hanya blog biasa, gak lebih, gak kurang

Disaat semua orang sibuk dengan kerja dan kuliah, aku dan tiga orang temanku (cak soir, bram dan ana) malah jalan-jalan. Berangkat dari Stasiun Pondok Ranji ke Stasiun Kota dan dilanjutkan ke Stasiun Depok Baru dengan menggunakan kereta ekonomi jurusan Bogor. Dengan melewati pasar di dekat stasiun, kami menuju ujung fly over untuk naik angkot D 03 menuju pertigaan parung bingung. Dari pertigaan, dilanjutkan dengan angkot lagi (ojek juga bisa atau jalan kaki kalo mo lebih ngirit lagi) menuju Masjid Kubah Emas.

Masjid Kubah Emas yang memiliki nama resmi Masjid Dian Al Mahri dibuka akhir 2006 ini menempati luas lahan 70 hektar. Dari gerbang masuk masjid, kami melewati taman dengan jejeran pot berisi adenium dan terlihat masjid yang dapat menampung 20.000 jemaah in dengan kubah emasnya. Masjid ini memiliki 4 kubah kecil, 1 kubah dan 6 minaret. Pintu masuk cowok dan cewek dipisah, yang cowok masuk pintu di sisi samping sedangkan cewek lewat halaman dalam masjid/plaza. Karena nyampe pas waktu sholat dhuhur, saat masuk kakiku harus berjingkat-jingkat karena lantai marmernya yang panas tapi terbayar dengan suasana dalam masjid yang mewah, tempat wudhu dan kamar kecilnya juga dibalut finishing yang mewah. Bagian dalam masjid dibalut warna yang kalem dengan dominasi krem dan yang membuatnya makin megah adalah lampu gantung seberat 8 ton yang digantung di kubah utama. Setelah sholat dhuhur dan puas foto-foto di lingkungan masjid, kami pulang dengan naik rute yang sama seperti berangkat tadi dan disini aku benar-benar merasakan sensasi naik KRL ekonomi pada saat jam pulang kantor. Huyuh…huyuh…

Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak mampu menjadi mampu. Tidak terbayang aku telah menapakkan kakiku di pulau Sumatera tepatnya di provinsi Lampung. Gerbang selatan Sumatera yang terkenal dengan ladanya.

Sebenarnya sudah mulai dulu ingin ke Sumatera. Namun keinginan semakin kuat setelah salah satu teman telah kesana ditambah bosan dengan objek-objek wisata di sekitaran Jakarta.  Setelah berdiskusi tentang tempat yang akan dikunjungi dengan kedua teman backpaking-ku, maka ditentukanlah waktu menuju kesana dan barang-barang yang akan dibawa.

Kami berkumpul terlebih dahulu di warung dekat kampus untuk membeli makan malam yang direncanakan akan dimakan di pelabuhan merak. Dengan menggunakan angkot sebanyak dua kali dan bus, kami menuju pelabuhan merak. Di pelabuhan merak, kita makan nasi bungkus dengan pemandangan malam pelabuhan yang menakjubkan. Setelah selesai makan dan sholat isya, kami membeli e-tiket ferry. Kami naik ferry yang berangkat pukul 1 dini hari dan naik di kelas eksekutif agar bisa tidur malam dengan nyaman J. Petugas akan meminta charge tambahan bila memilih d kelas eksekutif. Ruangan di kelas ini seperti lobby hotel dengan sofa sebagai tempat duduknya (tempat tidur bagiku. Hhe) dan fasilitas-fasilitas tambahan lainnya. Selain itu banyak petugas yang bertugas disini sehingga lumayan aman meskipun masih harus waspada. Tiga jam perjalanan ditempuh dari merak ke bakauheni.

Di pelabuhan bakauheni sudah banyak sopir untuk menawarkan jasanya dengan sedikit memaksa (malah beberapa ada yang memaksa dengan menarik-narik tangan. Grrrr….). untuk perjalanan ke terminal Rajabasa, kami memilih naik bus AC dengan pertimbangan melanjutkan tidur yang tertunda. Hehehe. Sebenarnya keinginan tidur sangat kuat, namun melihat pegunungan dengan latar belakang laut yang sangat mempesona ditambah terpaan sinar matahari pagi membuat aku terjaga dari tidurku. Subhanallah…. walaupun akhirnya aku menyerah juga. Perjalanan yang kami tempuh sampai di terminal Rajabasa adalah tiga jam. Setelah mandi dan sarapan nasi padang, kami mencari angkot yang mau membawa kami ke pantai mutun. Berhubung  ga ada yang pintar menawar, maka kami mendapat harga yang lumayan mahal (hiks… T.T) tapi tidak apa-apalah yang penting bisa ke tujuan utama kami di Bumi Ruwai Jurai. Jalan menuju pantai mutun cukup jelek. Tidak ada papan petunjuk menuju pantai ditambah lagi jalan yang sempit.

Pantai Mutun dan Pulau Tangkil

Untuk masuk ke sini tidak dikenakan tiket masuk, hanya tiket perkir kendaraan saja. Pantainya ga bagus-bagus amat, kotor, kalau mau pakai balai-balai harus sewa, plus sampai disana jam 11, fyuh… panasnya minta ampun.  Di pantai ini juga terdapat waterboomnya (tapi ga sempat kesana karena diburu waktu). Kemudian kami menuju pulau Tangkil yang terlihat dari pantai dengan menyewa perahu. Perjalanan dari pantai mutun ke pulau tangkil kira-kira 10 menitan. Sesampainya di sini, kami disambut dengan baliho besar bertulis Tangkil Resort Alami (nama yang bener-bener aneh O.o). pantainya beda dengan pantai mutun. Air lautnya sangat bening sampai bisa ngliat dasar laut. Selain itu, disini juga lumayan teduh karena banyak pohon. Fasilitas yang dimiliki pulau ini ada penginapan, kamar bilas, banana boat, kano, dan ATV. Pulaunya kumuh, banyak sampah dan batu berserakan, dan yang paling ngeri banyak anjing yang berkeliaran. Kami aja ngemil siang sambil nangkring di atas pohon meskipun anjing-anjingnya kelihatan jinak. Setelah puas main-main air dan foto-foto, kami bergegas kembali ke pantai mutun dan segera menuju kota untuk kembali ke Jakarta.

Kota Bandarlampung

Setelah 1 jam perjalanan dari pantai mutun, kami turun di stasiun TanjungKarang untuk melihat kereta api namun rupanya stasiun sudah tutup, jadi kami hunting oleh-oleh. Kami menemukan toko yang menjual makanan khas lampung yang cukup ramai di dekat stasiun (lupa nama tokonya). Aku membeli kerupuk emplang beberapa bungkus yang harganya bervariasi mulai Rp 1500 sampai Rp 8000 per bungkus dan sambal goreng lampung yang harganya Rp 25000 per bungkus. Kemudian kami mengunjungi bundaran gajah dengan berjalan kaki dan dilanjutkan naik bus kota yang sangat nyaman (mengingatkanku pada bus transjakarta koridor 1 tapi dengan kain penutup berwarna biru tua) menuju terminal Rajabasa. Di terminal Rajabasa, kami naik bus menuju Pelabuhan Bakauheni. Jam 8 malam kami sampai di bakauheni dan baru sadar bahwa ikon provinsi lampung belum kami kunjungi. Setelah sholat dan makan nasi padang (lagi), kami menunggu esok pagi dengan cerita-cerita geje (sampe berbusa mulut).   

Menara Siger

Sebenarnya jam 5.30 Menara Siger belum buka. Namun setelah berbicara baik-baik dengan satpam Menara Siger, akhirnya kami diperbolehkan masuk. untuk sampai di menara yang berada di atas bukit ini dapat menggunakan ojek, tapi berhubung uang sudah menipis jadinya kami jalan kaki. Fyuh… menara 6 lantai ini memiliki bentuk seperti topi adat mempelai wanita Lampung dengan dominasi warna kuning dan merah.  Dari pelataran menara yang memiliki tinggi total 32 meter ini, kami bisa menyaksikan sunrise dengan pemandangan aktivitas pelabuhan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. benar-benar speechless… di pelataran juga terdapat tugu krakatau. Menara Siger dipenuhi ornamen-ornamen khas Lampung seperti yang terlihat di tiang. Setelah puas menikmati keindahan di sekeliling menara dan berfoto-foto, kami balik menuju pelabuhan Bakauheni untuk kembali ke pulau Jawa.

1. Mencari info sebanyak-banyaknya tentang lokasi yang akan dituju. Info tersebut dapat dari orang yang sudah pernah kesana, media cetak, dan media elektronik. Di internet misalnya dapat melihat dan mengikuti forum indobackpacker@yahoogroups.com , info tentang bis di www.bismania.com , info tentang kereta api di www.kereta-api.co.id.
2. Rencanakan rundown perjalanan dan buat rencana cadangan kalau seandainya rencana utama tidak berjalan mulus.
3. Lihat prakiraan cuaca di lokasi yang dituju pada hari selama melakukan backpacking. prakiraan cuaca dapat dilihat di http://weather.yahoo.com/indonesia/
4. Bawa tanda pengenal (KTP, SIM, Kartu Mahasiswa, dll. Akte kelahiran, KK ga perlu dibawa kali…) dan fotocopy-annya.
5. Bawa lebih banyak uang dengan nominal kecil, simpan sebagian di tempat yang mudah untuk dikeluarkan misalnya saku jaket dan tas selempang kecil.
6. Bawa peta. Kalau antara satu objek dengan objek yang lain lumayan dekat lebih enak kan jalan kaki. Bisa juga memprint screen lokasi-lokasi yang akan dituju dari google earth. Kalau dalam rangka touring, bawa atau install GPS di hp. Aplikasi peta di hp bisa memakai google maps dan garmin GPS. peta GPS Indonesia dapat didownload di http://www.navigasi.net/goptd.php
7. Kalau masih nyasar, tanya pada petugas resmi, misalnya petugas stasiun, petugas terminal, polisi, dsb.
8. Memberi kabar ketika sampai di lokasi yang dituju pada keluarga atau teman agar bila terjadi sesuatu yang tak terduga mudah dilacak keberadaannya.
9. Jangan terlalu banyak mengekspos diri di dunia maya (terlalu banyak update status di fb, ngetweet, atau check in di foursquare). Ingat daya tahan baterai hp yang terbatas. Atur kecerahan layar hp dan profil nada dering. Bila lokasi yang dituju sama sekali tidak ada sinyal/blank spot, matikan hp atau atur dalam flight mode.
10. Bawa baterai cadangan untuk hp dan kamera. Bila habis, charge di tempat yang terpecaya (tentu dengan menanyakan boleh apa ga), misal di operator stasiun, restoran/rumah makan
11. Atur barang-barang di tas yang dibawa. Untuk barang yang jarang dipakai taruh paling bawah sedangkan barang yang sering dipakai taruh di tempat yang mudah dijangkau. Kalau bisa membawa tas selempang kecil untuk tempat catatan, tiket, kamera, tisu, permen, dan uang receh.
12. Sesuaikan pakaian yang dipakai dengan budaya dan kondisi lokasi yang dituju. Bila ke pantai, pakai bawahan dari kain dan atasan dari katun. Bawa topi, payung, dan beberapa kantong plastik untuk antisipasi. Pakai pelembab dengan SPF 20 bila ke lokasi yang panas karena terik matahari secara langsung.
13. Kalau bisa datang ke lokasi saat ada event-event tertentu. Misalnya hari jadi kota, maulud nabi bila ke kota solo, hari ke-14 bulan Kasodo bila ke Bromo.
14. Jaga kesehatan selama backpacking dan nikmati perjalanannya.

Suasana liburan udah mulai menyeruak dimana-mana. Keinginan akan jalan-jalan sudah membuncah di ubun-ubun. Dengan modal kepastian libur 3 minggu dari pihak kampus dan bonek (bondo nekat), para pandawa lima (Aku, Soir, Feri, Bram, dan Samsul) menyiapkan mental menuju Semarang sekalian pulang setelahnya untuk melepas kangen dengan keluarga.

Berangkat dari kos jam 18.30 dan sampai di Stasiun Senin jam 20.00. setelah memesan tiket Kereta Api Tawang Jaya, kami menunaikan sholat Isya di dalam stasiun sembari menunggu kereta yang berangkat jam 21.30.

Akhirnya kereta yang ditunggu-tunggu datang. Kami mendapatkan kursi di gerbong 3 tapi dengan kursi yang terpisah. Karena kita berangkat hari Senin, maka banyak kursi yang tidak berpenghuni. Melihat hal ini, kami berinisiatif pindah ke gerbong 10, gerbong paling belakang, agar bisa duduk bersama dan tidur dengan nyaman. Waa… senangnya bisa duduk sendirian di 2 tempat duduk sekaligus, alamat bisa tidur nyenyak nih…

Waktu terus berjalan. Jam 6.03 kereta sudah tiba di Stasiun Poncol, telat 55 menit dari jadwal yang seharusnya. Tujuan pertama kita adalah Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Tugu Muda dan Lawang Sewu

Dengan berjalan sekitar setengah jam-an, kita sudah berada di kompleks tugu muda. Di sekeliling tugu muda terdapat Lawang Sewu, Museum Mandala Bakti, Wisma Perdamaian, Gedung Pandanaran, dan Gereja Katedral. Tugu ini dibuat untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Semarang yang dipimpin oleh Mayor Kido untuk menyerang tentara Jepang yang memakan korban kurang lebih 2000-an orang pada 15 Oktober 1945.

Lawang Sewu adalah bangunan bergaya art deco tiga lantai karya arsitek Belanda, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag, yang dibangun tahun 1903 dan diresmikan pada 1 Juli 1907 untuk menjadi kantor pusat Perusahaan Kereta Api Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (ref: id.wikipedia.com). Untuk masuk ke dalam perlu membayar Rp 5000 per orang. Tapi karena masih banyak tempat yang akan dikunjungi, kita tidak masuk ke dalam. Pada saat kita kunjungi, Lawang Sewu masi direnovasi untuk dijadikan kantor PT KA DAOPS IV Semarang. Sebagai kenang-kenangan, kita berfoto-foto dulu di loko Kereta Uap  tipe C2301 buatan Jerman tahun 1908 di halaman depan gedung yang dianggap angker oleh masyarakat ini.

Setelah puas berfoto-foto, kita melanjutkan perjalanan masih dengan berjalan kaki ke Simpang Lima lewat Jalan Pandanaran.

Pusat Oleh-Oleh Khas Semarang dan Kawasan Simpang Lima

Semarang terkenal dengan Lumpia dan Bandeng Prestonya. Untuk membelinya bisa ke Pusat Oleh-oleh Pandanaran. Sayang, karena masih jam 8.00 tidak ada toko yang buka. Hiks…

Tidak sampai 10 menit kita sudah berada di Simpang Lima. Pada siang hari, Simpang Lima hanyalah lapangan rumput biasa di tengah kota. Karena tidak ada yang menarik, kami beristirahat sebentar ke Masjid Baiturahman untuk sekedar menyegarkan diri dari panasnya kota Semarang. Setelah rehat sejenak, Samsul pamit untuk pulang ke Salatiga dan 4 sekawan melanjutkan perjalanan menuju tempat berikutnya, Klenteng Sam Poo Kong. Okey, expedition must go on…

Kelenteng Sam Poo Kong

Dengan naik Angkot jurusan Simpangan dari Simpang Lima, kita menuju kelenteng yang terletak di jalan Simongan 129, Bongsari, Semarang Selatan. Bangunan ini cukup mencolok dari jalan utama dengan warna merah menyala. Tiket masuknya pun terbilang murah, hanya Rp 3000.

Kelenteng ini pertama kali dibangun tahun 1724 untuk mengenang Laksamana Cheng Ho yang dianggap leluhur masyarakat Tionghoa di Semarang. Kemudian diadakan pemugaran tahun 2002. Kelenteng dengan luas 3,7 hektar ini cukup rindang dan megah sehingga serasa sudah berada di Negeri Cina. Di belakang bangunan utama kelenteng terdapat Gua Batu yang diyakini sebagai tempat berlindung dan tempat tinggal Laksamana Cheng Ho saat terdampar di pantai Simongan. Sayang kami tidak dapat masuk karena hanya untuk orang-orang yang ingin sembahyang.Dan kami menikmati suasana kelenteng dengan berfoto-foto. Setelah dinilai cukup, saatnya hengkang dari sini menuju Pagoda Avalokitesvara.

Pagoda Avalokitesvara

Kami menuju kesana dengan bus jurusan Pudak Payung yang lewat di seberang jalan dari Kelenteng Sam Poo Kong. Dalam perjalanan, terlihat pemandangan menakjubkan semarang bawah dan juga melewati Taman Tabanas yang ditandai dengan tugu BI.

Pagoda ini terletak di lereng bukit di jalan Perintis Kemerdekaan atau di depan markas Kodam Diponegoro. Untuk masuk ke tempat ini tidak dipungut biaya alias gratis dan hanya menitipkan KTP yang dapat diambil saat pulang. Dalam kompleks pagoda ini terdapat batu yang berbentuk seperti gong, pohon bodhi, patung Dewi Kwan Im di empat penjuru, aula, dan tentunya pagoda yang masuk rekor MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Pagoda ini berbentuk segi delapan dan memiliki tinggi 45 meter.

Kami istirahat sejenak di bangunan aula untuk melindungi diri dari teriknya sinar matahari dan tentunya tak lupa untuk berfoto-foto lagi sebelum melanjutkan perjalanan. Karena waktu telah menunjukkan angka 12 lewat, kami melakukan sholat dulu di musholla di kompleks TNI yang berada di belakang kompleks pagoda ini. Setelah sholat, kami balik ke kota Semarang tepatnya ke daerah RS Karyadi untuk mencari makan siang. Saya memilih makan nasi mawut yang rupanya nasi dengan lauk ikan laut panggang yang dikasih kuah santan. Setelah kenyang, kami melanjutkan ke tujuan terakhir yaitu Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Tapi sayangnya guide kami, Bram, harus pulang menuju Ungaran.

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Dengan oper angkot sampai 3 kali, 3 backpacker sampai di MAJT. Masjid dengan fasilitas pendukungnya seperti kantor, perpustakaan, auditorium, dan toko-toko penjual cinderamata dan makanan ini diresmikan tahun 2006 di tanah seluas 10 hektar. Masjid ini terlihat sangat megah dengan plaza yang begitu luas dengan keenam payung raksasa yang biasanya dibuka saat Shalat Jumat. Di bawah plaza ini terdapat lahan parkir untuk mobil dan kendaraan roda dua. Tempat wudhunya juga cukup lapang dengan toilet yang jumlahnya cukup banyak. Sayang disini tidak ada pengaturan pintu masuk dan keluar untuk pria dan wanita seperti halnya di Masjid Dian al Mahri, Depok, yang dapat menghindari kontak langsung saat akan beribadah. Di kompleks MAJT ini juga terdapat bedug raksasa dan tower untuk melihat pemandangan kota semarang dari lantai 19. Untuk mencapai lantai 19, cukup membayar Rp 5000 yang saat turun tiketnya dapat ditukar dengan 3 sachet Marimas yang menurut kami ga penting banget. Oh iya, di lantai 18 terdapat restoran.

Mendung yang sudah cukup tebal akhirnya menumpahkan isinya ke bumi. Untungnya bus menuju terminal Terboyo lewat di jalan depan MAJT. Bis ini memiliki rute melewati kawasan kota lama Semarang sehingga kami dapat melihat pemandangan bangunan peninggalan zaman kolonial seperti Gereja Blenduk yang direnovasi tahun 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde sehingga memiliki arsitektur seperti sekarang. Di terminal Terboyo, aku dan Soir harus bepisah dengan Feri yang memiliki jalur pulang yang berbeda yaitu ke Klaten. Rupanya tidak hanya stasiun Tawang saja yang sering banjir, terminal Terboyo ini juga banjir. Bener-bener bad day. Bus jurusan Surabaya mulai berangkat jam 6-an malam dan sampai di Terminal Purbaya jam 3.30 keesokan harinya. Kemudian aku berpindah menuju bus jurusan Probolinggo sedangkan Soir tetap di bus karena rumahnya di daerah Taman. Alhamdulillah, aku sampai dengan selamat di rumah tepat saat adzan shubuh berkumandang….

Rincian Biaya Transportasi:
St. Pasar Senen-St. Poncol : KA Tawang Jaya Rp 28000
Simpang Lima-Kelenteng Sam Poo Kong : Rp 2500
Kelenteng Sam Poo Kong-Pagoda Avalokitesvara : Rp 3000
Pagoda Avalokitesvara-RS Karyadi : Rp 2500
RS Karyadi-Simpang Lima : Rp 2500
Simpang Lima-MAJT : Rp 2500×2
MAJT-Terminal Terboyo : Rp 3000
Terminal Terboyo-Terminal Purabaya : Rp 40000
Terminal Purabaya-Pasuruan : Rp 10000

Huah….. setelah sebulan lebih terkurung di rumah akhirnya bisa keluar juga. Aku dan keluargaku berencana mengunjungi Masjid Tiban di daerah Malang. Pertama dengar namanya aneh banget, ga cool, dan berbagai statement negatif lain yang muncul. Dengan agak terpaksa akhirnya aku ikut juga daripada nonton sinetron di rumah.

Kami berangkat naik mobil sekitar jam 7 pagi dari Pasuruan dengan ditemani panas mentari yang menyengat sampai AC mobil belum mampu mengusir hawa panas ini. Perjalanan Pasuruan-Purwodadi seperti biasa cukup lancar sampai pada daerah Lawang yang  jalannya menanjak. Truk-truk berat mulai merayap perlahan yang menyebabkan kemacetan panjang di belakangnya.huh…benar-benar perjalanan yang membosankan. Sudah panas, macet lagi. Menurutku memang sudah seharusnya pemerintah pusat membangun jalan tol Pasuruan-Malang agar kemacetan gara-gara “truk tambun” dapat dicegah (ngarepnya….) jangan hanya mengurusi lumpur lapindo yang tidak akan selesai sampai 32 tahun lagi….

Setelah sampai di Singosari akhirnya lancar juga. Perjalanan yang mulus Singosari-Turen ditambah hawa dingin perbukitan mulai mengurangi bad mood-ku. Turen adalah sebuah ibukota kecamatan di kawasan Kabupaten Malang di bagian selatan. kota kecil ini terkenal dengan adanya pabrik pembuatan senjata Made in Indonesia, PT Pindad. Kompleks industri PT Pindad yang megah dan kokoh sangat mencolok bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan khas desa yang berada di sekelilingnya yang biasa-biasa saja. Sekitar 1,5 jam lebih perjalanan menuju desa Sananrejo, tempat keberadaan masjid misterius itu (perjalanan mobil ditambah nanya orang-orang ditambah kesasar).

Orang-orang di sekitar desa Sananrejo menamakan masjid tersebut dengan nama Masjid Tiban yang artinya masjid yang muncul dengan sendirinya. Banyak cerita-cerita ganjil yang menyertainya selain cerita tiban-nya seperti masjid yang dibangun oleh jin untuk dijadikan istana, orang-orang yang tidak akan menemukan masjid ini bila orang tersebut mempunyai niat untuk memperoleh pesugihan, sampai cerita ada orang yang meninggal di dalamnya karena karena tidak tahu jalan untuk keluar. Cerita-cerita tersebut mulai membuatku penasaran seperti apa rupa “Masjid Tiban” tersebut. Tempat masjid ini harus ditempuh lagi beberapa menit melewati jalan desa yang cukup mulus. Ketika mendekati lokasi masjid, mulai tampak jajaran bus yang sedang parkir di samping jalan serta puluhan jamaah yang akan  dan telah mengunjungi masjid tersebut. Kata ibuku, rombongan jamaah yang melakukan perjalanan ke Wali Limo biasanya mengunjungi masjid ini sebagai salah satu agenda perjalanan. Parkir mobil berada di dalam kompleks masjid dengan rute yang cukup membingungkan.

Finally, sampai juga di Masjid Tiban. Pertama melihatnya memang benar-benar aneh. Bangunannya lebih mirip istana dengan campuran arsitektur Arab, Cina, dan Jawa (Awesome….). Untuk masuk kesini diharuskan melepaskan sandal atau sepatu dulu. Aura mistis mulai terlihat saat memasukinya. Baru beberapa langkah dari pintu masuk sudah benar-benar gelap dengan lampu warna-warni yang temaram. Di lantai 1 terdapat beberapa koleksi ikan di dalam akuarium yang menjadi dinding masjid ini (ini masjid apa kebun binatang ya??), kamar-kamar, aula dengan ornament yang aneh, dan gazebo. Pintunya cukup banyak sehingga membingungkanku. Sambil pura-pura melihat ornament-ornamen di dinding, aku mendengarkan cerita guide yang memimpin sebuah rombongan. Rupanya tempat yang dikunjungi ini adalah pondokan untuk santri Ponpes Salafiyyah. Makanya aku heran kenapa tidak ada yang sholat disini. Jadi banyak orang yang salah menafsirkannya sebagai masjid, termasuk aku (mulai batasan ini Masjid Tiban diganti dengan Pondokan Ponpes Salafiyyah. Hhe…). Pondokan ini dinamakan Bi Ba’a Fadlrah yang merupakan singkatan dari Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahma, yang artinya Lautnya  laut, madunya Fadhaal Rahmat. Pondokan ini dibangun oleh Romo Kyai Ahmad pada tahun 1980-an. Pondokan ini memang awalnya dibangun untuk musholla tapi kemudian diganti untuk pondokan para santri. Dengan mengikuti rombongan di depan akhirnya bisa ke lantai-lantai diatasnya meski dengan beberapa kali berputar ke tempat yang sama. Jumlah lantai pada bangunan ini mencapai 10 lantai dengan fasilitas 1 lift. Tangga-tangga menuju ke lantai atas cukup sulit ditemukan kecuali setelah lantai 8. Ruangan-ruangan secara keseluruhan mempunyai tinggi antara 1,5-3,5 m dan pada beberapa lantai terdapat atrium. Yang hebat dari pondokan ini adalah tidak ada ruangan dengan bentuk dan ornament yang sama pada tiap lantainya. Pada beberapa tempat temanya adalah istana seperti yang biasa aku lihat di sinetron-sinetron siluman di Indosiar, ada tema hutan dengan tiang-tiang yang dibentuk seperti kayu lengkap dengan daun-daun plastic, ada tema istana Nabi Sulaiman dengan tapak-tapak batu di atas air seperti salah satu tantangan di Benteng Takeshi lengkap dengan ornament batu-batu besar buatan, dan tema-tema lainnya yang cukup unik. Sayang pondokan pada beberapa tempat masih dalam tahap pembangunan dan aku tidak bisa membayangkan kemegahannya bila telah selesai nanti.

Setelah puas berkeliling  dan foto-foto, kami sekeluarga langsung menuju parkiran mobil. Ketika akan keluar menuju gerbang, mobil kami diberhentikan oleh petugas gerbang yang menanyakan surat keluar kompleks ponpes.  Rupanya untuk kendaraan yang masuk diharuskan mengambil surat keluar yang berada pada salah satu pintu masuk pondok. Karena ingin cepat-cepat pulang, maka kami memberikan sejumlah uang agar bisa langsung keluar a.k.a menyogok. Petugas gerbang tidak mau menerima uang yang kami sodorkan dan mengatakan takut pada Allah dan prosedur Pondok Pesantren Salafiyah memang harus begitu. Dalam hati aku kagum pada petugas gerbang itu. Kalau saja semua orang Indonesia seperti itu, pasti negara tercinta ini bisa jadi sebuah negara maju. Akhirnya mobil kami balik lagi ke tempat pengambilan surat keluar yang tidak mengharuskan memberikan sumbangan. Setelah mendapatkan surat keluar, mobil kami bisa melenggang bebas dari kompleks bangunan mistis tersebut untuk kembali ke rumah tercinta.

Tips:

- bawa kantong plastik/ tas kresek untuk menyimpan sandal/sepatu yang Anda pakai

- bawa persediaan air minum. kalau tidak membawa terdapat kios makanan pada lantai 8

- jika takut tersesat, ikuti rombongan yang dipimpin oleh guide ponpes. selain tidak tersesat, juga mendapatkan informasi seputar Pondok Pesantren Salafiyyah ini. hhe

- jika suka dunia fotografi, wajib membawa kamera dengan tambahan lampu flash

- jika merasa capek, Anda bisa naik lift yang telah disediakan

Lost In Bandung

Bulan November memang sangat menyenangkan. Meskipun jadwal kuliah mulai padet-padetnya n tugas yang menumpuk tapi masih bisa jalan-jalan. Dengan rencana yang cukup matang dan telah diramu di bulan September, akhirnya menetapkan tanggal 8 november untuk wisata ke waduk Jatiluhur. Hari H telah tiba. Tapi perasaanku mulai ga enak mulai bangun pagi. Dan benar saja semua rencana yang telah disusun menjadi berantakan. Dimulai dari jam berangkat yang molor. Sebelumnya direncanakan harus sampai di terminal Blok M jam 7.00 akhirnya molor sampe jam 7.30 padahal direncanakan naik Kereta Parahyangan jam 8.30 di Stasiun Gambir ;-(. Kesialan ini ditambah lagi lamanya perjalanan busway koridor blok M-Kota gara-gara demo mendukung KPK di bundaran HI dan demo memprotes penyerbuan Masjid Al Aqsa di persimpangan Bank Indonesia. Dengan asumsi lamanya perjalanan bila harus transit di halte Harmony yang kemudian dilanjutkan ke halte Gambir, maka kami turun di halte Bank Indonesia dan jalan kaki menuju Stasiun Gambir. Dengan semangat juang 45 akhirnya kami sampai di Stasiun Gambir jam 8.25 dan langsung menuju Aula Pembelian Tiket Langsung. Rupanya kesialan ini bertambah lagi. Loket Kereta Api Parahyangan jam 8.30 sudah ditutup dan loket hanya menerima pembelian Kereta Api Parahyangan jam 10.30 yang parahnya lagi kereta tersebut tidak berhenti di Stasiun Purwakarta (gedubrak!!!). kami berunding untuk memutuskan apakah masih tetap pengen menuju Purwakarta, jalan-jalan di sekitar Jakarta, atau pulang dengan tangan hampa tanpa pengalaman. Dengan aklamasi (padahal yg ikut cuma 3 orang termasuk aku) akhirnya diputuskan tetap menuju Purwakarta dengan Parahyangan jm 10.30, dengan plan B menuju Bandung. Untuk mengisi waktu yang kosong, kami jalan-jalan dulu menuju Monas….

Jam 10.30 kami langsung menuju kereta api Parahyangan di jalur 2. Menurut informasi yang didapat (kayak intel aja LOL) kereta ini berhenti di stasiun Jatinegara, Bekasi, Cikampek, dan terakhir di Stasiun Hall Bandung. Dengan optimisme yang sangat tinggi, kami yakin kereta api ini juga berhenti di Stasiun Purwakarta. Waktu terus berjalan dan kereta api melaju dengan cepat melewati Cibungur, Bungurasih, Wanasari, dan… Purwakarta… Akhirnya rencana wisata ke Waduk Jatiluhur gagal total dan terpaksa harus menjalankan plan B.

Jam 13.50 kami sampai di Stasiun Hall Bandung. Tujuan pertama adalah Dago, yang menurut berbagai sumber hasil googling merupakan pusat wisata kuliner di bumi priangan ini. Kami ke sana dengan naik angkot hijau rute St. Hall-Dago dan berhenti di Simpang Dago. Setelah mempilah-pilih warung dan rekomendasi teman di Bandung akhirnya kami memilih menu Nasi Bakar Spesial di salah satu warung dengan harga yang terbilang murah menurut kantong mahasiswa. Santapan ini sangat cocok dengan suasana bandung yang dingin. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Gedung Sate dan Monumen Perjuangan dengan angkot putih rute Dago-Riung Bandung. Setelah puas berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Raya Bandung dengan angkot hijau untuk menunaikan shalat dan beristirahat sejenak. Jam 6.40 melanjutkan jalan-jalan malam ke Jalan Braga. Ga terasa malam udah semakin larut dan kami makin kalut karena ga tahu pulang ke Jakarta naik apa. Dengan bertanya pada hampir tiap orang di jalan, kami mendapat informasi bahwa ada bus Damri menuju Terminal Leuwipanjang. Seperti orang hilang, kami menunggu di dekat Kantor Pusat KAI dan hampir saja naik bis yang salah (mulai error). Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bus Damri AC datang dan membawa kami ke terminal. Sesampainya di terminal, kami naik bus dengan tujuan akhir Lebak Bulus. Perjalanan ini begitu mengesankan…

Biaya:

Terminal Blok M-Gambir: Busway Koridor I= Rp 3500

Stasiun Gambir-Stasiun Hall: Kereta Api Parahyangan Kelas Bisnis= Rp 30.000

Stasiun Hall-Simpang Dago: Angkot Hijau= Rp 2500

Simpang Dago-Gedung Sate: Angkot Putih= Rp 2000

Gedung Sate-Masjid Raya Bandung: Angkot Hijau=Rp 2500

Jln Perintis Kemerdekaan-Terminal Leuwipanjang: Bus DAMRI AC= Rp 3000

Terminal Leuwipanjang-Lebak Bulus: Bus Primajasa AC Eksekutif= Rp 50000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 560 other followers