran, ya sudah nyelonong masuk saja. Rupanya di belakang rumah ada pendopo yang merupakan rumah zaman dulu tempat Pak SBY masih kecil. Ada guide juga yang siap memandu. Di dalamnya terdapat alat-alat musik dan beberapa foto kegiatan Pak SBY sebagai presiden RI. Sayangnya foto-fotonya gak update. Tidak ada foto saat menjadi presiden untuk periode kedua. Kata guide, saat periode pertama menjabat sebagai presiden, Pak SBY masih sering pulang dan menginap di rumah Pacitan. Tapi saat periode kedua, sama sekali tidak pernah datang karena sudah pindah ke Cikeas.

DSC_1242

Papan nama yang terpampang nyata

DSC_1245

Galeri catatan sang presiden

DSC_1252

nampang dulu. hihihi

Malam terakhir, kami nongkrong di alun-alun Pacitan sambil wisata kuliner malamnya. Pas enak-enak nongkrong, tiba-tiba hujan deras. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh. Kami juga berteduh sambil makan lagi. Setelah kenyang, pulang ke hotel dengan naik becak. Keesokan paginya, kami beres-beres dan pulang ke daerah masing-masing.

 

1  2  3

Advertisements

Masjid Tiban Turen, masjid dengan pesona mistis

Huah….. setelah sebulan lebih terkurung di rumah akhirnya bisa keluar juga. Aku dan keluargaku berencana mengunjungi Masjid Tiban di daerah Malang. Pertama dengar namanya aneh banget, ga cool, dan berbagai statement negatif lain yang muncul. Dengan agak terpaksa akhirnya aku ikut juga daripada nonton sinetron di rumah.

Kami berangkat naik mobil sekitar jam 7 pagi dari Pasuruan dengan ditemani panas mentari yang menyengat sampai AC mobil belum mampu mengusir hawa panas ini. Perjalanan Pasuruan-Purwodadi seperti biasa cukup lancar sampai pada daerah Lawang yang  jalannya menanjak. Truk-truk berat mulai merayap perlahan yang menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.huh…benar-benar perjalanan yang membosankan. Sudah panas, macet lagi. Menurutku memang sudah seharusnya pemerintah pusat membangun jalan tol Pasuruan-Malang agar kemacetan gara-gara “truk tambun” dapat dicegah (ngarepnya….) jangan hanya mengurusi lumpur lapindo yang tidak akan selesai sampai 32 tahun lagi….

Setelah sampai di Singosari akhirnya lancar juga. Perjalanan yang mulus Singosari-Turen ditambah hawa dingin perbukitan mulai mengurangi bad mood-ku. Turen adalah sebuah ibukota kecamatan di kawasan Kabupaten Malang di bagian selatan. kota kecil ini terkenal dengan adanya pabrik pembuatan senjata Made in Indonesia, PT Pindad. Kompleks industri PT Pindad yang megah dan kokoh sangat mencolok bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan khas desa yang berada di sekelilingnya yang biasa-biasa saja. Sekitar 1,5 jam lebih perjalanan menuju desa Sananrejo, tempat keberadaan masjid misterius itu (perjalanan mobil ditambah nanya orang-orang ditambah kesasar).

Orang-orang di sekitar desa Sananrejo menamakan masjid tersebut dengan nama Masjid Tiban yang artinya masjid yang muncul dengan sendirinya. Banyak cerita-cerita ganjil yang menyertainya selain cerita tiban-nya seperti masjid yang dibangun oleh jin untuk dijadikan istana, orang-orang yang tidak akan menemukan masjid ini bila orang tersebut mempunyai niat untuk memperoleh pesugihan, sampai cerita ada orang yang meninggal di dalamnya karena karena tidak tahu jalan untuk keluar. Cerita-cerita tersebut mulai membuatku penasaran seperti apa rupa “Masjid Tiban” tersebut. Tempat masjid ini harus ditempuh lagi beberapa menit melewati jalan desa yang cukup mulus. Ketika mendekati lokasi masjid, mulai tampak jajaran bus yang sedang parkir di samping jalan serta puluhan jamaah yang akan  dan telah mengunjungi masjid tersebut. Kata ibuku, rombongan jamaah yang melakukan perjalanan ke Wali Limo biasanya mengunjungi masjid ini sebagai salah satu agenda perjalanan. Parkir mobil berada di dalam kompleks masjid dengan rute yang cukup membingungkan.

Finally, sampai juga di Masjid Tiban. Pertama melihatnya memang benar-benar aneh. Bangunannya lebih mirip istana dengan campuran arsitektur Arab, Cina, dan Jawa (Awesome….). Untuk masuk kesini diharuskan melepaskan sandal atau sepatu dulu. Aura mistis mulai terlihat saat memasukinya. Baru beberapa langkah dari pintu masuk sudah benar-benar gelap dengan lampu warna-warni yang temaram. Di lantai 1 terdapat beberapa koleksi ikan di dalam akuarium yang menjadi dinding masjid ini (ini masjid apa kebun binatang ya??), kamar-kamar, aula dengan ornament yang aneh, dan gazebo. Pintunya cukup banyak sehingga membingungkanku. Sambil pura-pura melihat ornament-ornamen di dinding, aku mendengarkan cerita guide yang memimpin sebuah rombongan. Rupanya tempat yang dikunjungi ini adalah pondokan untuk santri Ponpes Salafiyyah. Makanya aku heran kenapa tidak ada yang sholat disini. Jadi banyak orang yang salah menafsirkannya sebagai masjid, termasuk aku (mulai batasan ini Masjid Tiban diganti dengan Pondokan Ponpes Salafiyyah. Hhe…). Pondokan ini dinamakan Bi Ba’a Fadlrah yang merupakan singkatan dari Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahma, yang artinya Lautnya  laut, madunya Fadhaal Rahmat. Pondokan ini dibangun oleh Romo Kyai Ahmad pada tahun 1980-an. Pondokan ini memang awalnya dibangun untuk musholla tapi kemudian diganti untuk pondokan para santri. Dengan mengikuti rombongan di depan akhirnya bisa ke lantai-lantai diatasnya meski dengan beberapa kali berputar ke tempat yang sama. Jumlah lantai pada bangunan ini mencapai 10 lantai dengan fasilitas 1 lift. Tangga-tangga menuju ke lantai atas cukup sulit ditemukan kecuali setelah lantai 8. Ruangan-ruangan secara keseluruhan mempunyai tinggi antara 1,5-3,5 m dan pada beberapa lantai terdapat atrium. Yang hebat dari pondokan ini adalah tidak ada ruangan dengan bentuk dan ornament yang sama pada tiap lantainya. Pada beberapa tempat temanya adalah istana seperti yang biasa aku lihat di sinetron-sinetron siluman di Indosiar, ada tema hutan dengan tiang-tiang yang dibentuk seperti kayu lengkap dengan daun-daun plastic, ada tema istana Nabi Sulaiman dengan tapak-tapak batu di atas air seperti salah satu tantangan di Benteng Takeshi lengkap dengan ornament batu-batu besar buatan, dan tema-tema lainnya yang cukup unik. Sayang pondokan pada beberapa tempat masih dalam tahap pembangunan dan aku tidak bisa membayangkan kemegahannya bila telah selesai nanti.

Setelah puas berkeliling  dan foto-foto, kami sekeluarga langsung menuju parkiran mobil. Ketika akan keluar menuju gerbang, mobil kami diberhentikan oleh petugas gerbang yang menanyakan surat keluar kompleks ponpes.  Rupanya untuk kendaraan yang masuk diharuskan mengambil surat keluar yang berada pada salah satu pintu masuk pondok. Karena ingin cepat-cepat pulang, maka kami memberikan sejumlah uang agar bisa langsung keluar a.k.a menyogok. Petugas gerbang tidak mau menerima uang yang kami sodorkan dan mengatakan takut pada Allah dan prosedur Pondok Pesantren Salafiyah memang harus begitu. Dalam hati aku kagum pada petugas gerbang itu. Kalau saja semua orang Indonesia seperti itu, pasti negara tercinta ini bisa jadi sebuah negara maju. Akhirnya mobil kami balik lagi ke tempat pengambilan surat keluar yang tidak mengharuskan memberikan sumbangan. Setelah mendapatkan surat keluar, mobil kami bisa melenggang bebas dari kompleks bangunan mistis tersebut untuk kembali ke rumah tercinta.

Tips:

– bawa kantong plastik/ tas kresek untuk menyimpan sandal/sepatu yang Anda pakai

– bawa persediaan air minum. kalau tidak membawa terdapat kios makanan pada lantai 8

– jika takut tersesat, ikuti rombongan yang dipimpin oleh guide ponpes. selain tidak tersesat, juga mendapatkan informasi seputar Pondok Pesantren Salafiyyah ini. hhe

– jika suka dunia fotografi, wajib membawa kamera dengan tambahan lampu flash

– jika merasa capek, Anda bisa naik lift yang telah disediakan